Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Tidur di sofa!


__ADS_3

Mobil itu sudah melesat masuk kedalam Kediaman megah yang seperti biasa dijaga ketat oleh para pengawal dengan para pelayan yang berdombong menyongsong kedatangan Tuan Mudanya dengan membawa Tisu dan Mantel hangat seperti biasa.


Sam keluar dari Mobil dengan wajah yang masih sama yaitu datar tanpa bergurat apapun. langkah lebar pria itu menapaki lantai Kediaman dengan Kepala Pelayan yang siap siaga berjalan dibelakang Tuannya yang memasang Mantel hangat untuk sekedar merilekskan tubuhnya. pria ini terbiasa harus dilayani dengan bersih dan sangat rapi karna Sam tak suka hal yang bersifat amburadul.


"Alfin!"


"Tuan Kecil tidur di kamarnya. Tuan!"


Jawab Kepala Pelayan masih mengiring Sam sampai kedekat tangga Kediaman.


"Istriku!"


"Nona Natalia tadi ada di kamar lantai atas."


Sam mengibas tangannya kecil hingga para pelayan itu berhenti mengikutinya. ia melihat jam dipergelangan tangannya menunjukan pukul 11 malam dan kemungkinan Natalia sudah tidur.


Ia masih melanjutkan langkah hingga sampai kedepan kamar Alfin yang ia buka pelan. seperti biasa ia akan melihat terlebih dahulu apa bocah itu sudah tidur atau belum?


Pandangan pertama Sam tertuju pada ranjang luas yang memang diperuntukan untuk putranya. Alfin tampak lelap didalam selimut Superman -nya yang selalu diganti dengan kartun-kartun kesukaan bocah itu.


Ia melangkah mendekat dengan pandangan menyeluruh kekamar ini. tertata rapi dan bersih, tak seperti dulu yang berantakan karna Alfin selalu membuat ulah.


"Sudah jadi anak baik, hm?"


Sam duduk disamping Alfin yang berbaring terlentang dengan bulu mata lentik yang terpejam. dada Sam menghangat merasakan hidupnya bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Pikiran yang dulu hanya tertuju pada Pekerjaan dan Bisnis sekarang beralih pada hidup yang sesungguhnya. Dulu ia tak pernah mau dekat dengan Alfin karna ia khawatir putranya akan manja dan tak bisa sekuat ini. Tapi sekarang...


"Tidurlah. Papa janji akan melakukan yang terbaik untukmu. hm?"


Bisik Sam lalu mengecup lama kening Alfin dengan lembut. mau bagaimanapun sikap kasar dan tegasnya selama ini hanyalah sebuah tameng membentengi dirinya sendiri. Sam sangat menyayangi putranya itu karna ini bagian darinya.


"Kau anak yang kuat."


Sam mengelus kepala Alfin tapi seketika ia terdiam sejenak tanpa merubah gestur tubuhnya saat merasakan ada yang menatapnya dari kejahuan, bahkan ia sangat kenal dengan pandangan polos nan hangat ini.


"Kuman!"


Batin Sam menduga dengan sudut bibir terangkat kecil. ia beralih memandang kearah cermin dihadapannya hingga ia melihat jelas wajah cantik yang mempesona itu tengah menyembul dibalik pintu mengintip dengan sendu.


Natalia tadi tak bisa tidur karna Sam tak kunjung pulang. ia terpaksa menunggu dikamar atas. Tapi, saat melihat dari Balkon kamar Sam sudah pulang, akhirnya ia turun tapi tak mau menyapa selain melihat saja ia sudah tenang.


"Alfin. Sayang!"


Gumam Natalia merasa ingin Alfin mendengar kalimat barusan Sam katakan. ia yakin Alfin tak lagi bersikap kasar pada Papanya.


"Ehmm!"


Sam berdehem seraya berdiri membuat Natalia langsung bergegas lari kembali menuju Lift kekamarnya. deru langkah brutal itu membuat Sam mengulum bibir lalu berbalik melangkah keluar pintu kamar yang kau tutup.


"Dasar!"


Geli Sam melihat Lift yang naik kelantai atas. telat satu menit saja Natalia sudah tertangkap basah dilantai tengah sini. Tak ingin berlama-lama, Sam melangkah mendekati Lift yang sudah turun hingga ia tak sabaran untuk keatas.


Disela Lift yang membawa ke kamar. Sam terus melihat Jam Rolexs yang ia punya hingga dipastikan hasratnya akan meminta malam ini.


Beberapa menit kemudian Sam sampai dilantai atas hingga langkah lebarnya terus menuju kamar diujung sana melewati foto-foto dinding dan lampu mewah lorong ini.


Sedangkan Natalia yang ada didalam kamar sana langsung masuk dalam selimut menyelubungi tubuhnya penuh sampai hanya puncak kepala wanita itu yang terlihat.


"Aku mohon tidur. tidurlah, Natalia!"


Gumam Natalia gugup memejamkan matanya seiring suara pintu kamar yang terbuka dan ditutup kembali. detakan sepatu khas yang Natalia kenal itu mendekat seiring dengan jantung Natalia yang memberontak.


"Kau sudah tidur?"


Natalia menutup rapat mulut dan matanya membuat Sam yang berdiri tengah melepas Mantel dan Jaket itu dibuat mengulum senyum. ia tahu Natalia hanya pura-pura, terbukti dengan lampu yang menyala terang. Natalia biasanya sukar tidur di suasana menyilaukan ini.


"Tidurlah!"


Sam melepas sepatu dan melangkah kekamar mandi membuat Natalia segera menyibak selimutnya. mata kucingnya menyipit menatap kesal kearah pintu yang ditutup Sam barusan.

__ADS_1


"Pergi? dia pergi? eemm.. ayolaahh, kenapa tak minta maaf atau apa begitu? dia-kan tadi siang membentakku."


Gerutu Natalia mengerucutkan bibir mungil Pink segarnya dengan rambut panjang yang digulung tinggi memperlihatkan leher mulus jenjangnya dengan pelipis yang diperban kecil.


"Menyebalkan! dia sama sekali tak perduli padaku!"


Natalia mencabik-cabik selimutnya terus mengumpati Sam yang mendengar itu semua. Sam sengaja mandi pelan membiarkan wanita kesayangannya itu mengonel pelan sesekali memukul bantal disampingnya.


Lama Natalia menggurutu kesal sampai ingin turun tapi pintu kamar mandi sudah terbuka hingga ia kembali meloncat keatas tempat tidur kembali berselumbung.


"Dia tak melihatku. kan?"


Batin Natalia meremas selimutnya. Sam yang melihat kondisi selimut yang berbeda seketika menyeringai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil ditangan. Sam hanya memakai handuk mandi yang melingkar dipinggar kekarnya mempertontonkan tubuh Atletis yang sangat-sangat mempesona.


Otot-otot keras itu terlihat dicetak sexsi dengan dada bidang Sam yang tak bisa sebut lemah. itu sangat tegap dengan wajah segar yang sensual.


"Lelahnya!"


Sam menghempaskan diri ketempat tidur empuk nan luas ini membuat Natalia semakin jantungan. ia masih kesal dengan Sam yang begitu menjengkelkan.


Melihat Natalia yang tak bergerak. Sam seketika masuk kedalam selimut mendekati tubuh Natalia yang menjauh, bahkan jika Sam mendekat Natalia juga akan maju kedepan hampir mau jatuh hingga Sam menyeringai.


Ia kembali merapatkan tubuh tapi Natalia juga beringsut menjauh namun lengan kekar Sam langsung membelit perut datarnya membuat nafas Natalia tercekat.


"Matilah kau. Lia!"


Batin Natalia gugup saat aroma maskulin segar dari tubuh Sam membuat ia tersengat. tangan pria itu juga membelit erat membuat tubuh keduanya mulai merapat tanpa jarak.


"Masih marah?"


Tak ada jawaban dari Natalia yang bungkam membuat Sam gencar.


"Kau mendiamiku terlalu lama."


Sam menelusup-kan wajahnya ke leher Natalia yang tercekat. tubuhnya kaku dan kebas.


"Bahumu masih sakit?"


Batin Natalia menahan sengatan saat Sam malah mengendus bahunya. bekas memar itu terlihat masih ada tapi sudah tak separah tadi karna Sam mengirim Dokter untuk mengobati Natalia tadi.


"Masih sakit. ya?"


"Ehmm."


Natalia merapatkan bibirnya Saat ciuman Sam begitu meremangkan bulu kuduknya. bagaimana tidak? Sam terus mengecupi memar itu dan leher jenjang putih Natalia yang mencengkram selimut.


"Tahan. kau ..kau tak bisa semudah ini, luluh."


Batin Natalia menguatkan iman tapi Sam juga gencar mencumbunya. pria ini seakan ingin membuatnya bicara bahkan mengomel polos seperti biasa.


"Lepas!!"


Natalia menyentak kasar lengan kekar Sam membuat pria itu terperanjat melihat Natalia yang melangkah turun menuju Sofa panjang disudut sana.


"Kuman!"


Panggil Sam lemah menatap Natalia nanar. wanita itu hanya diam menekuk kedua kakinya diatas sofa membuang muka dari Sam yang sibuat geli, Natalia memang sangat menggemaskan.


"Kuman!"


"Jangan bicara padaku!"


Suara kesal Natalia sangat terdengar seperti lantunan musik menghibur bagi Sam yang bersandar ke kepala ranjangnya.


"Memamngnya kenapa?" Sam sendu.


"Hm."


Natalia memelih diam tak ingin menatap Sam. ia sama sekali tak terima pria ini seenaknya saja membentak padahal ia tak salah apa-apa.

__ADS_1


"Kuman! ayolah."


Natalia tetap diam bahkan ia memunggungi Sam yang dibuat menggeleng melangkah turun mendekati istri cantiknya ini.


"Kau tak mau bicara padaku?"


"Hm."


Natalia mengangguk masih membelakangi. untung saja Natalia memakai Piyama tidur, kalau seandainya Gaun malam itu maka Sam tak akan bisa menahan dirinya.


"Kuman. kau marah padaku?"


"Hm."


"Maaf!"


Natalia hanya diam menepis tangan Sam yang menyentuh bahunya. ia persis seperti bocah 5 tahun yang merajuk pada Ayahnya, dan begitulah Natalia.


"Kau bilang tak mau melihatku. kan?"


"Tidak. aku tak ada mengatakan itu!"


Sam duduk disamping Natalia yang kembali berbalik memunggunginya.


"Ayolah. jangan diam-diam terus, nanti kau masuk angin. Sayang!"


Wajah Natalia langsung memerah tomat dengan ucapan itu tapi Natalia enggan menunjukan semberaut menggemaskannya pada Sam yang sudah tahu itu.


"Hm? kau tak kasihan padaku. ya?"


"Tidak."


Ketus Natalia masih menekuk wajahnya. ia tak memberikan cela pada Sam yang dibuat sangat ingin mengigit bibir manyun pink nikmat itu.


"Sayang, ayolah!"


"Sayangmu ada maunya."


Ketus Natalia kembali melangkah keranjang membuat Sam membelo tak percaya akan apa yang barusan Natalia katakan. apa istri polosnya sudah mendapat hidayah? kenapa Natalia terus mengacuhkannya?


"Mau apa? aku ini pria baik-baik. Kuman!"


"Kau pasti mau minta kuda-kuda'an. kan?"


Sewot Natalia menatap tajam Sam yang mulai kikuk. langkah awalnya tertebak oleh Natalia yang geram, Sam sangat menyebalkan.


"A.. itu..aku ..."


"Tuan tidur di Sofa malam ini!"


Degg ..


Sam seakan mendapat bongkeman diwajahnya hingga ia berdiri kaku dengan pandangan tak terima.


"Kau apa-apaan? ha!!" geram Sam mulai mendingin.


"TIDUR DI SOFA. kurang jelas?"


Tekan Natalia masuk dalam selimutnya lalu melempar bantal disampingnya ke arah Sam yang sigap menangkap tapi juga tak terima.


"Ini kamarku. Kuman!"


"Hm. selamat malam."


Natalia mematikan lampu hingga Sam langsung mengusap wajahnya frustasi melempar bantak kearah Sofa dan berbaring dengan kedongkolan.


"Shiit. dia sudah mulai menunjukan taringnya."


Gumam Sam merasa ciut. ntah kenapa ia tak mampu melawan perintah Nyonya Kuman satu itu.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang ...


__ADS_2