
Malam pun berlarut. Sekarang mereka tengah makan malam bersama di ruangan rawat Natalia yang memang begitu luas dan lengkap. Ini seperti rumah yang bisa didiami kapan saja.
Mereka bergabung bersama termasuk Daychi dan Zuan yang telah membersihkan diri. Mereka rencananya akan pulang setelah ini tapi Daychi tak rela melepas si kecil itu hingga sedari tadi Baby Elis tidur terus digendongannya.
"Lihatlah! Queenku sudah mulai nyaman dengannya. Sayang!" gerutu Sam seraya menyuapi Natalia yang hanya mengulum senyum.
Tuan Anderson dan Nyonya Maria juga ikut makan di sofa sana dengan Alfin yang ada dipangkuan Maya dan Fagan di atas karpet tak jauh dari mereka
"Sudahlah. Baby jadi ada yang menjaga. lagi pula Kakak hanya sebentar, dan setelah itu suamiku yang tampan ini akan mengurusnya." ucap Natalia menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Sam yang hanya tersenyum kecil mengecup kilas puncak kepala istrinya.
"Em. Sayang!"
"Hm? ada apa?" tanya Natalia saat Sam menyuapkan bubur terakhir ke mulutnya.
"Tidak jadi." jawab Sam mengusap bibirnya yang sedikit belepotan membuat mata Nyonya Maria membelo jengah. Sedari tadi Sam tak mau beranjak dari ranjang istrinya dan hanya keluar untuk mandi dan membersihkan diri.
"Bunda!"
"Iya. Sayang?" Natalia menatap Alfin yang tampak sudah mulai lahap tak seperti biasanya.
"Mau punya Alfin?" menyodorkan makanannya.
"Tidak. Sayang! kau makanlah, Bunda sudah kenyang!" tolak Natalia lembut membuat mereka tersenyum hangat.
Sam menatap segalanya dengan sendu. Senyuman yang mekar dari bibir semua orang yang ada disini begitu seakan mimpi baginya.
"Benarkah hidupku akan sebahagia ini?"
Batin Sam menatap kearah Tuan Anderson yang tampak mengupaskan buah untuk Alfin dan semuanya terlihat hangat. Candaan kecil yang mewarna ruangan ini membuat Sam begitu asing.
"Mau?" Natalia menyodorkan sepotong apel yang tadi sudah dipotong Sam diatas piring.
"Sayang?" tanya Natalia lagi menyadarkan Sam dari lamunanya dan segera melahapnya membuat Natalia mengecup kilas pipinya.
"Terimakasih!" ucap Sam tulus memeluk erat Natalia yang bingung.
"Untuk?"
"Semuanya!"
Jawab Sam menatap dalam wajah cantik istrinya seraya mengunyah potongan Apel di mulutnya. Ia menyelipkan anak rambut Natalia ke belakang telinga untuk lebih leluasa melihatnya.
"Sayang! kau tak akan kenyang memandangku terus." decah Natalia menutup wajahnya dengan selimut membuat Sam mengulum senyum langsung mengunyel pipi lembut wanita itu.
"Kau itu kuman menggemaskan!!"
"Benarkah?" tanya Natalia mengerijab malu dipelukan erat suaminya.
"Hm. lain kali kau akan ku pasung di ranjangku saja."
"Boleh! asal.."
Natalia mulai mengelus brewokan tipis milik Sam yang membuatnya terlihat dewasa dan sangat seksi.
"Asal kau ikut bersamaku."
"So sexsi!" bisik Sam membuat keduanya terkikik akan candaan mesumnya. Daychi hanya menatap kilas dan memilih meredam rasa sakitnya. Ia sudah senang jika Natalia sebahagia itu tak menangis sepanjang malam saat bersamanya. Lagi pula sikecil ini sudah lebih dari cukup untuk pria sepertinya.
"Ehm!! minta perhatiannya sebentar."
Tuan Anderson berdiri dari duduknya membuat mereka menatap bingung tapi Sam hanya diam karna ia sudah tahu dan ia yang merencanakannya.
"Ada apa? Grendpa?" tanya Alfin berdiri mendekat.
"Karna malam ini sangat spesial jadi aku ingin mengajak seseorang yang juga spesial."
Mereka saling pandang tak mengerti tapi Nyonya Maria juga tak berharap. Sikap dingin Anderson padanya sudah ia kenal sejak pertama menikah. Kehadiran Sam hanyalah jebakan satu malam untuknya.
"Menantu!" panggil Tuan Anderson membuat Natalia kebingungan tapi Sam meyakinkannya melalui pandangan mata.
"Ada apa? Dad?"
"Kau lupa saat ini yang spesial apa?" tanya Tuan Anderson mendekat membuat Natalia diam sesaat lalu tersenyum nanar.
"Ulang tahun. Mama!" jawab Natalia masih tersenyum dikala hati mulai berdenyut.
"Biasanya kau melakukan apa?" tanya Sam mengelus surai panjang itu lembut membuat Daychi tertegun diam.
"Biasanya hanya diam. Menatap foto lalu mengucapkan selamat ulang tahun."
__ADS_1
Jawab Natalia mengembun dengan Sam yang menggenggam tangannya menyalurkan keberadaanya. Semuanya diam ikut merasakan kesedihan itu.
Nyonya Maria hanya bungkam karna mulai merasa Zana si wanita menyebalkan itu begitu sangat dikenang sampai Suaminya sampai sekarang tak lupa sama sekali walau sudah tiada.
"Lalu?"
"B..Begitu saja.ke makam M..Mama aku..aku tak bisa. k..karna Papa tak.."
Natalia menjeda ucapannya mengusap bulir bening itu. Ia terbayang dikala Tuan Hartono selalu melarangnya kemanapun tempat yang berhubungan dengan Mamanya.
"Apa kau membenciku?"
Degg...
Natalia terkejut saat suara yang begitu tak asing itu mengalun hingga matanya terbelalak saat melihat seseorang didepan pintu ruangan ini.
Pria paruh baya yang membawa sebuket bunga dan kado ulang tahun pertama kalinya dan wanita muda membawa kue ulang tahun dengan foto Nyonya Pramudita yang begitu cantik dipeggangnya. Mata pria itu berkaca-kaca dengan seorang wanita dibelakangnya yang ikut sendu.
"P..Papa!"
"Kau membenciku?" tanya Tuan Hartono dengan senyuman nanar. Ia sangat merindukan Natalia putri kecil yang dulu menjadi bualan tangan kasarnya.
Natalia menatap Sam yang tersenyum hangat mengusap pipinya yang mulai basah.
"Kau begitu mendambakan kasih sayang seorang ayah. aku tahu aku tak bisa memberinya secara emosional tapi hanya ini yang bisa ku lakukan. Sayang!"
Bibir Natalia bergetar dengan mata tak lagi membendung rasa sesak kembali menatap Tuan Hartono yang sudah mendekat kearahnya.
"P..Papa!"
"Selamat Ulang Tahun untuk Mamamu!"
"P..Paaa hiks!"
Natalia berhambur memeluk Tuan Hartono yang juga meletakan Kado dan bunganya disamping Natalia barulah ia memeluk wanita itu penuh kasih dan sayang.
"P..Paa hiks. M..maafkan Lia!"
"Kau tak salah.Nak! Papa yang terlalu bodoh dan tak berguna untuk melindungi kalian." jawab Tuan Hartono penuh sesal mengecup lama kening Natalia yang merasa sangat haru dan begitu tak menyangka.
Talita yang tengah membawa kue berdiri dibelakang Tuan Hartono dengan wajah menunduk. Antara malu dan begitu menyesal akan apa yang ia lakukan. Natalia begitu baik tapi ia sangat tak manusiawi.
"T..Talita!" panggil Tuan Hartono hingga Talita mengangguk mendekat dan menyodorkan kue berhias lilin itu.
Natalia tersenyum kecil dengan air mata yang terus keluar meniup dua lilin itu hingga mereka langsung bertepuk tangan merayakannya.
"Maafkan aku. Lia! a..aku bukan Kakak yang baik untukmu." lirih Talita mengembun tapi Natalia langsung menariknya dalam dekapan hangat itu.
"Tak apa! aku tahu kau hanya tersesat sesaat, walau iblis bernama Teo itu yang menyesatkanmu." geram Natalia masih menyimpan amarah pada Teo bajingan gila itu.
Talita menoleh kearah Sam yang hanya diam mengusap air mata istrinya lembut. Natalia tak tahu kalau Teo sudah tinggal nama oleh suaminya.
"Dimana anakmu?"
"Dua. Pa! yang besar satu!"
Natalia menunjuk Alfin dengan semangat dan sangat penuh kasih.
"Dan si kecil satu! keduanya anak-anakku."
"Wah! kau sangat sempurna."
Tuan Hartono menatap Alfin yang begitu tampan. Ia tahu Alfin ini siapa tapi ia sangat kagum akan keputusan anaknya mampu menerima anak dari wanita lain.
"Hay. Grandpa!"
"Hay! kau sangat tampan!"
Puji Tuan Hartono membuat Natalia begitu senang. Pandangan Tuan Hartono seketika terhenti dikala Tuan Anderson tepat berhadapan dengannya. Mata dan wajah sangat berwibawah pria ini masih begitu lekat seperti dulu.
"Aku.."
"Aku masih belum lupa kau mendahuluiku." jawab Tuan Anderson dingin membuat mereka mulai merinding.
"Aku tahu! tapi Zana itu istriku, walau dia tak mencintaiku tapi aku sangat mencintainya."
"Cih! dia memang tak cocok denganmu. Lihat saja di kehidupan berikutnya hanya aku yang akan bersanding dengannya." tegas Tuan Anderson menepuk bahu Tuan Hartono jantan membuat mereka kembali lega. Nyonya Maria hanya diam karna ia sudah kebal dengan cinta sejati suaminya.
"Em. Pa! apa Mama .." Natalia agak canggung menanyakan ini tapi Tuan Hartono paham akan hal itu.
__ADS_1
"Sebenarnya Mamamu mencintai Dady Suamimu! dan begitu juga sebaliknya, tapi. kedua orang tua Papa dan Mamamu sudah kenal sejak lama dan melakukan perjodohan. Sedangkan Tuan Anderson ditentang oleh keluarganya hingga Mamamu mundur walau .. yah.."
"Walau aku berjuang keras. tapi hati Mamamu sangat lembut tak mau aku berperang dengan keluarga ku sendiri." sambung Tuan Andrrson yang diangguki Tuan Hartono.
"Itu karnanya aku memaksa anak keras kepalaku itu menikahi-mu walau awalnya dia munafik." sarkas Tuan Anderson menatap jengah Sam yang tak suka dengan pembahasan ini.
"A.. iya. lupakan saja! aku khilaf." asal Sam tak mau mengenang kebodohannya dulu.
"Khilaf apanya? melempar cincin pernikahan seenaknya." gerutu Natalia tak didengar mereka tapi Sam mulai mencolos.
"Kalau begitu aku minta maaf. kau masih saja mengingatnya." bisik Sam tak mau yang lain mendengar.
"Jelas. dasar tak mesra! sampai sekarang jariku masih kosong. kalau keluar pasti mereka kira aku ini tak pu.."
"Punya ini!"
Natalia terperanjat saat Sam mengeluarkan kotak kecil berbentuk hati dari sakunya. Fagan tersenyum karna itu ia ambil saat Tuannya dulu
melemparnya dan baru ia berikan kemaren.
"Kue?" tanya Natalia polos mendapat jentikan dikeningnya dari Sam.
"Kue kepalamu! ini lebih berharga!"
Ketus Sam membukanya hingga mereka berdecak kagum melihat cincin berlian mawar merah yang berkilau menjadi permata kecil diujungnya.
"Cantiknya!!"
"Jelas. aku yang pilihkan! sebenarnya dulu saat malam itu aku mau memberikannya tapi begitulah. Sekarang aku mau membuat kesaksian!"
Fagan langsung berdiri menyediakan kamera ponselnya sesuai kegemaran Sam mengabadikan Moment penting bersama anak dan istrinya.
Mereka saling pandang hanya menikmati suguhan manis dari Tuan Muda Bilions itu dengan Daychi yang menunjukan wajah masam lebih memilih menulikan telinga dan mengajak bicara Baby Elis yang bangun.
"Ingat. kalau ada pria yang ingin menikahimu, maka dia harus lolos 3 ujian penting dari Dady." bisik Daychi membuat si kecil tersenyum menunjukan gusi merahnya.
Sementara Sam ia mulai menggenggam tangan Natalia yang menunggu apa yang pria ini katakan.
"Natalia Diajeng Pramudita nama kesayangannya si Kuman!"
Mereka mengulum senyum geli mendengarnya tapi masih bisa untuk melihat lebih jauh. Sam masa bodoh yang penting ia mengungkapkan isi hatinya.
"Kuman! apa kau mau menerima cinta dari pak tua ini?" tanya Sam tegas dengan pandangan berwibawah tapi panggilan itu membuat Natalia dan yang lainnya menahan kekehan.
"Kau.. tak mesra sama sekali!" decah Natalia tapi Sam sudah tak sabaran.
"Ayolah. katakan cepat karna aku ingin mencekik pria itu!"
Geram Sam menatap Daychi yang sedari tadi membuatnya panas saat putrinya terus tersenyum bersamanya.
"Kau urus saja urusanmu! atau aku akan menganggunya!" acuh Daychi membawa Baby Elis menjauh ke sudut ruangan agar tak mendengar jawaban Natalia.
"Shitt! jawab. Sayang! cepat!"
"Baiklah. Aku menerima cinta dari pak tua menyebalkan dan kerjanya hanya cemburu setiap saat."
Sam tersenyum kecil membuat Maya dan Talita gagal fokus akan ketampanannya. Daychi-pun ikut muak melihat momen ini tapi mata Talita justru terlihat mengaguminya. Jelas ia punya pesona tersendiri.
"Aku sangat mencintaimu. jangan lagi pergi dariku!" serius Sam memasangkan cincin itu ke jari manis Natalia lalu mengecupnya penuh kasih membuat mereka ikut terbawa suasana.
"Hm. Aku juga mencintaimu. selain tampan kau sangat berbakat menjadi badut." jawab Natalia mengecup pipi Sam lalu memakaikan cincin polos satunya sebagai bukti tanda ikatan keduanya.
"Terimakasih sudah menemaniku selama ini. Dan jika kau.."
"Jika kau tak tak harus kemana dan semua orang tak menerimamu maka kembalilah pada suamimu karna dia pasti akan menerimamu. .. Benar?" tanya Natalia sudah hafal membuat Sam tak tahan dan langsung menyambar bibirnya membuat mereka memekik.
"Tuan!!"
"Sialan!!"
Geram Tuan Anderson menutup mata Alfin yang malah terkekeh melihat raut semua orang yang memerah padahal ia sudah sering melihat ini bahkan sudah hafal.
Seorang wanita berkursi roda diluar sana ikut bahagia mendengarnya. Ia tak berani masuk tak mau mebggangu suasana.
"Sam benar! Tawamu saja itu mahal, tak sebanding denganku. Natalia!"
........
Vote and Like Sayang ..
__ADS_1
TAMAT...
Eps berikutnya sinopsis cerita author yak. ðŸ¤