Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Kau sangat mirip dengannya!


__ADS_3

Jepretan kamera dari segerombolan wartawan itu tak berhenti mengambil gambar seorang wanita yang baru saja menyelesaikan syuting perdananya di lokasi Ramayu selatan. mereka terlihat kesetanan mencari wajah-wajah tersohor dan baru berkembang atau bisa dikatakan Aktris lama yang sekarang mulai wara-wiri dimana-mana.


Yah. tentu itulah Talita yang tengah berpose cantik menggandeng seorang pria berwajah ramah yang memberi senyum sehat ke semua Media. keduanya tampak serasi dengan pakaian santai tapi masih menonjolkan keseksian seorang Talita.


"Nona Talita. apa perasaan anda setelah selesai menjalankan Syuting Perdana dengan Aktor ternama Agrelo Denanta?"


"Iya. apa ada agenda baru atau deadline selanjutnya?"


Talita menjawab dengan senyuman yang sangat terlatih seraya sesekali melempar pandangan manjanya pada Teo pria berambut hitam legam dengan wajah mulus yang manis menggoda sang Aktris.


"Rasanya sangat lega. aku berharap semua kalian tetap mendukungku!"


"Nona. bagaimana tentang wanita yang menampar Tuan Teo?"


Seketika pertanyaan itu membungkam Talita yang membungkus rasa gugupnya dihadapan kamera karna pasti Teo akan kembali marah dengannya.


"A.. itu kesalahan pembantu di rumahku! maklum dia agak tak waras jadi yaa.. begitulah."


"Tuan Teo! apa anda membalas sesuatu dari kejadian itu?"


Talita menekan lengan Teo agar menjawab hingga wajah jengah pria itu terlihat disembunyikan berlapis wajah santai dan bersahabat.


"Tidak ada. dia hanya tak mengenalku."


"Tapi. kenapa.."


"Sudah ya!!!"


Talita menengahi hingga melangkah pergi tak ingin memperpanjang tapi sayangnya para wartawan itu masih mengejarnya sampai ke dekat Mobil didekat lokasi Syuting ditaman.


"Nona Talita!!!"


"Nona!!"


Semua itu disaksikan mata cantik berlapis lensa seorang wanita yang tengah berada didalam Mobil mewah berwarna hitamnya. rambut pendek diurai dengan lipstik


tebal yang menekan kesan dewasa dari auranya.


"Dia siapa?"


"Dia Aktris pendukung dari Agensi Gemilau araksa. Nona!"


Qyara hanya mendiami jawaban Manajer Bimo yang ada disampingnya. pria dengan watak jantan itu terlihat membisu menduga apa lagi yang akan dibuat wanita ini.


"Nona. saya harap anda tak berbuat hal yang merusak citra anda dihadapan masyarakat lokal."


"Cih. bukankah dia anak Keluarga Pramudita?"


"Iya. Nona!"


Seketika seringaian Qyara muncul. ia tak akan membiarkan Natalia lolos dan hidup bahagia satu Kediaman dengan suaminya. ia yakin Sam hanya marah sesaat karna pria itu tak akan pernah bisa berpaling dari pesonanya.


"Jalan!"


"Baik. Nona!"


Mobil miliknya melaju pelan meninggalkan lokasi Taman kota ini untuk kembali ke Perusahaan Yucin. ia ada jadwal yang harus diselesaikan untuk Show minggu depan.

__ADS_1


Disepanjang perjalanan. Qyara memikirkan bagaimana membunuh Natalia atau bisa saja ia menghancurkan hidup wanita itu dkkediaman sana.


Drettt..


Ponsel Qyara berbunyi hingga memperlihatkan nama seorang wanita paruh baya yang selalu mendesaknya tapi tak mampu melakukan apa-apa. tentu Qyara hanya bisa menahan rasa kesalnya dengan mengangkat panggilan itu.


"Hello. Mom!"


"Qyara! kau harus membunuh wanita itu!"


Wajah Qyara terlihat mengeras. bicara itu sangat mudah padahal melakukannya di Kediaman sana sangatlah susah.


"Mom. itu tak mudah."


"Kau tenang saja. Momy punya rencana agar Natalia keluar dari Kediaman itu dan juga hidupmu."


Qyara lansung berbinar cerah merekahkan bibir merah merona miliknya.


"Bagaimana?"


"Kau cukup turuti saja apa yang nanti Momy katakan. semuanya sudah diatur."


.........


Gemilau senja itu sudah terlihat namun seorang wanita yang tengah berlari santai dilapangan Golf sana tak menghentikan latihan kerasnya. ia hanya butuh waktu beberapa hari agar berat badannya turun karna ia memang tak begitu gemuk.


"Semangat. Bunda!!!!"


Alfin menyoraki dari bangku taman dengan rusa-rusa jerman yang mengiringi langkah jenjang Natalia mengelilingi tempat luas hijau segar ini. wajah Natalia tampak merah karna pembakaran lemak ditubuhnya apalagi tadi Sam memberinya susu yang semangkin membuat tubuhnya ringan dan fres.


Maya tak lupa mendampingi Alfin menonton bersama jerih paya wanita yang tadi berusaha sekeras mungkin. semangatnya begitu membara melawan waktu yang menekan mentalnya. kata-kata Sam yang siang tadi menekannya berhasil memantik api kepercayaan diri Natalia untuk menjadi apa yang diimpikan.


"Apa? Sayang!!"


"Kesini!!"


Teriak Alfin menyoraki Natalia yang jauh dari mereka tapi wanita itu terlihat berlari mendekat dengan Alfin yang turun dari bangku taman menyodorkan sebotol air dingin yang segar.


"Ini. Bunda!"


"Terimakasih. Anak Tampan!"


Natalia mengambil botol yang diberikan Alfin. ia duduk di bangku taman seraya menegguk air segarnya dengan Maya yang ingin mengelap keringat Natalia tapi segera disangga wanita itu.


"Tak usah."


"Kenapa? kau Nonaku dan.."


"MAYA!!!"


Pekik Natalia tak suka mencubit pinggang Maya yang terkekeh pelan merangkul pundak Natalia ringan tanpa risih akan keringat wanita ini.


"Selamat kau akan jadi Aktris. hm?"


"Maya. jangan mulai lagi!!!"


Suara yang begitu kesal sampai membuat para pekerja dibelakang sana ikut senang melihat aura bahagia yang melingkari Mashion besar ini. tempat yang dulu dingin dengan sunyi bercampur mendung telah digeser oleh keceriaan yang dibawa seseorang.

__ADS_1


"Bunda. kenapa bibir Bunda bengkak? apa tamparan tadi begitu parah?"


Seketika Natalia membeku dengan pipi yang merah karna kembali terbayang akan peristiwa bersama Pria aneh itu. Sam memang tak mengatakan banyak hal selain menjawab TIDAK ADA. HANYA KHILAF.


"A.. ini .. iya. tadi agak sakit."


"Benarkah?"


Tatapan Maya menyelidik sampai Natalia lansung mencoba mengalihkan pembicaraan yang akan merujuk pada suatu hal.


"Aa... aku itu.. Kenapa Mr Jeon tak datang?"


"Mr Jeon?"


Tanya Alfin mengulang dengan ringan naik keatas pangkuan Natalia yang tak mau bersentuhan karna ia masih berkeringat tapi sayangnya bocah ini masa bodoh.


"Hm. seharusnya dia datang, tapi mungkin ada urusan lain aku juga tak tahu. Bunda!"


"Oh iya. bukankah kau ada lomba berpuisi. hm?"


Alfin mengangguk mengelap keringat Natalia yang berjatuhan dikening mulusnya. wanita ini terlihat begitu fress karna diberi perawatan dalam segi minumannya.


"Iya!" jawab Alfin tak bersemangat dan acuh menarik pandangan Natalia pada Maya yang tahu kalau Tuan kecilnya tak pernah ingin mengikuti lomba besar seperti itu.


"Kenapa murung? seharusnya kau bahagia!"


"Untuk apa? itu lomba biasa dan tak menguntungkan."


Santai Alfin tak berminat. Natalia berfikir apa anak ini tak ingin menunjukan kalau ia bisa dan begitu cerdas dihadapan orang tuanya?


"Kan kalau Alfin menang. Alfin bisa membanggakan Papa dan Mama. Alfin!"


"Aku tak punya Mama. aku hanya punya kau!"


Natalia terdiam membisu melihat wajah Alfin yang mengeras. seorang ibu memang sangat dibutuhkan dalam menemani masa kecil yang masih perlu arahan seperti ini.


"Kalau begitu. ikutlah demi aku!"


"Papa pasti tak akan mengijinkannya."


Natalia menghela nafas halus mengecup puncak kepala Alfin yang tak diperbolehkan keluar sedangkan Lomba itu harus ditonton banyak orang.


"Itu jangan dipikirkan. Bunda akan berusaha agar Papa Alfin memperbolehkan."


"Benarkah?"


Binar Alfin cerah membuat kedua wanita itu Terkekeh dengan Natalia yang mengangguk.


"Hm. Bunda akan berusaha demi Putra Tampan yang cerdas ini."


"Terimakasih. Bunda!!!"


"Sama-sama. Sayang!"


Keduanya berpelukan sampai mata seorang pria yang melihatnya dari kejahuan lansung melemah. netra yang terlihat penuh kekagguman dan penuh kenangan.


"Dia sangat mirip denganmu. Zana!"

__ADS_1


........


Vote and Like Sayang..


__ADS_2