Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Harus tinggal bersama.


__ADS_3

Suasana menghening dengan ruangan santai yang dipenuhi dua pihak keluarga yang tengah bertemu saling meruakan wajah yang beragam. Tuan Ambana dan Nyonya Devanti menunjukan wajah tak sukanya pada Natalia yang hanya bisa duduk diam disamping Sam yang tenang bersandar ke Sofa singelnya.


Tuan Anderson duduk disamping Nyonya Maria di sofa panjang dekat Qyara yang tepat disebelah kanan Sam yang dihapit dua wanita yang menjadi inti Permasalahan ini.


"Jadi, keputusan Tuan Muda Sam untuk menceraikan Nona Qyara telah mutlak." ucap pengacara Erland pria muda yang bersikap profesional.


"S..Sam! aku tak mau kita bercerai."


"Berikan. suratnya!"


Pinta Sam datar pada Erland yang dengan cepat memberikan lembaran kertas dari Jaksa Pengadilan aggama. ia membaca surat itu dengan teliti membuat Natalia hanya bungkam ditempat, ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi termasuk keputusan Sam untuk menceraikan Qyara.


"Hak asuh Alfin. aku yang memanggangnya!"


"Tidak bisa!"


Bantah Nyonya Devanti tak terima. ia melempar pandangan muak pada Natalia yang tak menunduk melainkan tetap mempertahankan wajah datar seperti menyimak segalanya, wajah pucat dan tatapan sayu itu jelas membuktikan apa yang baru saja terjadi pada wanita ini.


"Aku ingin Alfin berada di pihakku."


"Iya. Sam! jika kalian bercerai, bagaimana dengan Alfin? dia pasti sangat terpukul."


Timpal Nyonya Maria membuat sudut bibir Sam terangkat sinis dan remeh. tangannya beralih meraih tangan lentik Natalia yang dibuat terperanjat.


"Dia punya Bundanya!"


"T..Tuan.."


Natalia sedikit tak nyaman karna semua orang benar-benar menjadikan mereka pusat perhatian. untung saja Natalia memakai syal menutupi lehernya tapi Sam sengaja tak menutupi bekas di pipi dan leher kekarnya sama sekali.


"Putraku Alfin. sedari kecil sudah terbiasa hidup tanpa kau! itu mudah baginya."


"Sam! kau tak bisa egois, Alfin membutuhkanku. aku Mamanya, Sam!"


"Aku tak mau punya Ibu sepertimu!!!"


Degg...


Seketika mereka terlonjak kaget akan suara teriakan kasar dipintu sana hingga terlihatlah Alfin yang datang bersama Maya. bocah itu berlari kecil mendekati Natalia.


"Bunda!"


"Alfin!"


Alfin naik kepangkuan Natalia yang dengan senang memeluk bocah tampan ini. keduanya terlihat dekat bahkan sangat dekat tak segan saling mencium membuat Qyara benar-benar terbakar panas yang membara.


Lama Tuan Ambana dan Nyonya Devanti menatap Alfin lalu memandang Qyara yang hanya diam mengepal.


"Alfin! apa maksudmu? Nak!" Nyonya Devanti lembut.


"Aku tak mau mempunyai Ibu yang hanya memperdulikan Karirnya. dia tak pernah menginginkanku."


"Alfin, Sayang! Ibu bekerja untuk.."


"Apa Harta Papa tidak cukup?"


Pertanyaan itu membungkam Qyara yang kaku. Sam hanya diam memainkam jari-jari lentik Natalia dipangkuannya, ntahlah ia tak bisa jauh dari wanita ini.

__ADS_1


"Alfin! Mama tahu Mama salah, tapi Mama janji, Nak! Mama..."


"Kau hanya perduli pekerjaanmu, Popularitas dan Ketenaran! Papa selalu mengirim uang dalam jumlah besar padamu tapi kau saja yang tak bersyukur!"


"Alfin!"


Sangga Natalia merasa kalimat itu terlalu pedih. kata itu juga tak pantas keluar dari mulut bocah 7 Tahunan ini tapi sayangnya Karakter Alfin terbentuk oleh pertengkaran kedua orang tuanya.


"Bunda! Alfin mau Bunda yang jadi Mama Alfin, Alfin Sayang Bunda."


"Tapi jangan bicara begitu, hm?" Natalia mengelus kepala Alfin lembut.


"Dia memang seperti itu. kalau dia masih menjadi Istri Papa! maka Alfin tak mau tinggal di Kediaman lagi."


Alfin membuat mereka semua diam dengan Tuan Anderson yang tersenyum kecil. anak sama bapak itu sama saja, sangat pandai memanipulasi keadaan.


"Sudah jelas. bahwa, Cucuku akan tinggal bersama Papanya!"


"Tapi, Sayang.."


"Ini keputusan terbaik! kalian juga tak bisa membujuk Alfin."


Sambung Tuan Anderson menyela ucapan istrinya. ia menatap tegas semuanya lalu berdiri tak ingin lagi melihat perdebatan tak berbobot ini.


"Kalian bisa mengunjungi Alfin tapi sesuai jadwalnya. dilarang masuk ke Kediamanku tanpa persetujuan dariku."


Tekan Sam berdiri tapi Qyara dengan cepat meraih tangan Sam yang dibuat mendingin.


"Sam! aku tahu kau masih mencintaiku, aku tahu itu!"


Sam menyentak kasar tangannya membuat Qyara mengembun. ia benar-benar tak tahu harus apa, ia sangat mengilai Sam yang merupakan pria sempurna baginya.


"Tapi, Putriku berhak tinggal di Kediamanmu selama Masa Iddahnya."


Perkataan Tuan Ambana membuat mereka tertegun dengan Natalia yang sedikit merasa tak nyaman. maksudnya apa? ia tak tahu apa itu Masa Iddah tapi mendengar tinggal bersama Natalia sedikit agak tak enak.


"Yah! kalian sudah punya anak, dan dulu saling mencintai! Qyara berhak menghabiskan masa Iddahnya di Kediamanmu." timpal Nyonya Divanti.


"Iya, Sam! kau harus adil!"


Sam menatap Tuan Anderson yang diam sejenak memandang Qyara yang berbinar seakan mendapat nafas baru. kalau sampai Qyara masih di Kediaman maka besar kemungkinan mempengaruhi hubungan mereka.


"Baiklah. dia akan tetap tinggal selama itu."


"Grandpa! aku .."


"Alfin! ini hanya sampai 3 bulan."


Tegas Tuan Anderson lalu melangkah pergi dengan Nyonya Maria yang melempar seringai licik pada Natalia. ia melangkah mengikuti suaminya diikuti Kedua orang tua Qyara.


"Aku harap kau bijaksana. Sam!"


"Hm, itu kewajibanmu!"


Keduanya pergi menyisakan mereka yang diam tanpa suara. genggaman Sam ketangan Natalia mengerat seakan tak membiarkan wanita itu melepasnya.


"Sam! Papa dan Mamaku benar, kita memang sudah bercerai tapi kau masih terikat denganku secara Aggama."

__ADS_1


"Hm. tandatangani itu, hak mu sudah usai setelah ditalak !"


Qyara dengan cepat menandatangi surat perceraian mereka dengan Sam yang sudah duluan memberikan goresan pena. rencana dikepala Qyara bergelut memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk wanita ini.


"Baiklah. ayo Sayang! kita..."


Sam mengelak saat Qyara ingin memeluknya tanpa malu sama sekali. Erland yang ada dibelakangnya pun ikut jijik tapi Tuan Mudanya terikat oleh hukum ini.


"Berlakulah sesuai statusmu."


"Apanya? kita masih tinggal bersama. aku masih ada hak akan Putraku!"


Bantah Qyara melirik licik Natalia yang masih belum paham. yang jelas tak akan ia biarkan Qyara kembali menyakiti Alfin putranya.


"Ayolah. kau perebut suamiku, jangan menatapku seperti itu." cela Qyara pada Natalia.


"Hm. mungkin kau lupa! siapa yang memberikan suami dan anaknya sendiri padaku? perlu ku ingatkan!"


Qyara menggeram dengan kalimat angkuh Natalia yang dengan sengaja menyandarkan kepalanya ke paha Sam yang berdiri.


"Kauu..."


"MANTAN istri!"


Sam tak tahan lagi dengan ucapan penyelamat Kumannya itu hingga ia langsung menggendong Natalia dan Alfin sekaligus membuat Erland tersenyum malu.


"Bunda. Bunda peggang leher Papa!"


"Nanti. Jatuh Alfin!"


"Makanya peggang. Bunda!"


Terpaksa Natalia membelit leher Sam yang tersenyum samar membawa dua orang berharga dalam hidupmya ini keluar meninggalkan Qyara yang ingin berteriak tapi disangkal Erland.


"Persiapkan untuk di Kediaman. Nona!"


"Sialan!!! kau!!!"


Maki Qyara tapi Erland mengambil surat diatas meja dan pergi hingga suaranya hanya ditelan keadaan.


"Sial!!! Sialan!!!"


Qyara memporak-porandakan semua ruangan hingga akhirnya ia menatap kearah pintu keluar semua orang tadi. nafasnya memburu dengan wajah jahat meruak menguasai jiwanya.


"Baiklah. 3 bulan! aku akan merebut kembali Sam ku, dia akan kembali jatuh padaku apapun terjadi akanku lakukan."


Geram Qyara kembali bersikap tenang seperti orang sakit jiwa uang suka berubah-ubah. ia sudah mencari tahu latar belakang Natalia. dan ia akan menggunakan orang-orang terdekat wanita itu sebagai senjata.


"Cih. Natalia! bagaimana dengan Papamu, hm?"


Qyara menyerjngai jahat lalu menarik kecil mengibas rambutnya. berbahagialah sampai tiba waktunya badai menghantam.


"Papamu! Papamu, Natalia Sayang!!!!"


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2