Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Merasa bersalah!


__ADS_3

Suara batuk keras itu terdengar didalam kamar besar yang telah dijaga beberapa pelayan sedari semalam. Tuan Hartono selalu kambuh bahkan tak hayal pria paruh baya itu selalu berdiam didalam kamarnya karna enggan keluar dengan kondisi yang semangkin memburuk.


"L...Litaa..!"


Serak Tuan Hartono memanggil nama Talita yang sama sekali tak pernah ia lihat setelah pergi malam itu. Talita tak pernah mengunjungi Tuan Hartono yang tengah beradu dengan sakit kerasnya didalam ruangan ini.


Bibik Mina yang melihat kondisi Tuan besarnya yang semangkin parah mulai merasa sangat khawatir. apa yang akan terjadi kedepannya kalau sampai Natalia belum juga pulang? hanya wanita itu yang bisa mencari berbagai obat meredakan sakit sang Papa.


"Tuan!"


"Dimana, Talita?"


Tanya Tuan Hartono bersandar ke kepala ranjang dengan syal yang membalut lehernya. wajah pria itu terlihat memucat dengan wajah lelah dan sekarat.


"Nona muda sudah pergi pagi-pagi sekali. Tuan!"


"P..pergi.."


"Iya. Tuan! sepertinya ada urusan mendadak."


Helaan nafas Tuan Hartono muncul memejamkan matanya sejenak. kenapa ia sangat khawatir? kenapa rasanya ia telah gagal menjadi seorang ayah yang baik sampai Talita tak pernah mempunyai kemandirian dan kebijaksanaan?


"Tuan. apa Nona Lia akan.."


"Aku tak ingin membahas wanita itu."


Bibik Mina terdiam bungkam. ia sangat merindukan wanita itu bahkan Kediaman besar ini sepi tanpa kepolosan dan sifat kekanak-kanakan wanita itu.


Karna tak ingin membuat mood Tuannya berubah. Bibik Mina langsung keluar menutup pintu kamar lalu melangkah turun kebawah. suara perdebatan di bawah sana menarik langkah cepat Bibik Mina untuk mendekat.


"Dimana. Lia?"


"Bukan urusanmu!"


Talita yang tampak baru saja pulang tengah bertentangan dengan Dokter Andra yang selalu datang untuk mencari Natalia. namun, Talita selalu mengelak bahkan ia lebih ingin mendekati Dokter Andra yang sangat naik darah.


"Kau pasti melakukan hal buruk padanya!!!"


"Kalau iya, kau mau apa? marah. mau memukulku?"


Tantang Talita membuat wajah Dokter Andra yang selalu damai ketika bersama Natalia pun langsung merah padam mencoba mengontrol dirinya sendiri.


"Kau memang wanita lintah. Papamu sakit berat tapi kau malah berkeliaran dengan pria tak jelas di luar sana."


"Tutup mulutmu. dia bahkan lebih dari segi apapun dibandingkan kau!!!"


Dokter Andra membuang muka lalu berbalik melangkah pergi membuat Talita mulai merasa sangat muak. ia pikir jika Natalia sudah enyah dari Kediaman ini maka hidupnya akan damai. tapi nyatanya, semuanya kacau bahkan Perusahaan sekarang mulai terbengkalai.


"Sial!!! Natalia!!! Natalia!!!! kau memang sumber masalah!!!"


Bentak Talita kembali pergi membuat Bibik Mina menggeleng heran. wanita ini selalu panas dan tak pernah tenang, entah apa yang akan menyadarkannya kelak kalau hidupnya itu tak tentu arah.


..........

__ADS_1


"Alfin!!!!"


Suara berat bariton milik Sam yang tengah mencari putranya ke seluruh penjuru lantai atas. ia tak menemukan bocah itu di kamarnya bahkan, tak biasanya Alfin keluar kamar kalau Tuan Anderson tak berkunjung.


Ia yang baru bersiap untuk bekerja pun harus berkeliling kamar karna Bocah itu. sudah cukup semalam ia dibuat jengkel dengan wanita kuman yang menamparnya karna tersadar di gendongan Sam yang mau mengantarnya ke kamar atas. tapi sayangnya bukannya ucapan terimakasih tapi ia malah dihadiahkan tamparan pedas.


"Tuan!"


"Dimana, dia?"


Tanya Sam geram pada Fagan yang terlihat baru selesai memeriksa area Kebun dibelakang.


"Tuan kecil tengah ada di Kebun buah dibelakang Kediaman."


Sam lansung melangkah cepat kesana. wajahnya benar-benar kelam karna tak pernah ia mengijinkan Alfin ke luar seperti itu karna banyak yang mengincar nyawa putranya.


Para pelayan yang melihat kemarahan Tuannya hanya bisa diam menunduk bungkam. Maya yang tengah melihat dari arah luar pun langsung terkejut akan kedatangan Tuannya kearea belakang jauh dari lapangan golf didekat Taman Manshion.


"Tuan!"


Sam hanya melalui Maya yang memucat. bagaimana kalau Tuan Mudanya marah besar saat melihat apa yang dilakukan dua manusia itu di Kebun Buah lebar dibelakang sana?


"Yang ini bagus!!"


"Tapi, ada ulatnya. mau makan buah ada ulat?"


Suara dua manusia yang tengah fokus memilih jeruk segar yang tengah berbuah lebat di tanah perkebunan dibelakang. Alfin tampak bahagia berlarian ke pohon satunya dan ke arah Natalia yang tengah memantau aktifitas bocah ini.


"Yang hijau lebih manis!!"


Teriak Alfin terbahak saat Natalia malah mengunyah kulit jeruk yang dibilang manis. padahal rasanya pait tapi itulah Natalia yang malah bahagia melihat Alfin mengejeknya.


"Coba yang ini!"


Natalia memberikan satu potong buah jeruk ke tangan Alfin yang dengan lahap memakannya. bahkan, bocah itu lebih suka makan bauh disini dari pada yang sudah ada di Kediaman.


"Enak?"


"Enak! mau lagi!"


Natalia memberikannya lagi seraya duduk didekat persinggahan yang teduh dengan Alfin yang memilih duduk di atas paha Natalia yang mengusap keringat di kening Alfin. ia begitu memperlakukan Alfin lembut selayaknya putranya sendiri.


"Alfin!"


Alfin yang tengah mengunyah potongan jeruknya seketika terhenti mendengar suara dingin yang lansung merusak moodnya.


Natalia yang melihat raut wajah Alfin yang berubah muram pun langsung menatap Sam yang tampak memandangnya membunuh.


"Kau membawanya ketempat seperti ini!!"


"Tempat yang bagaimana?"


Tanya Natalia memeluk hangat Alfin yang hanya diam. ia sudah lelah dikurung terus didalam kamar sana tanpa diperbolehkan keluar seperti ini.

__ADS_1


"Kembali ke Kediaman!!"


"Tapi..."


"Cepat!"


Sam menarik lengan mungil Alfin yang turun dari pangkuan Natalia. mata bocah itu terlihat menatap Natalia penuh permohonan agar menolongnya kali ini.


"Tuan! Tuan kecil masih ingin bermain disini."


"Kau tahu apa? kau hanya akan membuat keributan besar!!"


"Tapi aku masih mau disini!!!"


Bentak Alfin menyentak tangannya dari genggaman Sam yang seketika semangkin mengeraskan wajahnya kelam.


"Kauu!!"


"Aku masih mau disini!"


"Kau bisa bermain di dalam!" tegas Sam masih mengekang.


"Tapi. kenapa? kau selalu menganggapku hewan yang kau kurung semaumu. kenapa kau tak membunuhku saja. ha???"


"ALFIN!!!"


Bentakan itu membuat Alfin langsung memanjat paha Natalia yang juga gemetar mendengarnya. para penjaga kebun yang melihat dari kejahuan pun hanya diam menyaksikam itu semua.


Suasana seketika hening dengan suara tangis tertahan Alfin yang membuat hati Natalia teriris. ia merasakan jelas jika ada sesuatu yang membuat Sam begitu menjaga ketat Putranya tapi dengan caranya sendiri.


"Bundaa hiks!"


Natalia terdiam mendengar panggilan Alfin padanya. ada perasaan senang dihati Natalia saat kata itu terdengar sangatlah penuh arti.


"Sudahlah. anak laki-laki tak pernah menangis, kau kuat. bukan?"


Alfin masih terisak di pelukan Natalia yang paham. jika tingkah nakal bocah ini memang muncul karna kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya. walau selama ini Alfin sering bersikap Arogant tapi ia sudah mulai menyayangi Natalia yang sangat tulus padanya.


"Permisi!"


Natalia menggendong Alfin yang tak mau menatap Sam yang terdiam kaku memandangi nanar kepergian wanita itu.


"Tuan!"


Fagan mendekat melihat Tuannya yang terlihat termenung sendiri atas apa yang baru saja terjadi. kata-kata Alfin dan semua yang telah terjadi hari ini.


Lama Sam memandangi kebun luas miliknya ini. bahkan bekas potongan jeruk yang dimakan Alfin tadi masih ia tatap nanar dengan hati berkecamuk.


"Sebaiknya anda bicara dengan Nona Natalia. ia terlihat lebih paham soal Tuan kecil."


"Kau hendel segalanya. aku tak ke perusahaan!"


Fagan mengangguk mengerti dengan Sam yang kembali melangkah keluar Perkebunan.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2