Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Kenapa tidak?


__ADS_3

Tangis tertahan itu masih terdengar dengan pintu kamar mandi yang tertutup rapat menelan seorang bocah yang tadi langsung berlari ke tempat persembunyiannya. Natalia yang tengah berada di luar pintu kamar masih memberikan ruang bagi Alfin yang seperti biasa menghancurkan barang-barang didalam sana.


"Tinggalkan aku sendiri!!!!"


Suara bentakan Alfin yang marah pada Natalia karna lebih membela Papanya. padahal sudah jelas pria itu ingin mengurungnya terus selama bertahun-tahun termasuk menerapkan sistem Home Schooling padanya.


Sam melihat itu dari depan pintu sana. suara barang-barang berjatuhan pun ia dengar keras dengan bentakan kasar Alfin yang begitu arogan.


"Dia jahat!!! hiks, dia hanya mau mengurungku!!!"


"Alfin! sayang, kenapa bicara begitu. hm?"


Natalia merapat ke pintu kamar mandi seraya mengetuk benda keras itu pelan menyalurkan rasa hangat dan ketenangan bagi bocah ini.


"Kenapa dia harus pulang?? tak usah perduli padaku!!!"


"Alfin! kalau kau tak keluar maka aku tak mau jadi Bunda mu."


Tak ada sahutan dari dalam sana hingga Sam mendekati Natalia yang masih enggan membalikan tubuh untuk pergi. ia sangat sabar menghadapi sikap kasar putranya.


"Biarkan dia sendiri!"


"Apa?" Natalia menoleh menatap wajah tampan datar Sam yang berdiri dibelakangnya. kedua tangan pria itu masuk ke kedua sisi saku celananya menatap pintu itu dingin.


"Dia sudah biasa seperti itu."


"Tuan! aku memang bukan ibu kandungnya atau yang melahirkannya, tapi aku sangat menyayangi Alfin selayaknya anak-anak biasa. kenapa anak seumuran dia harus anda kunci dan di tetapkan peraturan yang merampas masa mudanya dan.."


"Kau tak tahu apapun!"


Geram Sam benar-benar misterius. jiwa kerasnya terlihat nyata dimata polos Natalia yang tak pernah bisa menebak apa yang ada dipikiran pria ini?


"Tapi.."


"Bunda!"


Natalia tersigap saat paha belakangnya dipeluk hangat oleh lengan mungil Alfin yang enggan menatap Sam tengah memandangnya. sesenggukan itu masih terdengar samar bahkan Alfin tak ingin menunjukan wajahnya.


"Sini Sayang!"


Natalia berbalik menggendong ringan Alfin yang berkoala padanya. Natalia mendudukkan tubuhnya ke pinggir ranjang seraya melihat wajah sembab Alfin yang terlihat masih menyimpan kesal pada Papanya


"Sudahlah. ketampanan mu berkurang kalau menangis."


"Hm. suruh dia keluar!"


Alfin masih membenamkan wajahnya ke belahan dada empuk Natalia yang mengusap kepala keangkuhan ini lembut bahkan tak segan untuk mengecup puncak kepala Alfin penuh kasih membuat Sam tertegun diam.

__ADS_1


"Alfin tak boleh bicara seperti itu."


"Kenapa? dia sama sekali tak pernah perduli padaku. dia hanya perduli pada pekerjaan dan wanita itu, selalu wanita itu. kalau kami bertengkar dia akan membentak ku !!! dia tak pernah perduli ku!!"


Kepalan tangan Sam menguat menahan gejolak hati dan rasa sesak. wajah datarnya masih belum menunjukan respon fanatik padahal dadanya sudah di bongkem dengan ucapan menyakitkan dari putranya sendiri.


"Kenapa aku harus ada? kalau mereka tak menginginkan ku, Bunda. hiks!"


"Suttt!!"


Natalia mengusap punggung bergetar Alfin yang telah berubah mencurahkan segalanya. bocah ini memang terlihat tegar tapi ia sangat membenci kehidupamnya selama bertahun-tahun.


"Aku benci mereka, hiks! wanita liar itu aku membencinya!!!"


Tak tahan lagi berdiri ditempat yang sama. Sam mengulur langkah cepatnya kearah pintu tapi lengannya langsung di cengkal Natalia yang menatap wajah dingin Sam penuh kedamian


"Duduklah!"


"Kau.."


Natalia menarik pelan hingga mau tak mau Sam duduk disamping Natalia yang tersenyum hangat mengusap bulir air mata di pipi mulus Alfin si bocah Tampan arogannya.


"Lihat wajah Papa!"


Alfin menggeleng masih enggan mengangkat wajahnya dari bantalan empuk ini membuat Sam merasa sangat tertekan.


"Mana yang lebih tampan? Alfin atau Papa Sam!"


Jawab Alfin angkuh membuat sudut bibir Sam terangkat mengukir lengkungan sensual.


"Bunda tak percaya!"


"Aku. Bunda!! dia jelek dan tak berwarna!"


Kesal Alfin mengangkat wajahnya seraya menghujam kesinisan pada Sam yang hanya diam membiarkan Natalia melakukan apapun yang dirasa perlu.


"Benarkah? tapi wajah Papamu lebih Tampan. coba senyum!"


Sam menautkan alisnya saat Natalia menatapnya tajam hingga mata bulat dibalik kacamata tebal itu terlihat sangat menggemaskan.


"Senyum. Tuan!"


"Hm."


Sam terpaksa menarik sudut bibirnya dengan pesona yang membuat siapa saja enggan berpaling termasuk Natalia yang berusaha mengendalikan dirinya.


"Dia menjiplak wajahku!"

__ADS_1


"Kau putraku. tentu kau menuruni ketampananku!" sangga Sam tak mau kalah.


"Aku lebih tampan. iya kan, Bunda?"


Natalia mengangguk menarik tatapan penghakiman Sam yang tak setuju tapi Alfin sudah tersenyum bahagia begitu merasa menang dan bangga.


"Ya sudah. kalau begitu, Alfin mandi lalu makan dibawah. Bunda mau bersihkan kamar mandi."


"Tapi, aku lapar!" Alfin mengusap perutnya membuat Natalia tersenyum geli.


"Ya sudah. turun kebawah untuk makan dan Bunda akan bersihkan yang ini dulu."


"Bunda ikut. makan! biarkan dia yang bersihkan!"


"Em. hanya sebentar! Alfin duluan ke bawah, hm?"


Akhirnya Alfin menurut melangkah turun dari pangkuan Natalia yang tak lupa menghadiahkan ciuman ke kening mulus itu dan barulah Alfin keluar kamar.


Sam juga ikut merasa lega melihat Putranya tak lagi mendung seperti biasanya.


"Dia hanya perlu waktu dan pendekatan bersamamu. Tuan!"


"Hm. dia tak akan bisa menerimaku kembali." suara Sam terdengar putus asa tapi seketika ia termenggu saat Natalia tanpa sadar menggenggam tangan kekarnya lembut bahkan kehadiran wanita ini membuat Sam yang selalu mendapatkan semuanya tapi tak pernah tenang itu mendapatkan kedamaiannya.


"Kenapa tidak? jujur dimata Alfin dia begitu merindukan sosok Ayah. betapa bahagianya bermain bersama, di puji penuh kasih dan selalu di peluk hangat. itu impian semua anak."


Sam beralih menatap mata Natalia yang terlihat menggeneng. raut kerinduan, gejolak hati bahkan terlihat jelas dinetra beningnya.


"Jangan jadikan Alfin seperti anak-anak diluar sana yang mengemis cinta dari..."


Natalia tersenyum miris menghapus lelehan bening di pipinya saat merasa teriris membayangkan perasaan Alfin yang sama sepertinya.


"Dari... Ayah. emm.. dicintai itu sangat membahagiakan dan.."


Sam lansung merangkuh tubuh Natalia ke pelukan kokohnya sampai genggaman keduanya mulai menguat meyakinkan diri masing-masing.


"K..kami hanya butuh kasih sayang dan.. dan tak pernah ingin meminta lebih dan ..."


Natalia tak mampu melanjutkan ucapannya dengan suara bergetar ia menangis bersandar ke dada bidang Sam yang sukarela memberi topangan.


Jarak diantara keduanya terkikis sampai Sam benar-benar berubah hangat mengusap kepala Natalia yang begitu merasakan kenyamanan. ia mulai merindukan Papanya ketika selalu melihat Alfin menatap Sam seperti meminta belas kasih.


"A.. aku..aku tak pernah ingin m..meminta harta dan.. dan yang lain. hiks! aku.."


Sam tak mengeluarkan sepatah katapun selain memberikan belaian lembutnya ke kepala Natalia yang benar-benar tak sadar ia tengah dipeluk hangat oleh seorang pria yang saat malam itu melempar cincin


pernikahan ke wajahnya.

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2