Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Sikap Aneh!


__ADS_3

Suasana meneggangkan itu masih terekam jelas dimata mereka semua. persiteggangan yang terjadi sampai membuat keluarga yang selalu dikira orang luar itu harmonis seketika berpecah tak sesuai keinginan.


"Sam! kau menikahi Natalia itu hanya untuk mengasuh Alfin, bukan sebaliknya."


Nyonya Maria yang bersikeras menekan Sam untuk berbalikan dengan Qyara. Sam terpaksa datang karna juga ada urusan dengan Dadynya, namun. disini ia malah diuji dengan sikap arogan Momynya.


Tuan Anderson yang sedari tadi mendengar desakan istrinya pun menjadi geram. wanita ini sama sekali tak pernah mengerti hati dan posisi putranya.


"Itu keputusanku!"


"Sam! kau ingat perjuanganmu mendapatkan, Qyara! kau sendiri yang berjanji tak akan mencampuri Karirnya jika kalian me.."


Brakkk ...


Nyonya Maria terkejut saat Sam menerjang meja kaca dihadapannya hingga pecah dengan suasana yang mengkelam wajah Sam juga mengeras bahkan begitu mendidih.


"Kalian sangatlah cocok."


"S..Sam..."


"Kau Ibuku. aku menghormatimu dengan status itu." Ucap Sam mulai tak bisa menahan diri.


"Itu karnanya, Sam! Momy sangat menyayangimu, Nak! kau tak akan pernah bahagia dengan wanita kampungan itu."


"SETIDAKNYA DIA TAK SEPERTI KALIAN!"


Tekan Sam lalu ingin berdiri tapi tatapan tegas Tuan Anderson membuat ia terhenti dengan pemahaman yang mengerti akan apa yang disyaratkan pria paruh baya ini.


"Kau pergilah!"


"Tapi .."


"Aku sudah membiarkanmu bicara."


Akhirnya Nyonya Maria pasrah saat Tuan Anderson sudah menekannya meninggalkan ruangan ini. ia sangat dongkol dengan pendirian Sam yang sangat ia benci.


Sekarang, tinggalah mereka berdua yang menikmati keheningan dengan pandangan tajam masing-masing, wajah yang terlihat sama-sama mengeras dan bukan orang lokal.


"Ada apa?"


Tuan Anderson membuka pembicaraan karna ia tahu ada hal yang ingin Sam bahas.


"Istriku ingin menemui. Mamanya!"


"Lalu?"


"Wanita itu sudah meninggal."


Tuan Anderson diam dengan raut wajah yang sulit Sam tebak. tak ada terkejut tapi sepertinya Dadynya sudah tahu tentang ini.


"Dad!"


"Hm."


"Permintaanya Gila!"


Decah Sam yang khawatir. Natalia itu sosok yang nekat, wanita itu sangat ceroboh dan juga selalu pura-pura tegar. ia takut jika nanti Natalia mengambil keputusan yang membuat ia jatuh sedalam-dalamnya.


Melihat raut cemas Sam membuat Tuan Anderson terdiam sejenak. baru kali ini ia melihat putranya yang dulu baru mengenal rasa suka pada seseorang tapi sekarang terlihat menunjukan Cinta yang sesungguhnya.


"Bukankah dia sangat menginginkan kasih sayang, Papanya?"


"Yah. tapi dia lebih dekat dengan Mamanya. aku hanya khawatir Si ceroboh itu akan bertindak tak masuk akal." Ucap Sam berfikir keras.


"Dia hanya butuh satu Tujuan, dia gadis yang ambisius. berani dan selalu mementingkan orang lain."


Sam terdiam dengan jawaban Dadynya. Tuan Anderson memejamkan matanya seakan mengenang sesuatu.


"Menyukai hal yang sederhana tapi menyenangkan, dia suka pisang goreng!"


Tuan Anderson terkekeh kecil membuat Sam cukup bingung bahkan ia tak bisa menyambung kata karna ia mengenang ucapan Natalia yang juga sangat menyukai makanan satu itu.


"P..Pisang Goreng?"

__ADS_1


"Hm. disedu dengan Teh daun Kelor. sangat menyenagkan."


Sambung Tuan Anderson berdiri dengan wajah tenang menatap Sam yang dibungkam.


"Buat dia mencintaimu tanpa beban, bertahanlah sekuat yang kau bisa."


"Mak..Maksudnya?"


Tanya Sam tak mengerti. kenapa tiba-tiba dadynya bersikap aneh begini?


"Kau akan mengerti saat banyak yang menginginkannya."


Tuan Anderson melangkah pergi meninggalkan ribuan pertanyaan dibenak Sam. maksudnya apa? kenapa Dadynya lebih tahu tentang Natalia dibanding dirinya?


Lama Sam terdiam lalu mengusap wajahnya kasar. ia benar-benar susah mencari tahu soal Dadynya karna Klan yang ia pimpin itu juga ia bangun sesuai pantauan pria itu.


"Tunggu, kalau memang Istriku dan dia dekat, pasti saat pertama bertemu sudah tak begitu asing. tapi..."


Sam berfikir keras. sangat aneh jika Dadynya berekspresi semisterius itu, biasanya pria itu sangat malas mencari tahu karakter orang lain.


"Tuan!"


Fagan membuyarkan Sam yang segera menormalkan raut wajahnya dan berdiri melangkah keluar ruangan.


"Hm."


"Tuan Muda Yuchin mengajak anda bertemu besok."


"Aku tak berminat."


Acuh Sam melangkah keluar. ini sudah larut dan ia sudah lama meninggalkan Kediaman apalagi rasa rindunya pada wanita itu begitu menggunung.


"Tapi, dia bilang ini sangat penting."


"Biarkan dia membawa wanita liar itu."


Datar Sam terus melangkah seraya memeriksa ponselnya menuju pintu keluar dengan para pengawal yang sudah mengawal ketat area Villa ini.


"Baik. Tuan!"


....................


Pijaran lampu Kediaman itu terlihat sangat remang mengelilingi Kediaman megah yang dijaga ketat oleh para penjaga. gelapnya malam ini seakan menambah kesan magis pada Kediaman Bilions yang sunyi karna malam sudah menjemput rembulan yang tengah memancar terang.


Cahaya remang itu dimanfaatkan oleh sekelompok orang berpakaian hitam untuk memantau dari arah jalan. beberapa diantara mereka bahkan bersembunyi dibalik Tembok besar yang sama sekali tak bisa di loncati sembarangan.


"Sial!! lewat belakang."


Mereka mengendap-endap menuju jalan belakang Mansion yang jauh diujung sana. dedaunan kering itu dipijak pelan dengan tepisan ranting yang dihindarkan.


"Kau duluan!"


Salah satunya langsung menyalip diantara pepohonan belakang menghindari penjaga yang tengah memantau disamping mereka. pergerakan yang sangat teliti bahkan begitu mahir menghindari bahaya.


Namun, mereka sangat sulit masuk karna Gerbang belakang ditutup dan memerlukan waktu membobolnya.


"Dia tak akan pulang secepat itu. kalian punya waktu untuk masuk."


"Akan kami coba."


Mereka berusaha membobol penjagaan dibelakang, tapi sangat susah karna disini banyak para penjaga yang berkeliaran seakan tak lelah terus lalu lalang.


Setelah memakan waktu yang lama 3 diantara mereka meloloskan diri di Gerbang belakang dan 2 sisanya berjaga didekat tembok memantau situasi, Earpice ditelinga tengah berfungsi menghubungkan dengan sang pimpinan.


"Cepatlah!"


"Kami sudah masuk, Nyonya"


Ucap salah satunya masih bersembunyi balik pepohonan didekatnya. ia mulai melangkah pelan mencoba mencari jalan masuk yang aman sesuai apa yang diperintahkan.


"Jangan kearah samping! itu ada CCTV!"


Mereka memutar arah menuju bagian atas dimana ada Atap yang bisa diloncati melalui tiang yang ada didekat mereka. tentu dengan terlatih ketiganya berhasil memanjat keatas bahkan tanpa meninggalkan jejak.

__ADS_1


"Cari surat-surat itu!"


"Baik!"


Mereka segera mencari kearah atas memanjat lantai demi lantai seakan tertuju pada satu misi yang sangat misterius. suara berisik dari Bangunan belakang pun terdengar seperti para Pelayan tengah berbicara menelan kemalaman.


Mereka menyelinap sesuai dengan rencana. sesekali mereka terengah karna Bangunan ini sangat megah dan tak tahu dimana kamar wanita itu.


"Diatas lantai dasar!"


"Sepertinya sangat jauh. Nyonya!"


Jawab mereka meliarkan mata. tapi mata mereka terbelalak saat melihat rekannya memerintahkam untuk kembali karna Mobil mewah Pria itu sudah melewati jalan didepan sana.


"Sial!! kenapa secepat ini?"


Mereka bergegas meloncat keluar kembali berlari kearah Gerbang belakang dengan umpatan kasar dari pimpinan mereka diseberang sana. kalau sudah tak sesuai rencana begini, mereka tak bisa asal masuk kandang singa yang selalu berubah-ubah sistem bangunanya.


Sementara didepan sana. Mobil yang dikemudikan Fagan sudah masuk kedalam Gerbang Utama dengan para pengawal yang siap siaga memberikan penjagaan.


"Silahkan. Tuan!"


Sam keluar dari Mobil dengan pakaian santai tadi.


"Tuan!"


"Alfin!"


"Tuan Kecil tidur, Tuan!"


Jawab para pelayan memberikan tisu basah dan mantel hangat karna Sam hanya mengenakan baju kaos lengan pendeknya saja. langkah pria itu menapaki lantai dasar Kediaman dengan mata yang menajam.


"Istriku!"


"Nona Natalia tadi menemani Tuan Kecil."


Sam mengangguk datar menyambung langkahnya keatas tangga. wajahnya terlihat lelah mengurus perdebatan Momynya yang mendesak agar berbalikan dengan Qyara yang Notabentnya tak ada lagi hubungan apapun dengannya. tapi tetap saja wanita itu terus mempermasalahkan apapun.


Fagan yang ada dibelakang Tuannya tengah memberi pesan pada anggota mereka yang memberi tahu kalau data itu sudah ada di meja kerja Sam.


"Tuan!"


"Hm?"


"Datanya sudah di meja anda."


"Hm. kau pergilah!"


Fagan mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan Sam yang sudah ada didepan kamar Alfin. ia menekan gagang pintu pelan hingga matanya langsung tertuju pada ranjang King-Size yang tengah menampung dua orang yang sangat membuat rasa lelahnya menghilang.


Ia mendekati ranjang dimana Natalia tengah memeluk Alfin yang dengan penuh kasih membenamkan wajahnya kebelahan dada empuk sang bunda. satu kaki bocah itu juga naik ke atas paha Natalia yang tertidur lelap memakai Piyama tidurnya.


"Kau sudah tidur. hm?"


Sam duduk disamping tubuh Natalia yang berbaring menyamping memunggunginya, wajah cantik damai wanita ini membuat beban yang dipikul Sam meringan begitu saja.


Ia mulai membaringkan tubuhnya seraya memeluk Natalia dari belakang, wajahnya terbenam kerambut panjang harum wanita ini membuat Natalia yang merasa dipeluk eratpun mulai membuka matanya.


"Tuan!"


"Kau bangun?"


Tanya Sam masih enggan mengubah posisi. Natalia tak bisa bergerak sama sekali karna dihapit dua tubuh ayah dan anak ini.


"Tuan sudah makan?"


"Aku mau memakanmu!"


Degg...


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2