Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Ada seseorang dibalik ini!


__ADS_3

3 Pria berpakaian serba hitam itu tampak berkeliaran disepanjang semak. mereka sulit menemukan jalan keluar saat mengejar wanita itu, mereka dibawa kedalam semak dan hutan belantara yang sampai malam ini tak juga menimbulkan jalan keluar padahal mereka sudah menuruti kemana wanita itu berlari.


"Ini sudah malam. api ini tak akan bertahan sampai 10 menit kedepan."


Resah seorang pria yang memakai topi hitam itu. ia tengah berdiri didekat api yang dibuat sedari tadi dan terlihat berpijar redup tak bisa menerangi semua lekuk tempat ini.


Suasana juga begitu dingin dengan cahaya rembulan yang redup ditutupi awan hitam dari tangis hujan yang akan turun. tanah disini juga sedikit lembab membuat mereka sulit untuk terus menjaga api tetap menyala.


"Ini semua karnamu!!" Hardik Moang dengan kasar pada kedua temanya. mereka hanya diperintahkan untuk membunuh wanita itu tapi sayangnya kelincahan dalam berlari ditengah hutan sangatlah cepat. harapan mereka hanya pukulan dibahu tapi sayangnya itu tak melumpuhkannya.


"Seandainya tadi kita tak mengejarnya. kita tak akan disini, dan wanita itu pasti juga akan mati didalam sini."


"Kau pikir memanggangnya itu mudah? dia melempar batu padaku. aku hanya mendapatkan Heelsnya."


Salah satunya menunjukan sepatu heels Natalia yang mereka peggang. disini juga tak ada sinyal hingga sulit untuk menelfon Wanita yang menyuruh mereka.


Tak ingin mati konyol didalam hutan sialan ini. ketiganya memilih menerobos kegelapan dengan gamblang menyibak semak-semak berduri yang sesekali melukai kaki dan lengannya. tapi mereka tak perduli, yang jelas mereka harus keluar dan memberi pelajaran pada wanita sialan itu.


Suara-suara binatang liar disini tak menggentarkan langkah ke tiganya karna memang mereka sudah biasa dengan hewan liar. yang dikhawatirkan sekarang itu adalah stok makanan, tak ada sama sekali air atau sekedar buah disini.


"Disana!!"


Moang menunjuk kearah kilapan api dan asap yang ada diseberang sana dan kemungkinan disana itu adalah tempat pemukiman atau bisa jalan.


Dengan bersemangat mereka berlari tunggang-langgang mendekati pijaran api itu bahkan sesekali mereka terjungkal menginjak akar pohon hingga tersungkur ketimbunan dedaunan kering sana.


"Siall!!!!"


Umpat mereka karna kakinya hampir mau patah disalip akar kokoh pohon itu. mata mereka diselumbungi kegelapan karna pijaran api tadi sudah menghilang dari bayang-bayang mereka.


"Dimana?"


"Tadi disini!"


"Sialan!!!"


Mereka saling menyambut makian meraba-raba tempat disampingnya seraya terus berjongkok hingga mereka tak menemukan apapun selain tanah lembab dan berbau solar.


"Ini..."


Seketika lampu didepan sana menyala hingga mata ketiganya langsung menyipit tertekan dalam melindungi netranya. sinaran putih membuat sekitar tempat ini menjadi terang bahkan mata mereka tak bisa dibuka seluruhnya karna sangat silau.


"Apa-Apaan ini. ha???"


Bentak mereka merasa sangat sakit. begitu menusuk mata bahkan ini sangatlah panas. Samar-samar mereka melihat bayangan tubuh kekar seseorang yang berdiri tegap didepan sumber cahaya yang berupa lampu Mobil yang sangat terang.


"K..Kau siapa???"


Pria dengan pakaian serba hitam dan jaket Cool itu tampak duduk diatas Cup Mobil dengan kedua tangan melipat tegas didada bidangnya dengan wajah yang separuh ditutupi topi polosnya.

__ADS_1


"Matikan lampunya!!!!"


Pria itu tak bergeming. bahkan keberadaannya membuat suasana semakin dingin. mereka mulai merinding saat sekilas melihat seringaian misterius disudut bibir sensualnya.


"Belum mengenalku?"


Suara yang begitu berat dan sangat berkharisma. mereka mulai berfikir siapa yang berani melakukan ini pada mereka bahkan begitu sangat hina.


"Kau siapa??? jangan bermain dengan kami!!!"


"Bermain. hm?"


Pria yang tak lain adalah Sam itu menyeringai iblis mengambil satu balok kayu yang diberikan Fagan yang ada disampingnya. ia sama sekali tak membawa banyak anggota selain 3 orang termasuk Fagan.


"Kaki, tangan dan..."


Bughhh...


"Aaaaaass... Brengsek!!!"


Teriak Moang saat bahunya dihantam balok berat itu membuat tulangnya seakan mau patah. 2 temannya sudah gemetar bahkan saat lampu meredum mereka semakin dibuat jantungan melihat separuh wajah mengerikan dengan seringaian serigala itu menghisap keberanaiannya.


"K..Kau ..Kau mau apa. ha?"


"Pelipis!"


Hantaman keras bak bola Golf yang dihantamkan ke kening pria itu membuat tubuhnya ikut terpental beberapa langkah bahkan suara jeritan keduanya memecah malam di hutan gelap ini.


Tatapan membunuh Sam beralih ke pria satunya yang bergegas ingin pergi tapi Sam dengan cepat melayangkan pukulan keras dari ayunan balok yang langsung mengenai betis tulang kering pria itu dengan Balok yang patah.


"Aaaaaa!!!!! Sialan!!!"


"Yang menyuruhmu!"


Tegas Sam berjongkok dihadapan Moang yang meringis memegangi bahunya yang sudah mau patah. kekuatan pria ini menghantamkannya tak main-main bahkan suara angin yang laripun terdengar ditelinga ketiganya.


"T..Tuan.."


"Bicara!"


Penekanan Sam membuat bulu kuduk mereka meremang bahkan ludah itu telah ditegguk kasar sampai jantung yang berlarian kemana tempat.


"K..Kami..."


"Kami?"


"Kami tak mengerti!"


Tinjuan Sam kembali melayang kewajah Moang yang dibuat menjerit keras memohon untuk lepas. mereka tak bisa menyerang karna pukulan Sam membidik sistem saraf ketiganya hingga tak mampu bergerak.

__ADS_1


"Masih tak mengerti. hm?" Sam yang memakai sarung tangan pun mencekik Moang dengan kuat bahkan pria itu sudah memucat tak mampu bernafas. darah yang keluar dihidungnya tak lagi mampu dicegah bahkan ketiganya sangat dibuat kebas dan tak mampu bergerak ditengah rasa sakit ini.


"K..Kami ..."


Sam kembali ingin meninjunya tapi Moang segera memekik keras.


"Kami tak tahu dan sumpah demi apapun wanita itu hanya menelfon!!"


Sam terdiam sejenak dengan Fagan yang sudah meretas semuanya. ia tahu kalau dalang atas semua ini adalah Qyara dan Nyonya Maria, tapi Sam hanya ingin memastikan apa ada pihak lain yang terlibat.


"Kami bersumpah!!! d .dan..dan kami...kami hanya menjalankan apa yang mereka perintahkan dalam bayaran besar."


"I...Iya. Tuan."


Jawab yang lainnya menimpali. lama Sam mengamati wajah mereka hingga satu rencana mulai bergelut dikepala Sam yang tak akan melepas Qyara begitu saja.


"Sepertinya mereka hanya kelompok pancingan. Tuan! saya yakin ada yang bekerja keras dibalik semua ini, tak mungkin mereka ingin membunuh Nona tapi hanya mengandalkan 3 mahluk buangan ini."


Bisik Fagan mengamati cara berexspresi 3 pria itu. Sam pun menduga hal yang sama, pasti 3 pria ini hanya sebagai boneka dan ada yang memantau dari kejahuan.


"Pergilah!"


"A...Apa?"


"Pergi!"


Mereka semua saling pandang bingung saat Sam melepas mereka dengan Fagan yang mengerti rencana Tuannya. ketiga pria itu dengan terseok-seok bergerak menjahui seakan kesetanan masuk dalam semak-semak sana.


Sam kembali berdiri dengan lirikan ujung netranya mengamati setiap lekukan hutan yang sebagian terlihat oleh cahaya lampu Mobilnya.


"Ikuti mereka!"


"Baik!"


2 Anggota yang tadi bersembunyi dikegelapan langsung melesat kearah 3 pria tadi dengan Fagan yang masih diam berdiri dibelakang Tuannya.


"Cabut sahamku yang ada di Perusahaan keluarganya!"


"Baik. Tuan!"


Sam membuka sapu tangannya yang ia lempar kesembarang arah. ia harus memastikan satu dugaan yang mungkin ini akan sedikit berbahaya bagi Natalia, ia punya musuh yang sama-sama memiliki kuasa atas pemberontakan dan ia khawatir jika sampai orang itu tahu soal Natalia.


Fagan masuk kedalam Mobil saat Sam sudah duduk bertopang kaki angkuh dibelakang sana. pria itu melepas Topinya terus menatap lurus memikirkan sesuatu.


"Istriku!"


"Nona Natalia belum tidur. Tuan! dia masih ada didalam kamarnya."


Sam mengangguk datar. ia tadi memang tak ikut pulang karna langsung ke perusahaan, dan ini baru ia mau pulang tapi sayangnya sedari tadi Natalia tak ada menghubunginya. sudah dipastikan wanita itu marah dan tak mau bicara.

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang


__ADS_2