Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Membuatmu menghamili Bundaku!


__ADS_3

Sam membuka pintu kamar Alfin dengan pelan karna tak ingin membuat bocah itu kembali bangun dan memulai perdebatan. untung saja dilantai atas tempatnya tak lagi ada para pelayan yang bekerja hingga Sam bebas berkeliaran dengan handuk yang masih menutupi pinggang dan pusaka perkasa itu.


Ia melangkah mendekati ranjang dimana Alfin tengah berbaring memunggunginya. Sam dengan hati-hati mencari dimana Ponsel bocah ini karna Natalia tak menjawab panggilan yang ia lakukan secara berulang kali.


"Dimana ponselnya?"


Gumam Sam membuka laci meja dan merotasikan mata tajamnya kesemua penjuru ruangan hingga pandangan menyipit Sam langsung menghunus satu benda yang terhimpit bantal yang digunakan Alfin untuk menyangga kepalanya.


Dengan sangat perlahan seakan tengah berjuang menjalankan misi dilingkungan musuh. Sam mengulur tangannya menarik benda itu berhati-hati hingga beralih digenggamannya.


"Shitt! dia sangat cerdas."


Gumam Sam mengumpati putranya sendiri karna kunci Ponsel Alfin ia tak tahu. apalagi Alfin juga kurang dekat dengannya hingga ia tak memeriksa benda ini.


Sam mencoba beberapa beberapa sandi tapi masih salah. ia mulai duduk ditepi ranjang mencerna apa yang begitu berarti bagi bocah ini? sedetik kemudian Sam membayang pada Natalia hingga ia menuliskan nama itu dipapan ketikannya hingga..


"Yeah!!"


Sam senang bukan kepalang saat layarnya telah dibuka. tapi, mata Sam langsung dihadirkan dengan Walpaper dimana Natalia tengah tersenyum mencium pipi Alfin yang tengah memeggang kamera ponselnya. keduanya terlihat seperti ibu dan anak yang sesungguhnya.


Jari Sam bergulir mencari Galery Ponsel ini hingga sudut bibirnya terangkat melihat foto-foto lucu dan menggemaskan dua manusia yang sudah terikat dengan tulus. disini penuh dengan foto Natalia bersama Putranya tapi satu yang menyita perhatian Sam.


"Kenapa ini disembunyikan?"


Gumam Sam saat ada file yang tak bisa dibuka dan harus menggunakan sidik jari Alfin. pikiran Sam berkelana kesemua arah sampai ia menghela nafas panjang mencoba mencari jalan keluar atas semua masalah ini.


"Kau harus menentukannya. aku tak ingin Alfin terlalu lama ditekan keadaan."


Gumam Sam pada dirinya sendiri. jika Alfin memang menginginkan Natalia maka ia akan berusaha menerima apapun resikonya nanti.


Setelah lama merenggu akhirnya Sam yang tak sabaran segera menghubungi kontak Natalia yang bertulisan Bunda di Ponsel putranya. ia menormalkan raut wajahnya menjadi datar seakan baik-baik saja.


"Angkatlah."


Gumam Sam tak tenang terus menatap layar ponselnya melakukan Vidio Call. lama Sam menunggu dengan jantung yang berdebar kuat, bagaimana kalau Natalia mengatakan ia tak mau pulang? apa yang akan ia jawab?


"Alfin!"


Sam berbinar cerah melihat wajah seseorang yang baru beberapa jam meninggalkan Kediaman ini sudah membuatnya terasa sulit beradaptasi. perasaannya diaduk sampai Sam sulit mengendalikan dirinya


Wajah cantik Natalia terlihat begitu segar seperti habis mandi. padahal ini sudah jam 12 membuat mata Sam menyipit. ia pria yang sudah menikah tahu pikiran liar itu kemana?


"Tuan. kemana Alfin? kenapa kau yang mengangkat ponselnya?"


"Alfin tidur!"


Sam berucap datar seolah tak berminat padahal ia menikmati wajah ayu nan lembut Natalia yang tengah berbaring diatas ranjangnya. bibir pink segar itu terlihat ranum mengerucut melihat jam.


"APA Alfin bisa tidur?"


"Baru saja tidur. dia memintaku menelfonmu tapi dia sudah nyenyak duluan."


Elak Sam bersandar kekepala ranjang dengan rencana memulai percakapan dibenaknya. ia agak gugup mengatakan soal tadi karna Natalia terlihat tak begitu banyak bicara


"Kalau begitu. sudah dulu dan .."


"Yang tadi itu tak benar!"


Dahi Natalia mengkerut dilayar sana dengan wajah heran menatap wajah Tampan Sam yang begitu mempesona dengan bulu tipis dirahang tegasnya. dada bidang itu membuat Natalia gagal fokus dan hanya berusaha acuh.


"Maksudnya?"


"Kau salah paham. aku salah sebut saat kau menelfon tadi."


"Ouh. yah! aku mengerti, Tuan! kau tenang saja."


Natalia berucap gamblang dan tak terlihat cemburu atau marah. senyuman hangatnya masih dipertahankan seakan tak masalah atas apa yang baru saja terjadi.


Tentu Sam merasa kecewa melihat respon Natalia yang biasa saja bahkan terkesan mengacuhkannya. apa dia tak suka padaku?

__ADS_1


"Tuan!"


"Hm."


Sam berubah dingin membuat Natalia cukup syok dengan suara itu. wajah Sam juga tak seperti tadi yang datar tapi bersahabat tapi sekarang malah seakan menatapnya dengan intimidasi yang kuat.


"Ada apa?"


"Tidak ada."


"Apa aku salah?"


Sam hanya diam seakan membatu membuat Natalia serba salah. memangnya ada apa? kenapa tiba-tiba jadi aneh? benak Natalia sedang berkecamuk mencoba mencerna sikap Pria ini.


"Tuan!"


"Hm."


"Pakailah selimut atau pakaian! disana itu cukup dingin dimalam hari!"


"Hm."


Sam berbaring didekat Alfin yang sesungguhnya tak tidur bocah itu baru saja selesai menangis sendirian karna memikirkan bentakan Papanya barusan. tapi nyatanya berulang kali Sam berbalik dengan apa yang dia katakan.


"Kapan aku masuk kerja?"


"Besok!"


"Tuan. apa bisa aku.."


Mata Sam sudah menyala seakan menelan Natalia yang menegguk ludahnya berat dan segera menggeleng tak ingin menambah jadwal rantauannya.


"Kau bekerja sesuai aturan Perusahaan. besok kau ke lokasi Syuting."


"Tapi. mana bisa? kan aku sudah bilang kalau aku 1 hari dirumah ini."


"Tak ada BANTAHAN." tekan Sam angkuh.


"Hm. baiklah! aku akan membuat satu Perusahaanmu puas dengan kinerjaku. Tuan."


Natalia terlihat percaya diri berbeda dari sebelumnya. tentu Sam senang dengan sikap tegar wanita ini selalu berdiri walau setinggi apapun ombak dihadapannya.


Lama tak ada pembicaraan selain saling menatap wajah dilayar ponsel masing-masing. keduanya betah begini tapi Natalia tahu batasannya sebagai seseorang yang hanya pengganti Ibu bagi Alfin.


"Tuan!"


"Hm."


"Kau harus membawa Istrimu pulang kembali bersama kalian."


"Aku tak ingin membahasnya."


Sam yang begitu malas mendengarkan masalah Qyara. otaknya sudah lelah memikirkan wanita itu dan setiap hari ada saja masalah yang datang hanya karna dia.


"Tapi. Alfin butuh sosok Ibu yang selalu mendampinginya setiap waktu. cobalah memulai dari awal!"


"Aku sudah pusing dengan dia."


Lirih Sam terlihat tertekan. mau bagaimana lagi mengurus Qyara maka wanita itu juga akan egois mementingkan karirnya yang tak seberapa dari uang yang terus Sam kirim ke Rekeningnya.


Melihat itu Natalia cukup paham. mungkin ia bisa membantu Sam untuk kembali bersama Qyara karna jujur Natalia sendiri takut berlama-lama seperti ini karna ia juga wanita normal. Sam pria yang nyaris diidamkan seluruh wanita termasuk dirinya sendiri tapi Natalia masih sadar batasan hubungan mereka.


"Tuan sudah makan?"


Sam menggeleng menyangga kepalanya dengan satu tangan tanpa mengalihkan mata dari wajah cantik Natalia yang membuat beban yang tadinya berat perlahan terlupakan begitu saja.


"Kenapa? apa tak ada yang memasak?"


"Tak ada yang menyuapiku!"

__ADS_1


Tawa Natalia langsung pecah merasa geli dengan hcapan Sam tadi. ia berfikir itu hanya candaan tapi nyatanya Sam tak bergurau sama sekali, ia jelas mengatakan dengan serius.


"Jangan seperti anak kecil! kau sudah besar. Tuan! malulah pada jakunmu."


"Siapa saja yang kau temui hari ini?"


Sam mencoba mengalihkan perhatian agar tak terlalu sesak saat melihat Natalia menertawakannya.


"Tadi. emm.. tidak ada. hanya orang dekat-dekat sini!"


"Laki-laki perempuan?"


"Campur! kan disini orangnya banyak. haiss... sudahlah. aku mau tidur!"


Natalia tak mematikan sambungannya karna Sam tak kunjung melakukannya. tak sopan rasanya kalau ia mematikan lebih dulu.


"Tidak usah dimatikan. letakan disamping bantalmu."


"Tuan! ayolah.."


"Cepat!"


Tekan Sam hingga terpaksa Natalia menurut meletakan disamping bantalnya hingga wajah cantik itu


jelas Sam lihat dengan tenang.


"Kalau Alfin marah batrai ponselnya habis itu bukan salahku!"


"Hm."


Sam berbaring menyamping meletakan ponselnya ke pinggir bantal Alfin yang dengan jengah mendengarnya. ia harus membuat satu rencana agar Papanya siap menerima Bundanya.


"Tapi apa Bunda tak sedih jika aku lakukan ini?"


Batin Alfin agak tak tega melakukan hal selicik ini. tapi menunggu Papanya bergerak menceraikan wanita itu maka bulanpun akan jatuh karna lama menunggu perceraian mereka.


"Tidurlah!"


Degg...


Alfin terkejut saat kaki kekar Sam menindih pahanya membuat Alfin mulai merasa gugup takut Papanya tahu apa yang akan ia rencanakan.


"Kalau dia mau padaku. itu tak masalah, jika tidak aku tak bisa memaksa."


"Memangnya kau mau?"


Alfin berbalik menatap Sam yang dihadapkan dengan mata sembab putranya. ia tak pernah bisa melihat bagian dari dirinya ini terus dilanda tekanan yang merusak mentalnya. sayangnya Natalia sudah terlihat lelap diseberang sana tak mendengar itu semua.


"Akan ku pikirkan."


"Jangan terlalu lama berfikir. Bunda bisa duluan diambil orang."


"Diamlah!"


Alfin memiringkan bibirnya sinis dengan seringaian yang tiba-tiba muncul dilengkungan mungil itu. enak sekali memakai namanya untuk melepas keinginan sendiri.


Perlahan Alfin mencari cela saat netra Sam terpejam mengulur tangannya kelayar Ponsel.


"Selamat malam. Bunda!" Alfin dengan cepat mematikannya hingga ..


"ALFIN!!!!"


Alfin dengan cepat masuk kedalam selimutnya setelah teriakan keras Sam yang benar-benar dilanda kedongkolan yang membuncah.


"Lihat saja. akan ku buat kau menghamili Bundaku!"


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2