Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Kita mati bersama!


__ADS_3

Bayang-bayang mentari diatas sana sudah bersembunyi dibalik awan hitam dihamparan lembaran biru yang membentang remang.Kilasan cahaya redup dari kabut pagi ini menyerukan embun dingin menerpa kulit.


Beberapa orang tampak bersepeda didekat jalan menuju tempat sampah di pinggir kota. Mereka menatap aneh seorang wanita yang berjalan tanpa alas kaki dengan Piyama tidur dan rambut berantakan. Wajahnya yang terkena remangan embun terlihat pucat dan dingin menepis darah yang selalu keluar dihidungnya.


"Hey!!"


Beberapa pejalan kaki menegur karna khawatir melihat darah yang terus keluar dihidungnya. Namun wanita itu tak bergeming. Separuh wajahnya ditutupi rambut hingga membuat mereka semua mengambil asumsi kalau wanita ini sudah gila berjalan sendirian.


"Mungkin dia gelandangan disini."


"Hm. tapi kasihan sekali, lihat telapak kakinya!"


Seorang wanita paruh baya yang memandangi telapak kaki wanita itu dari belakang. Kakinya yang putih menjadi merah karna goresan aspal dan luka benturan terlihat jelas.


Dialah Natalia. Sedari tadi ia mengusuri jalan dengan tatapan kosong. Langit mendung ini menjadi saksi bisu perjalanan sunyinya dengan pikiran hanya satu. Bertemu seseorang yang tadi sudah ia telfon untuk segera datang ke pembuangan.


"Lia!!"


Suara seorang wanita yang terdengar memanggil dari arah tempat pembuangan sana membuat langkah Natalia terhenti menatap dingin kedepan membelah embun yang berterbangan.


Terlihatlah sesosok wanita paruh baya yang berdiri didekat Tong sampah yang tersembunyi dibalik gudang tua terbengkalai. Disini ada jalur kereta api lama yang masih aktif untuk para kelas menengah.


"M..Mama!"


Gumam Natalia dengan wajah kosong dan senyuman penuh arti. Ia melanjutkan langkahnya mendekati wanita itu dengan mata penuh kegilaan.


Bibik Mina yang melihat Natalia mendekat-pun jadi kegirangan. Ia yakin Natalia ingin mengadu padanya dan akan kembali menjadi Budaknya yang begitu penurut.


"Lia!! Nona Lia kenapa sendirian?" Bibik Mina kembali bersandiwara membuat seringaian kecil itu muncul dibibir mungil pucat wanita itu.


Bibik Mina menarik lengan Natalia mendekat tapi ia terhenyak saat merasakan tubuh wanita ini dingin bahkan begitu beku.


"Non! Nona Lia kenapa berjalan ditempat sepi begini? dan kenapa bertemu ditempat ini? bisa saja banyak orang jahat di kesunyian begini. Non!"


Natalia tersenyum mendengar ucapan Bibik Mina. Matanya berkaca-kaca dengan ketidak percayaan yang begitu besar. Benarkah? apa itu benar?


Natalia merasa lucu dengan semuanya. Siapa lagi sekarang yang akan jadi malaikat ketika bersamanya dan binatang buas saat dibelakangnya?


"Non! Bibik sangat khawatir padamu. Bibik takut pria itu melukaimu."


"Benarkah?" tanya Natalia menyeringai membuat bulu kuduk Bibik Mina meremang tak karuan. Wajah dan aura Natalia sangat berbeda membuat Bibik Mina agak ngeri.


"L..Lia! ayo kita pulang. kau sudah sakit seperti ini masih saja berkeliaran."


Bibik Mina menarik Natalia untuk mengikutinya tapi Natalia tak bergeming menciptakan tanda tanya besar dibenak mereka.


"Lia!"


"Kau yang membunuh Mamaku. kan?"


Duarrr...


Bibik Mina seakan tersambar petir mendengar pernyataan Natalia barusan. Wajahnya terperangah tak percaya dengan senyuman Natalia melihat reaksi wanita ini padanya.


"N..Non! k..kau...kau kenapa begini?"


"Kenapa?" Natalia terkekeh kecil dengan mata berkaca-kaca. Hatinya hancur ketika mengetahui wanita yang selama ini ia dewikan ternyata dalang dari kehancuran hidupnya.

__ADS_1


"N..Non! Bibik tak tahu apapun. d..dan ini pasti ulah pria itu. dia memang ingin me .."


Plakkkk...


Satu tanparan keras dari tangan dingin itu menghantam pipi Bibik Mina yang terjerumus ke kerikil hitam dikaki mereka. Suasana remang ini menjadi saksi bisu bagaimana sakitnya dijadikan Boneka hidup wanita ini.


"Berhentilah bersandiwara!!!!"


Bentak Natalia menyala-nyala membuat Bibik Mina bungkam dengan tangan terkepal memeggangi pipinya yang bengap. Sudut bibirnya koyak karna lipatan emosi yang keluar begitu saja dari wanita kampungan ini.


"Kau wanita iblis!!! Mina!!!"


"Yah!!! lalu kau mau apa?"


Natalia mematung melihat wajah Bibik Mina berubah keras dan tatapan mata menajam penuh dendam. Wanita itu seakan menjadi berbeda bahkan senyum liciknya terpampang jelas.


"Kauu.."


"Apa? kau sudah tahu semuanya. woww!!! tapi sayang."


Bibik Mina mendekatkan diri kehadapan Natalia yang mengepal. Darahnya mendidih ke ubun dengan mata mengigil menahan luapan kebencian.


"Tak ada lagi yang kau punya!"


"Kau bajingan."


Lirih Natalia dengan pandangan terluka. Kenapa semua orang tak pernah tulus padanya? apa salahnya hingga selalu dikambing hitamkan?


"Yah! aku bajingan, tapi Ibumu lebih dari itu!!"


Bentak Bibik Mina menyala-nyala dengan gertakan gigi beradu nyaring. Membayangkan saja ia sudah ingin membunuh semua orang atas keburukan yang dibawa wanita itu.


"Benarkah?" Natalia tersenyum mendengarnya.


"Dan kau tahu. hari itu aku tak mengira kalau suamiku akan dengan terang-terangan ingin menikahi Mamamu dihadapanku bahkan, dia lupa kalau sudah memiliki Anak!!!"


"Lalu apa salah Mamaku?"


Tanya Natalia penuh ketidak percayaan. Semuanya seakan menyalahkan Mamanya yang jelas tak berbuat apapun.


"Salah! Mamamu merebut cinta suamiku bahkan menelantarkan anak dan istrinya!!!"


"Itu karna suamimu Bajingan!!!"


Bibik Mina langsung menampar Natalia yang tak mampu menghindar selain tersingkur ke batu-batu kasar dibawahnya. Natalia tak merasakan sakit akibat tusukan batu runcing kekulit dinginnya. Ia bahkan terkekeh akan apa yang telah terlihat jelas dimatanya.


"Karna Mamamu!!! itu semua karna dia!!! dan aku puas setelah menabraknya dengan keras."


"Kau irikan?" tanya Natalia menggenggam batu runcing ditangannya lalu mengadah menatap Bibik Mina yang terbakar api kebencian. Seketika dendamnya kembali berkobar.


"Kau sama saja dengan wanita itu!"


"Karna aku Putrinya!"


Bughh...


Natalia melempar batu ditangannya ke wajah Bibik Mina yang langsung terperanjat dengan luka dimatanya. Wanita itu terhuyung beberapa langkah kebelakang memeggangi wajahnya yang terasa ditusuk.

__ADS_1


"Sialan!!!"


Maki Bibik Mina kasar. Natalia berdiri lunglai mengambil batu yang lebih besar. Ia sudah lelah dan tak lagi sanggup memikirkan apapun. Yang jelas baginya, wanita ini harus bertemu dengan Mamanya dan minta maaf.


"Kau mau apa. ha??" Bibik Mina terkejut saat Natalia melangkah mendekatinya dengan pandangan misterius.


"Tahu rasanya ditabrak?"


"K..Kau.."


"Hm?"


Bibik Mina tak gentar. Ia dengan cepat mengambil balok kayu disampingnya dan mengacungkan benda itu ke wajah Natalia yang terus melangkah maju mengiring Bibik Mina ke Real disamping sana.


"Kau yang akan mati!!!"


Bibik Mina memukulkan benda itu ke bahu Natalia yang juga melempar batu ditangannya ke kepala Bibik Mina membuat wanita itu oleng dengan darah keluar dikeningnya. Natalia pun sama, bahunya terasa mau patah tapi ia sama sekali tak mundur.


"Sialan!!!"


"Kita sama-sam sialan!"


Kekeh Natalia jijik dengan dirinya sendiri. Ia tak akan perduli pandangan semua orang padanya karna harga diri dan hidup itu bukan lagi miliknya.


Bibik Mina yang mulai pusing tak membiarkan Natalia menang. Ia juga mengambil batu dibawahnya diselingi lemparan yang terus menurus dilayangkan Natalia padanya.


"Kau juga harus merasakan apa yang Mamaku rasakan!"


"Benarkah?"


Bibik Mina tertawa jahat ditengah darah yang mengalir dipipinya. Ia menggenggam kuat batu itu dengan Natalia yang juga sama.


"Kita lihat. kau atau aku yang pergi lebih dulu!"


Bibik Mina melempar benda itu ke kepala Natalia lalu menendang tong sampah disampingnya membentur kaki Natalia yang memang sudah lemah tapi sekuat tenaga wanita itu bangkit mengejar Bibik Mina yang berlari kearah Real.


"Kesini. Sialan!!!"


"M..Mama!"


Gumam Natalia disela tubuh yang sakit dan kepala berputar masih mencoba mendekati Bibik Mina yang menyeringai melihat Kereta yang datang dari arah kanan. Ia berdiri tepat ditengah-tengah Real besi ini sedangkan Natalia masih menyeok kaki penuh lukanya mendekat menggenggam batu yang dikepal erat.


Bibik Mina tak sadar kalau roknya tersangkut ke besi yang sedikit rusak hingga ia terus memanas-manasi Natalia yang sudah mulai berhadapan tepat dihadapannya dengan kereta yang semakin mendekat.


"K..Kauu.."


"Susulah Mamamu!"


Teriak Bibik Mina ingin berlari kebelakang tapi Natalia dengan cepat menarik lengan Bibik Mina tetap berdiri dihadapannya membuat mata wanita itu terbelalak.


Natalia menyeringai menatap kearah gebuan Kereta yang datang begitu melaju membuat Bibik Mina terkejut.


"Kita pergi bersama!"


Brakkkkkk.....


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2