
Ruangan sunyi itu berkemalut dengan keheningan yang total. Hanya suara denyutan Monitor dan deritan angin yang bergerak membelai tirai tempat persemayaman wanita liar kebencian Alfin itu.
Sudah semalaman ia memejamkan mata tak sadarkan diri diatas Bangkar rumah sakit. Dan pagi ini kelopak mata tergores aspal itu berkerut dengan dahi berlipat seakan tertarik kembali kepermukaan jiwanya. Jari lentik berkutek itu tergerak pelan akan jepitan selang medis dan fakum oksigen dihidungnya.
"S..Sam."
Gumamnya masih berputar memori awal dimana ia ingin ke Perusahaan pria itu. Perlahan tapi pasti, matanya terbuka dengan lemah dan mengerijab menatap bayangan kabur diatas langit-langit sana.
Bulir-bulir abu yang perlahan menyatu membentuk visual yang tak ia kenali tapi ini bukanlah Mobil yang kemaren dikendarai Manajer Bimo.
"D..Dimana?"
Batinnya bertanya mengulur pandangan kebawah hingga matanya dipaparkan dengan selimut Rumah Sakit dan juga selang oksigen dihidungnya. Kedua lengan yang bisa terexspos mulus itu diperban selayaknya Mumi dan kepalanya juga.
"A...ini... "
Qyara syok melihat tempat disekitarnya. Semua berbasis rumah sakit bahkan selang infus itu juga merekat erat membuat kilatan kecelakaan itu melewati benak Qyara yang langsung meringis hebat.
"Aass!!! SSakittt!"
Desisan Qyara mampu mendorong seseorang diluar sana untuk masuk. Itu adalah Nyonya Divanti yang tak meninggalkan putrinya sama sekali.
"Qyara!!" Nada terkejut dan lega.
"K..Kepalaku!!"
Geraman sakit Qyara tak mampu bergerak selain mencengkram selimutnya. Entah kenapa bagian pinggang kebawah tak bisa digerakan sama sekali bahkan terasa sangat kaku.
"Nak! kau..kau jangan banyak bergerak!"
"M..Mama! a..apa..apa aku .."
"Nona!"
Dokter Agam yang datang bersama Tuan Ambana yang langsung bergabung. Wajah mereka tersirat lega tapi juga khawatir beriringan.
"I..ini.. kenapa?"
"Anda bisa tenang. saya akan memeriksa luka anda!"
Dokter Agam melepas selang oksigen dihidung Qyara yang terlihat memucat dengan luka dihidung, pipi dan dagunya yang lebam. Kening wanita itu juga diikat dengan perban.
"A..Aku...aku kenapa?" terbata-bata masih lemah.
"Nona! apa kepala anda sakit?"
Qyara mengangguk. seluruh tubuhnya terasa dihantam benda keras dengan bagian dada yang sakit. Kemungkinan itu akibat benturan yang telah ia alami kemaren. Dokter Agam pun memeriksa penuh ketelitian.
"Coba gerakan kedua kaki. anda!"
Qyara mencobanya tapi tak bisa membuat wanita itu tercekat dalam.
"I...Ini..."
"Coba lebih keras! gerakan jempol atau tumit anda!"
Instrupsi Dokter Agam memperhatikan kaki jenjang Qyara yang juga diperban hingga sekuat apapun Qyara mencoba maka hanya rasa sakit dan nyilu yang ia dapatkan.
Walau masih khawatir. Nyonya Divanti membelai halus kepala putrinya agar tetap tenang, ia tak yakin Qyara menerima keadaan sebenarnya setelah kecelakaan ini.
"T..tidak bisa." lirih Qyara berkaca-kaca.
"Apa anda merasakan tangan saya?"
Dokter Agam menjentik ibu-jari kaki Qyara yang menggeleng dengan bibir bergetar menduga apa yang telah terjadi padanya.
"A..Apa? A..Apa aku.."
"Dari pemeriksaan ini. saya mendapatkan anda mengalami kematian syaraf otot dari pinggang ke bawah."
Degg...
Wajah Qyara pucat pasih dengan air mata yang lolos. Seakan ada batu yang melempar kepalanya begitulah rasa pusing dan tak percaya yang tengah ia alami.
"T..Tidak! aku...aku..tak mungkin. M..Mama aku.."
"Nak! kau pasti bisa sembuh!"
"Aku tak lumpuh!!!!"
Teriak Qyara keras memecah tenggorokannya. Air matanya luruh sempurna dengan menolak takdir yang telah ditentukan padanya.
"Aku...aku tak mau jadi lumpuh!!!! aku tak sudi, Maa, hiks!"
"Sabar, sayang!"
Nyonya Divanti memeluk Qyara yang memukul pahanya merutuki segalanya. Ia tak terima jika kaki jenjang yang biasa berjalan di read karpet ini malah terpuruk diatas kursi roda tua yang sangat ia benci.
"Nona! anda jangan terlalu berteriak. kerongkongan anda juga mengalami luka berat."
Namun sayangnya peringatan Dokter Agam diacuhkan Qyara yang malah memberontak ingin turun membuat para suster diluar sana berlarian masuk mencekal Qyara. Wanita itu seakan tak perduli dengan ucapan Dokter Agam yang sudah kelimpungan saat darah segar itu keluar dari mulut Qyara.
"Pita suara anda bisa pecah. Nona!"
"A...kuu t..tak mauu. L...lumpuh, hiks!" mulai serak dan tak jelas membuat Tuan Ambana dan Nyonya Divanti sangat syok dan panik.
__ADS_1
..........
"Tuan!"
Fagan yang baru saja datang pagi sekali karna mengunjungi rumah sakit terlebih dahulu. Ia menemui Sam yang tengah ada di ruangan kerjanya dengan Laptop yang masih menyala.
Sam yang tengah fokus-pun tak menjawab sapaan Fagan yang bingung apa yang dikerjaan Tuannya? tapi Fagan ingat kalau Sam menyuruhnya membawa Bingkai foto kemaren malam.
"Tuan! ini Bingkainya!"
"Kau bawa ini ke ruang Lab Teknologi Perusahaan. aku ingin rekaman ini kembali membaik."
Sam memberikan satu Cips ketangan Fagan yang mengangguk menyimpan benda kecil itu kedalam saku celananya. Ia menatap layar laptop Sam yang menunjukan foto-foto keluarga Pramudita termasuk foto Natalia yang tampak tersenyum dipangkuan seorang wanita yang cantik dan begitu anggun.
"Maaf. apa itu keluarga Nona, Tuan?"
Sam mengangguk datar mengetuk peggangan kursinya. Sesosok wanita yang begitu mirip dengan Natalia. Cantik, anggun, lemah lembut dan hangat. Foto ini terlihat sangat bahagia dimana Talita dipangkuan Tuan Hartono yang tersenyum kearah kamera.
"Di Taman Gasari."
Gumam Sam manggut-manggut mengerti.
"Ada apa? Tuan!"
"Istriku pernah bilang. kalau Mamanya tertabrak didekat jalan sebuah taman. dan mereka sering kesana, tapi ini foto terakhir di Kediaman Pramudita dan aku hafal itu." jelas Sam menganalisis.
"Jadi?"
"Kemungkinan besar kecelakaan ini bukan murni insiden biasa. ada orang lain yang terlibat didalamnya."
Jawab Sam memecah teka-teki kematian Nyonya Azana Syafira Pramudita. Dari awal Natalia mengatakan kalau dulu hidup mereka sangat harmonis dikala Mamanya masih ada. Sam pikir Natalia bukanlah dari seorang keluarga biasa apalagi keluarga Pramudita adalah kelas yang tak dipandang rendah. Kemungkinan ada yang iri membuat keluarga ini hancur sampai terpecah-belah dan sasaran utama adalah Natalia yang merupakan pewaris utama Kekayaannya.
"Apa kakaknya Nona. Tuan?"
"Hm. aku rasa tidak! dia terlalu bodoh untuk itu."
Gumam Sam tak mengambil Talita dalam dugaannya. kemungkinan anak-anak kecil ini hanya sebagai boneka dan ada yang lebih besar perannya sejak pertama Nyonya Azana masih ada.
"Tapi. tak ada lagi Keluarga Nona! kalau tak salah ada dikampung dan.."
"Kadang istriku itu terlalu polos sampai tak tahu macan yang mengincarnya."
Gumam Sam beralih memainkan penanya. Fagan benar-benar bingung kenapa ucapan pria ini terlalu berbelit? ia paham jika Sam selalu teliti dalam melakukan sesuatu tapi kali ini ia tak paham.
"Tuan! kalau anda tahu, anda bisa bunuh sekarang."
"Tidak semudah itu!"
Jawab Sam beralih menatap layar laptopnya intens.
"Dia yang memeggang kendali! sekarang, dia pasti akan membuat surat warisan baru karna kertas itu sudah terbakar."
Jawab Sam memutar kursinya pelan kearah Fagan yang diam tapi seketika ia menganalisis ucapan Tuannya yang mempunyai jawaban dari rencananya.
"Apa Nona akan terkena masalah?"
"Dia.."
"Tuan!"
Suara lembut itu membuat kalimat Sam terjeda hingga kepala Sam menoleh kearah pintu dimana Natalia telah turun membawa nampan makanan.
"Saya permisi!"
Fagan pamit tak mau menganggu membiarkan Natalia masuk melempar senyuman kearahnya.
"Kau sudah makan. Fagan?"
"A..Ha?"
Fagan tercekat akan pertanyaan Natalia yang masih tersenyum padahal jantung Fagan sudah berlarian didalam sana saat tatapan tajam Sam menusuk kerongkongannya.
"Pergilah makan ke bawah! aku sudah siapkan semuanya!"
"T..Tapi..."
"Apanya? pergi saja. yang lain juga sedang makan, para pengawal juga."
Jawab Natalia memberikan satu cangkir teh racikannya pada Fagan yang dengan gemetar menerima gelas itu. Sesekali ia menoleh kearah Sam yang menciptakan aura dingin di ruangan kerjanya.
"Pergilah! obati juga luka di lenganmu, minta Maya mencari kotak obatnya."
"B..Baik."
Fagan dengan kaku melangkah keluar dengan helaan nafas lega karna bisa bebas dari jeratan maut Tuannya. Ia menghirup aroma Teh daun kelor khas buatan Nonanya yang sangat segar.
Sementara Natalia. Ia sudah biasa melihat wajah masam Sam yang menekuk tak terima akan apa yang ia lakukan barusan.
"Ini. Tuan! makan yang banyak."
"Siapa yang mengizinkanmu memberi mereka masakan-mu?"
Suara mengintimidasi dengan tarikan lembut ke pinggang Natalia untuk duduk di atas pahanya.
"Apanya? lagi pula aku berterimakasih karna berkat mereka akhirnya Papaku bisa selamat walau aku tak tahu bagaimana keadaannya sekarang." Jawab Natalia hangat.
__ADS_1
"Kenapa kau tak menangis?" ejek Sam menerima suapan Natalia yang selalu mengurus semua orang.
"Tak tahu. aku juga bingung."
Jawab Natalia aneh dengan dirinya sendiri tapi Sam hanya mendelik gerah. Hanya wanita ini yang berani mematahkan pertanyaanya dengan kalimat konyol.
"Alfin. mana?"
"Ada dikamar. katanya mau Lest lagi, Mr Jeon juga..."
"Suttt! jangan bahas itu."
Sam mencengkal kalimat Natalia yang menyunggingkan senyum geli mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Sam yang heran.
"Apa?"
"Tau tahu?"
"Tidak!" acuh Sam masa bodoh.
"Mr Jeon itu sangat tampan dan muda!"
"Kauu!!"
"Hm. Tubuhnya gagah, ototnya behhh..."
Sam langsung memasukan tangan Natalia kedalam baju kaos santainya membuat tonjolan otot keras dan liat itu dengan jelas Natalia rasakan.
"Masih kurang?" tanya Sam menghakimi.
"Masih!"
"Berapa yang kau mau?"
Tanya Sam serius menatap intens Natalia yang mau menyemburkan tawa gelinya. Pria ini terlalu sensitif dalam masalah lelaki. padahal ia hanya ingin menggodanya saja.
"Ayolah. postur tubuh kau dan dia berbeda. Tuan!"
"Kau pernah melihatnya?"
Sorot mata Sam berubah dingin dengan rahang mengetat seakan mau menelan Natalia yang menunjukan raut takut keterpuraan.
"Emm.. aku.."
"Kauu!!"
"Hanya sedikit!"
"SIALAN!!!"
Sam ingin berdiri tapi Natalia sudah lebih dulu memecah ruangan dingin ini dengan kekehan gelinya berpeggangan ke bahu kokoh sang suami.
Natalia tertawa geli melihat wajah kelam Sam yang sudah terbakar api cemburu. Pria ini tak pernah bisa sadar akan godaan yang ia buat.
"Kenapa kau tertawa?" geram Sam masih belum berubah.
"Apanya?" masih mencoba menahan kekehan.
"Aku mau membunuhnya!"
"Hust! jangan aneh-aneh." tegur Natalia menepuk pipi Sam yang menyeringit melihat raut Natalia yang menahan kegelian melihat responnya hingga..
"Kau membohongiku!!"
"M..Mana ada?" Natalia mengulum senyum geli membuat Sam ingin berteriak memaki akal sehatnya yang hilang ntah kemana.
"Kau memang ingin ini!"
"Saaam!!!"
Jerit Natalia saat Sam menggendongnya ringan menuju sofa hingga nampan makanan tadi masih Natalia bawa hanya kurang satu suapan.
Keduanya kembali menyambung kegiatan panas yang semalam terjeda. Walau Natalia merasa enggan tapi tak mungkin menolak keinginan Sam yang tak akan bisa ia tolak. Hal favorit bagi Sam adalah menjilati kulit lembut istrinya.
...........
"Kenapa kau lakukan ini????"
Bentakan seorang pria pada wanita paruh baya yang tengah berdiri menatap kearah jalanan dekat Taman. Seringaian dibibirnya mekar dengan wajah berubah 190° dari biasanya seakan menjadi orang lain.
"Ini tak sesuai kesepakatan kita!! kau bisa saja membunuh mereka semua!!"
"Apa perdulimu?"
Ia menoleh kearah pria berjas putih itu dengan seringaian licik yang masih abadi di wajahnya.
"Jelas! aku sangat mencintainya tapi bukan berarti aku mau menghancurkannya!!"
"Jangan Munafik! kau sudah terlibat dan jika kau ingin mundur. ku pastikan dia akan sangat membencimu."
Pria itu tercekat dan kehabisan kata-kata akan ucapan wanita ini. Ia tak menyangka semuanya akan serumit ini.
...
Vote and Like Sayang...
__ADS_1
Sok yg mau vote ss nya ke group.. ntar malam author umumkan dari minggu kemaren juga ya. makasih say🥰