Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Semuanya Milikku!


__ADS_3

Seketika Talita terkejut saat tangan lembut siapa yang berani menampar pipinya sekeras itu bahkan membawa rasa panas disekujur wajah Talita yang terlihat merah padam. matanya mengigilkan amarah yang besar menguasai ruangan ini.


"Berani kau menamparku!!!"


Talita mengayunkan tangannya kembali kewajah Natalia yang dengan cepat menangkapnya membuat Bibik Mina menutup mulutnya syok dengan Tuan Hartono yang masih tak percaya kalau yang berdiri dihadapannya adalah Natalia.


"Jaga bicaramu pada Papaku!!"


Geram Natalia mencengkram lengan Talita dengan kuat sampai wanita itu meringis sakit akan tekanan jari-jari lentik ini. ia benar-benar tak menyangka Natalia akan seberani ini padanya.


"Lepas!!!"


"Dia sedang sakit. bukannya merawat kau malah menambah sakit jantung. Papa! kemana otakmu Talita???"


Natalia mendorong Talita kasar hingga tersungkur ke lantai sana selayaknya apa yang dulu dilakukan padanya. tapi, ini bukanlah soal balas dendam atau melepas kepedihan hati. Natalia berdiri sebagai tameng keluarga ini bukan sebagai seorang yang bangkit karna kebencian.


Tuan Hartono tak mampu bicara banyak selain menatap wajah Natalia yang terlihat menyimpan amarah. tatapan yang begitu datar dan penuh dengan ketegaran itu menyayat hati Tuan Hartono yang dibungkam oleh kenyataan.


"Lihatlah! kau berusaha mengambil hati Papa hingga kau akan merebut segalanya."


Natalia menyeringai mendengar ucapan Talita yang sangatlah menjijikan. apa begini isi kepala semua manusia yang begitu gila akan harta dan kekuasaan?


Melihat respon Natalia yang santai membuat tanda tanya besar di benak Talita tapi tidak dengan Tuan Hartono yang diam membisu seakan memikirkan sesuatu.


"Kau tahu? tak perlu aku bersandiwara sepertimu. itu sangat menjijikan."


"Apa maksudmu? ha!!!" bentak Talita tak mengerti hingga Natalia berdiri disamping ranjang Tuan Hartono yang tengah dilanda gugup. apa Natalia tahu sesuatu? atau wanita ini sudah merencanakannya?


"Katakan pecundang!!!"


"Baiklah. di hidupku kekayaan itu yang mendatangiku. bukan aku yang mencarinya!"


Ucapan Natalia semakin memanasi Talita yang sudah tak bisa membendung rasa penasarannya. namun, Natalia lebih santai mengambil air putih dan duduk disamping Tuan Hartono dengan tegap dan begitu anggun meminumkan itu ke bibir kering Papanya penuh kelembutan.


"Katakan. Sialan!!!" .


"Semua kekayaan Pramudita. itu milikku!"


Duarrrr....


Seketika Talita terkejut setengah mati dan langsung berdiri kaku menatap Tuan Hartono yang cukup terkejut akan pernyataan Natalia barusan. mereka semua dilanda rasa syok secara bersamaan tentang bukti nyata dari ucapan itu.


"Kau gila!! sudah jelas semua itu Papa berikan padaku. iyakan Pa?"

__ADS_1


"A.. aku.."


Tuan Hartono gugup menatap Talita yang mulai dilanda ketakutan. wajah Papanya terlihat tak mampu berkata selain tergagap membuktikan kebenaran.


"Pa!!! Katakan!!"


"Tuan Hartono yang terhormat. aku benarkan?"


Tanya Natalia tanpa embel panggilan Papa. ia tadi kelepasan karna amarahnya hingga melenceng dari rencananya. tapi sekarang ia tak mau lagi ikut dalam ikatan ayah dan anak jika menghalangi semuanya.


Tuan Hartono yang mendengar panggilan formal itu seketika dibungkam sangat keras. wajah datar dan begitu licik Natalia bukanlah wajah yang menghiasi Kediaman ini.


"K..Kau..."


"Aku benar bukan? Mamaku menikah denganmu. dan jelas harta ini sedari awal milik Mamaku dan diwariskan padaku. kau pikir aku tak tahu?"


"Pa! ini maksudnya apa? dia berbohong. iyakan?"


Desak Talita tak sabaran hingga Tuan Hartono menatap tegas Talita yang dibuat sport jantung. jangan sampai itu benar? itu sama sekali tak benar.


"Dia benar!"


Sekali lagi Talita terjerumus ketepi ranjang dengan tulang yang lemah tak lagi mampu menopang bobot tubuhnya. wajahnya memucat tak percaya dan menolak semua kenyataan ini.


Tapi. saat sudah dewasa Natalia paham itu surat apa tapi ia tak memusingkan karna hanya ingin hidup tenang. tapi sayangnya keadaan tak mendukung.


"Kau terkejut. hm? cih, wajar karna selama ini kau MENUMPANG di Hartaku!" Natalia menekan satu kata yang begitu terdengar sangat egois dan tragis. tapi itulah adanya tak pernah diganggu siapapun.


"Natalia. tak seharusnya kau bicara soal..."


"Tuan Hartono yang terhomat. kau juga sama, jadi terimalah belas kasihku pada kalian."


Tuan Hartono terperanjat dengan ucapan itu. tapi Bibik Mina yang melihat satu tangan Natalia mencengkram pinggir Dressnya pun seketika tersenyum lembut. kau memang berbeda, kau tak pernah melakukan sesuatu tanpa manfaat pada orang lain. Nona.


"Dan hari ini. aku mengambil semua hak yang diberikan Mama padaku dan tentu aku akan memutuskan semua yang menjadi milikku!"


"Tidak! kau tak bisa melakukan ini!!!"


Bentak Talita bangun dengan penuh kebencian memandang Natalia yang hanya menunjukan wajah tenang. ia mengelap sudut bibir Tuan Hartono yang masih syok dengan sikap Natalia yang berubah.


"Kenapa tidak? mulai sekarang. aku MAJIKANMU!"


"NATALIA!!!"

__ADS_1


"Hm? Bibik! aku ingin dia dipindahkan kekamar belakang dan dia menggantikanmu sebagai PELAYAN di Kediaman ini."


Talita menggeleng cepat tak sudi bahkan ia menentang Natalia dengan pandangan penuh gejolak lahar panas yang meledak.


"Kau tak bisa melakukan ini!!! aku tak akan pernah menurutimu!!"


"Ouh. tak ingin menurut? itu bukan masalah bagiku. aku cukup mengusirmu dan mencabut semua fasilitas yang pernah diberikan padamu. SAMPAH LEBIH BAIK DIBUANG DARI PADA DIPERTAHANKAN HANYA MENAMBAH BEBAN."


Tekan Natalia lalu bangkit seraya memperbaiki selimut Papanya. ia menatap Bibik Mina yang mengangguk mendekati Talita untuk mengarahkannya.


"Silahkan. Nona!"


"Kau ingat. Natalia! aku akan membalasmu lebih dari ini."


"Hm. aku harap kau berhasil."


Jawab Natalia acuh tak ingin terlalu lama meladeni. waktunya hanya 1 hari dan ia harus bisa membereskan segalanya sebelum Tuan Muda Bilions itu mengamuk diseberang sana.


.............


"Fagan!!!!!"


Suara menggelegar yang berulang kali terdengar sejak masuk ke Ruangan kerjanya di Perusahaan. para kariawan juga merasa heran saat wajah Presdirnya tiba-tiba berubah semangkin membeku membuat jantung mereka tak bisa dikontrol.


"Iya. Tuan!"


"Kenapa dia tak menjawab telfonku? ini sudah ke 100 kali!"


Fagan langsung menghela nafas berat menatap Sam yang sedari tadi menghabiskan waktunya menelfon Nona Natalia dan tak ada jawaban. pria ini untuk pertama kalinya menolak Meeting dan setumpuk berkas yang biasa selalu diprioritaskan sekarang diabaikan begitu saja.


"Tuan. anda seharusnya paham kalau Nona sangat merindukan para kerabatnya. mungkin saja Nona sibuk. dan..."


"Sibuk? dia sama sekali tak sibuk. tak ada yang mau mencampuri urusan Kuman itu kecuali orang tak punya pekerjaan."


"Dan itu anda. Tuan!"


Batin Fagan jengah. ia sudah pusing mengurus Klien tapi pria ini menambah pukulan dikepalanya soal urusan asmara. apa kabar Istri pertamanya yang terlupakan begitu saja? cih,ntah apa yang terjadi kedepannya.


...


Vote and Like Sayang..


Author tunggu ss Vote adn Gift sampai malam nanti ya . eps selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2