
Tatapan terkejut itu langsung meruak dikala melihat kamar yang kosong. Tak ada wanita itu disini menarik kepanikan mereka semua.
Dokter Andra berlari kekamar mandi tapi tak ada sama sekali dan Nyonya Andini juga ikut khawatir mencari dibeberapa sudut ruangan tapi tak juga ketemu.
"Lia!!!"
"Lia!!"
Panggil mereka tapi tak ada sahutan. hanya suara semilir angin dini hari yang begitu dingin menusuk pori-pori kulit mereka. Dokter Andra mencari ke Balkon hingga menemukan selimut yang dikikat kepinggir Pagar Balkon sampai ke awah sana membuat wajah Dokter Andra memucat.
"M..Maa!!!"
Panggil Dokter Andra gemetar tapi Nyonya Andini yang mematung didekat ranjang langsung menatap heran dengan kertas diatas bantal itu. Ia mengambilnya perlahan hingga deretan tulisan itu Nyonya Andini tatap nanar.
"A..Andra!!"
"Ma!"
"A..Andra i..ini .."
Dokter Andra kembali kedalam mendekati Nyonya Andini yang sudah berkaca-kaca melihat tulisan yang tak begitu baik dan bergetar diujungnya.
"Ma!"
"I..Ini.. L..Lia.."
Dokter Andra merampas kertas itu dan membacanya dengan dahi mengkerut tapi seketika matanya melebar dengan tangan yang gemetar melihat isi suratnya.
"L...Lia.."
Terimakasih. terimakasih atas semua yang kau berikan padaku. And! aku ..aku tak menyalahkan-mu atas segala yang terjadi karna ini memang sudah takdirku dan kebodohanku sendiri. maafkan aku jika aku melukaimu tapi percayalah kau orang baik dan tetaplah jadi orang baik. ..
Mata Dokter Andra berkaca-kaca dengan bibir yang bergetar. terlihat sekali Natalia memaksakan tenaga untuk menulis ini bahkan tetesan air mata itu terlihat nyata dibatin mereka.
Kau manusia dan tentu ada kekhilafan. Setelah ini aku mau kau jadi Dokter Andra yang dulu, Pria tampan yang bijaksana. Daa... Jangan mencariku, aku mau berjalan sendiri dan berbahagialah demi aku. Selamat Tinggal.
"L..Lia.."
Lirih Dokter Andra lemas terduduk ke pinggir ranjang menatap kesekelilingnya. Ada pena diatas meja sana dan itu pasti bekas Natalia yang telah menulis ditengah tekanan dirinya.
"M..Maa!"
"Sudahlah! dia pasti kembali pada suaminya. kau harus tenang, jangan kecewakan. Lia!"
Ucap Nyonya Andini memeluk Dokter Andra yang begitu benci dirinya sendiri. Setelah apa yang ia lakukan Natalia masih memaafkannya tapi bagaimana dengan luka yang telah ia torehkan di hati wanita itu.
"D..dia p..pergi. Ma!"
__ADS_1
"Hm. Lia memintamu untuk bahagia dan menjadi yang dulu. cobalah membangun hidupmu sendiri, hm? Mama yakin Natalia akan selalu dilindungi oleh tuhan. Nak!"
........
Tegukan alkohol itu langsung mengalir di kerongkongan seorang pria yang sedari tadi tak henti-hentinya menghabiskan berbotol-botol minuman beralkohol yang selama ini tak pernah ia sentuh. Matanya yang berair sudah merah menatap kearah tumpukan botol bekas minuman yang sudah berserakan dilantai Bar yang di sewa khusus untuk menjadi teman bagi Pria malang itu.
"Brengsek!!!"
Prankkk...
Lemparan botol itu kembali dihantamkan ke lantai Bar membuat para pelayan dan anggota lain hanya bisa diam tak berani mendekat. Kondisi pria ini sudah sangat buruk dengan Jas yang tak lagi terpasang dan kemeja sudah berantakan membalut tubuh kekarnya.
"Berikan!!"
"T..Tuan!"
Fagan yang menjauhkan botol-botol minuman dari jangkauan tangan Sam-pun tak tahan melihat keadaan Sang Tuan. Ia tak menyangka kejadian itu akan membuat dunia pria ini hancur sampai melarikan semuanya ke Bar yang tak lagi ada pengunjung.
"Berikan!!!"
"Tuan! kau tak bisa terus begini!!"
Sam terkekeh jenaka mendengar ucapan Fagan. wajahnya sudah merah dengan air mata yang entah kenapa keluar padahal ia benci semua ini.
"Begini? Begini?"
"Tuan! ayo pulang. ini sudah dini hari."
"Kenapa?"
"T..Tuan."
"Katakan!"
Sam menatap Fagan yang mengepal. Sumpah demi apapun ia tak kuat melihat pria ini begitu kacau hanya karna wanita. Cinta itu membuatnya hilang akal dan menyiksa diri sendiri.
"KENAPA DIA LAKUKAN INI PADAKU???"
Bentak Sam menendang meja dihadapannya membuat benturan keras diantara barang-barang. Wajahnya mengeras membayangkan bagaimana selama ini Natalia diam-diam bertemu pria itu dan membohonginya. Ia pikir Natalia akan mencintainya tapi apa? wanita itu sama sekali tak punya rasa apapun padanya.
"Aku...aku sudah berusaha menjadi apa yang dibutuhkan tapi kenapa dia sama sekali tak percaya padaku??? apa aku seburuk itu. ha???"
"Tuan! Tuan Besar bisa marah. anda harus mengontrol diri anda."
Sam hanya diam dengan kesadaran diambang-ambang. Ia sangat mencintai Natalia tapi ia hanya perlu momen pas untuk mengatakannya tapi kenapa? kenapa hal yang sudah sedari dulu ia rencanakan malah hancur tanpa sisa.
"D .Dia t..tak memilihku."
__ADS_1
Gumam Sam tersenyum remeh mencengkram dadanya sendiri. Saat seseorang mendekati wanita itu saja ia sudah seakan mau mengoyak dunia tapi bagaimana ia bisa menahan saat Natalia sendiri tak mau menjaga batasan.
"Tuan!"
"Dia..dia tak memilihku!"
Gumam Sam kembali merampas minuman ditangan Fagan yang tak bisa berbuat banyak selain diam menunggu Sam tak sadarkan diri maka barulah mereka bisa bergerak. Jika memaksa maka Sam akan melukai bahkan tak segan membunuh mereka dikondisi seperti ini.
"Amankan situasi disini! jangan ada paparazi atau media."
"Baik!"
Hendry melangkah pergi mengkerahkan pengawalan ketatat. Sesekali mereka menciut mendengar makian Sam mengutuk dirinya sendiri yang begitu tak berguna sampai membuat wanita itu pergi darinya.
"Kau bodoh!!!! kau pria sialan!!!"
"Tuan!"
Fagan terkejut saat Sam memukul kepalanya sendiri membuat mereka prihatin. Membayangkannya saja pasti sudah sakit apalagi mengalami semua ini. Harapan untuk hidup bahagia seketika hancur berganti dengan luka yang membekas.
"Kuman!!"
Sam tersenyum kecil melihat kotak cincin yang ada dilantai sana. Dengan sempoyongan ia mengambilnya dalam penjagaan Fagan yang menjauhkan serpihan kaca dari langkah Sam.
"Ayo.. kau .kau katakan padaku! Sayang, aku..aku harus apa?"
"T..Tuan. Sudah!"
"A..Ayo! aku..aku harus jadi siapa?" tanya Sam lagi seakan melihat wanita itu diukiran cantik benda ini. Ia mengecupnya penuh kasih mencoba meredam semua harapan yang hancur dalam satu malam.
"Katakan! a..apa aku harus jadi seperti dia? berjasss.. dan sangat baik, begitukan?"
Tanya Sam terkekeh saat bayangan Natalia memuji pria itu teelintas jelas dibenaknya.
"Baik! kau mencintainya? iya?"
"Tuan!"
"Kalau begitu menikah! pergilah!"
Ucap Sam dengan wajah tertekan mengatakannya. Bahkan nafas itu seakan tercekat di-kerongkongannya karna ia tak pernah menerima semua ini.
"Pergi! p..pergi, aku..aku tak akan mengganggumu. Tidak akan!"
Gumam Sam lalu melempar benda itu kesembarang arah dan kembali menghancurkan benda-benda disekitarnya. Ia mengamuk semua hal yang bisa ia jadikan pelampiasan untuk meredam keinginan membunuh semua orang.
"Kau penjahat!!! Natalia!!!"
__ADS_1
......
Vote and Like Sayang..