Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Alfin Kritis!


__ADS_3

Tatapan kosong itu seketika meruak menghunus netra bening Natalia yang tersenyum hangat membelai pipi brewokan tipis suaminya. Sam termenggu tak bisa berekspresi seperti apa karna begitu senang akan ucapan Natalia barusan.


"A..Anakku?" lirih Sam menatap wajah Natalia bergantian dengan perut besar itu.


"Hm. anak kita!"


"Aaasss!!! kau..kau serius?" geraman Sam mengusap wajahnya tampak masih belum percaya akan keadaan ini.


"Kau tak percaya?" dingin Natalia tapi Sam menggeleng keras.


"Tidak. bukan itu maksudku, Sayang! hanya.. ini..aku merasa tak menyangka."


Jawab Sam terlihat sangat bahagia. Ia bukan tak percaya kalau itu bukan anaknya tapi ia hanya speechless akan jadi Papa untuk yang kedua kalinya.


Daychi membuang muka melihat raut bahagia Sam yang menyentuh pelan perut istrinya dengan senyuman yang tak lekang diwajah tampannya. Natalia hanya menggeleng kecil dan beralih menatap Daychi yang ingin menghilang dari sini.


"Tuan Day!" Daychi diam menelan suara.


"Anda sangat baik dan juga tulus! walau begitu kasar dan emosian tapi aku yakin akan ada wanita yang terbaik disiapkan untukmu." ucapan Natalia menarik senyum sinis Daychi.


"Aku tak butuh sebangsa seperti kalian!" angkuh Daychi dingin.


"Anda jangan terlalu sombong. sebangsa seperti kami ini sangat misterius." jawab Natalia melirik Sam yang tak perduli dengan pembicaraan mereka. Herchier Jerman itu terlihat fokus membelai perut besarnya dari belakang.


"Tak akan pernah. Sebangsa sepertimu, hanya akan menyusahkan."


"Hm. aku harap begitu! tapi kalau nanti ada, jangan disia-siakan."


Ucap Natalia lalu meraih satu tangkai bunga mawar disampingnya. Kuntum cantik berwarna merah segar yang begitu harum dan penuh keindahan diantara bunga lain yang asing.


"Ini!"


"Sayang!" Sam mau menyambarnya tapi Natalia mengelakan tangannya membuat wajah pria itu mendingin.


"Berikan!"


"Sutt! main saja dengan adik!"


Sam membuang muka masam menatap geram Daychi yang masih diam saat Natalia mendekat mengulur tangannya memeggang tangkai kuntum cantik itu.


"Ini untukmu! anggap saja kita punya ikatan saudara."


Daychi tetap diam menatap lama benda itu lalu bergantian dengan wajah cantik Natalia. Apa ia bisa melupakan wanita yang sudah memberinya warna selama 8 bulan lebih ini? apa ia bisa melupakan kisah manja yang dia buat?


"Aku tak butuh!"


Seketika Natalia muram menurunkan tangannya membuat hati Daychi mencolos. Sam juga mulai menekan Daychi untuk menerima pemberian istrinya.


"Baiklah! semoga kau selalu sehat dan selamat."


"Berikan!"


Daychi menyambarnya membuat Natalia terperanjat dengan mata bulat termenggu heran.


"Setidaknya ini tak terbuang." elak Daychi membuat senyuman Natalia mekar.


"Hm. jangan sampai terbuang! ingat, kau itu sangat tampan dan punya aura sendiri, aku yakin kau akan mendapatkan wanita yang sepadan. .. emm.. walau.."


Natalia menjada ucapannya lalu sedikit cemas.


"Agak garang!"


"Kauu!!"

__ADS_1


"Selamat dinihari menjelang pagi! Kakak Day!"


Potong Natalia menunjukan wajah seimut mungkin membuat Daychi diam mendengar panggilan itu. Terdengar lebih baik dari pada Tuan Day.


"Sayang!"


"Boleh kami pergi?" Natalia masih fokus merayu Daychi agar tak mengamuk.


"Kau tak akan berkunjung?"


Seketika Sam melotot tajam mendengar permintaan kesialan dalam hidupnya itu. Ia sudah berbaik hati membiarkan Natalia berbicara seenaknya begini.


"Em. sebaiknya Kakak yang berkunjung untuk saat ini! soalnya kalau aku nanti susah, emm.. nanti kalau bayiku lahir jangan lupa datang."


"Pintuku tertutup untuknya." sambar Sam tak suka.


"Nanti akan ku bukakan pintu yang lain. Tenang saja!" kelakar Natalia membuat Daychi sedikit geli.


"Kuman!!!" geram Sam menyala.


"Boleh kami pulang?"


"Hm. Pergilah!"


Natalia berbinar menggandeng lengan Sam yang berwajah dingin tak bersahabat. Ia mengibarkan bendera perang pada Daychi yang hanya diam tak mau menanggapi.


"Kami pergi dulu! jaga diri baik-baik dan.."


"Pulang!"


Sambar Sam mengangkat Natalia kedalam gendongannya seraya melangkah pergi dari sini.


"Dan makan tepat waktu!!! jangan lupa datang nanti!!"


"Cih! kau salah, spesies sepertimu tak akan ada lagi didalam hidupku selain kau."


Gumam Daychi menatap bunga ditangannya. Tak akan ada wanita seperti Natalia yang menerima dunia gelapnya. Tak akan ada wanita seperti Natalia yang memandangnya dengan pandangan seorang manusia bukan monster pembunuh yang menakutkan.


"Kau tak akan tahu. jika hanya kau yang pertama membuatku tak berkutik berbulan-bulan."


Ucap Daychi merasa Natalia berbeda. Ia adalah pria hiper-**** dan selalu ingin melakukan hubungan intim dengan wanita-wanita ranjangnya tapi saat Natalia datang ia seakan menyembunyikan itu takut jika citranya tercoreng.


.............


Diluar sana. Sam sudah berhasil membawa cintanya pergi dari tempat aneh plus misterius ini. Para pelayan tampak berjejer didepan pintu menatap tak rela Natalia yang asik menggoda suaminya.


"Sepertinya aku akan merindukan tempat ini!"


"Kau bisa diam?" tekan Sam dengan cepat memasukan Natalia kedalam Mobil dihadapannya.


"Xiaojie!!!"


Suara Emi membuat Natalia menoleh hingga senyumnya mekar melambaikan tangan pada Emi dan Pelayan lainnya.


"Daaah!!! sampai jumpa lagi!!! ingat resep masakanku kemaren!!"


Emi mengangguk dengan bersamaan membungkuk memberi penghormatan ala Klan Ryoto penuh kesopanan. Natalia juga membalas tapi hanya kepala saja yang menunduk karna perutnya menyekang sesak.


"Selamat Jalan!!"


"Terimakasih!"


Ucap Natalia dengan Sam menekan Fagan agar cepat melajukan Mobil hingga benda mewah baja ini bergerak stabil meninggalkan tempat itu dengan anggota Sam mengawal dari belakang.

__ADS_1


"Kita tak bertemu lagi. Emi!" helaan nafas halus.


"Emi atau Kakak Day!" Sam melirik jengah dengan wajah masam membuat Fagan menggeleng seraya kembali fokus menyetir.


"Keduanya!"


"Cih! bicara seenaknya, dia itu musuhku."


"Hanya kau. kan? aku dan adik tidak!"


Jawab Natalia santai mengelus perutnya.Namun, Natalia teringat akan satu bocah yang selama ini begitu membuat ia merindu akan panggilan Bundanya.


"Tuan!"


"Lagi! panggil seperti itu terus." geram Sam menarik kekehan Natalia yang hanya menggoda. Sam sudah menekankan saat di ruangan bawah tanah tadi kalau tak ada yang memanggil Tuan dan Tuan.


"Sam!"


"Hm."


"Alfin sudah besar. ya?"


Sam seketika diam dengan wajah berubah nanar dan datar. Lirikan mata Sam menatap perut Natalia yang menunggu jawaban darinya.


"Dia baik-baik saja. kan?" desak Natalia mulai khawatir melihat raut Sam.


"Dia .."


Drett..


Ponsel Sam seketika menghentikan kalimatnya dengan nama Etnos tertera disana. Dengan cepat Sam mengangkatnya seraya menggenggam jari lentik Natalia.


"Ada apa?"


"Tuan! keadaan Tuan kecil semakin memburuk!"


Sam seketika jantung dengan Natalia yang menunggu hasil pembicaraan ini.


"Tubuhnya kejang-kejang dan terus melirikan Nona!"


"Tangani secepat mungkin! akan ku usahakan cepat kesana!"


"Ada apa?" tanya Natalia saat Sam menutup sambungan dengan Fagan yang menambah kecepatan menuju Bandara pribadi Bilions. Mereka harus cepat mengejar waktu.


"A..Ada apa? katakan!"


"Alfin!"


"Kenapa?" Natalia benar-benar tak sabaran dengan wajah pucatnya.


"Kau jangan panik! tetap tenang."


"Tapi, kenapa? a..apa terjadi sesuatu pada Alfin dan.."


"Alfin masuk rumah sakit dan kritis!"


Degg..


...


Vote and Like Sayang..


Kita ada dipenghujung ya say🤭

__ADS_1


__ADS_2