Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Kenapa sangat dekat?


__ADS_3

Keheningan itu mulai melanda satu ruangan yang telah dibuat mendingin oleh sesosok pria yang entah kemana perginya. kaki jenjang Natalia menjadi kaku berdiri disamping meja makan yang tepatnya ada tak jauh dari lantai dasar.


Ia merasa sangat khawatir pada Sam tapi tak mungkin baginya untuk memberi tahu Pernikahan tak jelas ini pada Dokter Andra yang masih membuatnya bimbang. ditengah pergulatan pikirannya, Natalia disentak oleh tangan ringan Dokter Andra yang memeggang bahunya.


"Ada apa?"


"Em. tidak ada."


Jawab Natalia dengan senyuman yang hangat menerima dan bersahabat. Natalia menatap Alfin yang hanya diam tak mau membebani Bundanya yang memang berada diposisi yang sulit.


"Lia! kenapa Tuan Muda Bilions disini?"


Natalia tercekat lalu berusaha tenang.


"A.. itu..aku bekerja di Perusahaannya!"


"Benarkah? Wowww!! kau hebat, bisnis Bilions itu tak mengambil orang-orang yang tak berkualitas. berarti kau menjadi yang terbaik!"


Dokter Andra terlihat begitu senang menangkup kedua pipi lembut Natalia dengan ringan. wajah yang ramah penuh kasih itu membuat Natalia semakin dilanda gelisah.


"Tidak juga. dia hanya kasihan padaku!"


"Hey! tak ada yang namanya kasihan, yang pasti mereka semua pasti sudah kagum dengan wanita sepertimu."


Dokter Andra memeluk Natalia yang melempar pandangan kearah Alfin yang diam. tak ada suara yang keluar dari bibir Natalia yang tak bisa berkata banyak.


"Kapan kita bisa jalan berdua?"


"Ha?" Natalia masih kurang perhatian mencoba mengulang.


"Kapan kau mau keluar bersamaku?"


Suara Dokter Andra begitu penuh harap dan sangat mengemban rindu. pria ini melepas pelukannya menggenggam kedua tangan Natalia dengan penuh perasaan.


"Kalau kau sibuk. aku tak masalah! tapi, kapan waktu luang yang kau punya?"


Lama Natalia terdiam berfikir keras. bagaimana bisa ia keluar tanpa izin Sam yang sekarang sudah marah padanya, tapi ia sudah menganggap Dokter Andra lebih dari apapun, pria ini sangat baik padanya.


"Akan ku hubungi kalau sudah tak sepadat sekarang. tapi aku akan berusaha keluar dan pergi bersamamu."


"Benarkah?" tanya Dokter Andra penuh binaran.


"Hm. sekarang kau pasti punya pekerjaan di Rumah Sakit. selesaikan dulu itu dan aku juga menyelesaikan pekerjaanku. atau kau mau makan?"


"Tidak. aku sudah makan, Lia! em.. aku akan mengantarmu!"


"Tapi..."


"Sutt! jangan menolak. kau tak kasihan padaku yang sangat merindukanmu. ha?"


Sambar Dokter Andra menarik tangan Natalia yang segan untuk membantah. ia pamit sebentar mengambil tas meninggalkan Dokter Andra dengan Alfin yang masih diam meletakan Piring makannya kembali ke meja makan.


Pandangan Dokter Andra begitu heran. ia kurang tahu soal bocah ini tapi rasanya begitu tak asing dan mirip dengan pria tadi.


"Hay!"


Sapa Dokter Andra pada Alfin yang hanya acuh tak mau meladeni. ia lebih memilih kembali duduk di sofa dengan sangat angkuh.

__ADS_1


"Kau apanya. Lia?"


"Dia Bundaku!"


Seketika dahi Dokter Andra menyeringit mendengar itu semua. ia mencoba tenang duduk didekat Alfin yang sangat tak menyangka pria ini bisa mengimbangi situasi.


"Bunda?"


"Hm."


"Bunda seperti apa? aa.. maksudku kau .."


"Alfin!!! barangmu ada yang ketinggalan? Sayang!"


Alfin berdiri saat suara Natalia menghentikan Dokter Andra yang diam cukup lama menatap intens wajah belia mempesona Alfin. BUNDA? maksudnya apa?


"Tidak ada. Bunda!"


"Ya sudah, ayo!"


Natalia meraih tangan mungil Alfin untuk digenggamannya seraya memandang Dokter Andra yang masih mencoba mencerna semuanya dengan tak melepas mata dari Alfin.


"And?"


"A.. iya!"


"Apa ada masalah?"


Dokter Andra menggeleng tersenyum meraih tangan Natalia yang ia genggam hangat. wajah tulus Dokter Andra terlihat kembali baik seakan tak terjadi apapun.


"Dia siapa?"


"Itu. bocah tampan disampingmu."


"Ohh, ini.. em. Putranya atasanku! aku juga menyukainya, dia tampankan?"


Dokter Andra hanya tersenyum biasa tapi ia merasa janggal. ia akui Natalia memang mempunyai jiwa keibuan yang sangat kuat tapi ia melihat tatapan yang intens diantara Alfin dan Natalia seakan keduanya sudah lama dekat dan tak segan untuk memanggil penuh kasih.


Tepat diluar sana. Dokter Andra langsung membuka pintu Mobil tapi ada satu Mobil yang baru datang dari arah depan menghentikan langkah mereka.


"Jangan lupa. Sayang!"


"Yah. kau tenang saja."


Mata Natalia menajam melihat Talita yang keluar dari Mobil Teo bahkan tak segan berciuman bibir dihadapan mereka. memang sangat tak punya moral


Tatapan Teo terlempar kearah netra tajam Natalia hingga ia benar-benar termenggu melihat penampilan dan wajah wanita itu. Talita memang bercerita soal perubahan Natalia tapi ia tak menyangka akan secantik ini.


"Sayang!"


Teo masih belum sadar dengan panggilan Talita karna ia asik berfantasi dengan netra bening yang begitu membuat dadanya bergetar.


"TEO!"


"A... Iya?"


Talita tahu akan semua ini hingga dengan kasar menutup pintu Mobil melangkah masuk kedalam Gerbang. ia tampak geram pada Natalia yang hanya diam masih menahan amarah dalam dirinya.

__ADS_1


Tapi, saat ia ingin memaki Natalia. Talita ingat akan rencananya untuk kembali mengambil hati wanita ini agar Bos Renom tak lagi mencarinya.


"Lia. kau mau kemana?" suara lembut itu membuat Dokter Andra ingin menghantamkan besi baja ke wajah Talita. ia tahu sejak kecil bagaimana sifat wanita siluman ini.


"Tak pulang semalaman!"


"Aku mengerjakan banyak sekali pekerjaan. Lia." elak Talita seakan menjadi aneh.


"Oh. berarti kau tak lagi punya pekerjaan?"


Talita agak kaku menjawab dengan anggukan hingga Natalia tersenyum santai menatapnya tegas.


"Rawat Papa sampai dia benar-benar sembuh!"


"A...Apa??"


"Aku akan selalu memantaumu!"


Tekan Natalia masuk ke Mobil setelah memberi kejut jantung bagi Talita yang syok. ia tak pernah mengurus Papanya karna itu sangat membosankan.


"N..Natalia..."


"Hm."


Talita tak begitu berani untuk membantah karna bisa saja Natalia juga menyetop uang di Rekeningnya.


"A.. Tidak ada, kau bisa percayakan Papa padaku."


"Rawat dengan baik. sekali saja dia sakit parah, kau akan merasakan hidup DI JALANAN."


Tekan Natalia dengan Dokter Andra yang melajukan Mobil pelan meninggalkan Gerbang Kediaman dimana Pak Anton masih membisu ditempat.


............


"Sam! cabut semua tuntutanmu ke Pengadilan!"


Nyonya Maria yang tengah berdiri dibelakang Sam yang hanya diam berdiri didepan dinding kaca yang transparan menatap keluar dimana pemandangan gedung-gedung tinggi didepan sana menghiasi matanya.


Tak ada tanggapan dari Sam yang berdiri gagah dengan kedua tangan masuk ke kedua sisi saku celananya. wajahnya begitu tenang dan datar tak bergurat apapun.


"Sam! Momy tahu kau sangat mencintai Qyara, kalian hanya salah paham dan..."


"Itu keputusanku!"


Satu kata yang membungkam Nyonya Maria untuk bicara. sungguh Sam memang tak pernah digoyahkan atas apa yang telah ia ambil dan tetapkan, sampai matipun akan ia tak akan merubahnya.


"Sam! Momy tahu kau mendekati Natalia hanya demi membuat Qyara mengerti. tapi sekarang..."


"Selesaikan urusan rumah tanggamu. baru kau mengurusku!"


"SAM!!!!"


Bentakan itu hanya dijawab wajah sinis dan senyum miring Sam yang tahu Dadynya tak pernah mencintai wanita ini. pria paruh baya itu tak pernah bersikap hangat pada mereka, bahkan. sedari kecil Sam ditempa untuk menjadi penerus Kerajaan Bisnis Bilions.


"Jaga bicaramu!"


"Hm. lakukan apa yang kau mau, sebelum surat cerai ku beriringan dengan punyamu!"

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2