Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Keadaan yang kritis!


__ADS_3

Ruangan ICU yang dipenuhi banyak dokter spesialis itu tengah dibuat mencekam karna denyutan layar monitor semakin melemah. Mereka sekuat tenaga mencoba untuk mengantisipasi berbagai hal buruk termasuk pendarahan yang tak kunjung berhenti di otak wanita ini.


Dokter Agam tampak khawatir menyuntikan obat pereda gumpalan darah di tengkuk Qyara yang tengah di Operasi besar. Sudah 1 Jam mereka disini hingga keringat itu berjatuhan mengadu nasib dan keahlian.


Setelah beberapa lama mereka berperang dengan luka serius ini. Akhirnya Dokter Agam menghela nafas lega saat layar monitor kembali normal dengan pendarahan dikepala Qyara sudah berhenti.


"Bersihkan tubuhnya. aku akan bicara pada keluarga Nona!"


"Baik!"


Dokter Agam melepas kedua sapu tangan dan peralatan lainnya dengan para suster mulai menyelesaikan pekerjaan dengan mengejar waktu. Mereka terlihat prihatin akan apa yang dialami wanita ini.


Sementara Tuan Ambana dan Nyonya Divanti diluar ruangan sana langsung menghadang Dokter Agam yang mengerti kekhawatiran mereka. Linangan air mata itu terlihat penuh di pipi Nyonya Divanti.


"Bagaimana? Bagaimana keadaan putriku?"


Nyonya Divanti masih tersenggu sesak membuat Dokter Agam menghela nafas halus menyiapkan diagnosanya. Ia membuka Masker hingga wajah dewasa pria ini terlihat.


"Anda tenang saja. Nyonya! Nona Qyara bisa diselamatkan."


"Syukurlah, hiks!"


Nyonya Divanti membekap wajahnya mengucapkan kelegaan atas apa yang terjadi. Namun, Tuan Ambana paham ini hanya ucapan pertama untuk mempersiapkan mental mereka.


"A..Apa putriku mengalami sesuatu?" tanya Tuan Ambana dengan suara bergetar. Dokter Agam beberapa kali menghela nafas menyiapkan respon keluarga Pasiennya.


"Nona mengalami benturan keras di kepalanya membuat pendarahan besar. kedua kakinya terjepit Body Mobil dan tulang pinggulnya retak parah."


Duarr...


Keduanya terkejut bahkan Nyonya Divanti sudah tak mampu berdiri selain luruh ke lantai dingin ini. Tangisnya kembali pecah bahkan tak bisa dijabarkan bagaimana keadaannya sekarang.


"Qyaraaa!!! hiks, Putriku!!"


"Sudahlah!"


Tuan Ambana merengkuh istrinya dengan mata berkaca-kaca. Membayangkannya saja ia sudah sakit. Putrinya yang begitu ia sayangi seketika mengalami kehancuran yang tak pernah diduga sebelumnya.


"Bagaimana sekarang. Ambana??? hiks, Qyara tak akan menerima semua ini!!!"


"Nyonya! kemungkinan besar memang akan mengalami kelumpuhan tapi saya tak bisa memastikan apa akan permanen atau total dan mungkin sementara. anda bisa tenang."


Dokter Agam bersimpati mengucapkan kalimat penenag agar suasana tak semakin runyam. Para pengawal yang melihat itu hanya bisa bungkam tanpa suara. Mereka tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan ini bergulir.


"Bagaimana keadaan Manajer Bimo?" timpal Tuan Ambana sadar.


"Manajer Bimo kritis! dia melindungi wajah Nona Qyara dengan tangannya."


Jawab Dokter Agam lalu melangkah pergi membawa kegundahan Tuan Ambana. Manajer Bimo itu orang terdekat bagi Qyara dan ia berhutang pada pria itu atas kecelakaan yang menimpa keduanya.


"Entah apa yang terjadi sampai mereka seperti ini?!"


"Qyara.. hiks. Putriku!"


Isak Nyonya Divanti meratapi ruang ICU. Bagaimana respon Qyara saat dia bangun nanti? jelas wanita itu tak akan menerima karna tubuhnya adalah aset terpenting bagi Qyara.


"Tuan. Nyonya!"


Suster keluar dari ruangan itu membawa plastik yang menunjukan barang-barang Qyara. Ada ponsel, tas dan perhiasan lain yang dipakai wanita itu tadi.


"Suster!"


"Ini barang-barang. Nona!"


Tuan Ambana mengambilnya lalu berterimakasih menatap kepergian suster itu dan beralih memandang benda-benda mahal ini.


"Sudahlah! biarkan Qyara istirahat."


"Tapi.."


Drett...


Tiba-tiba ponsel Qyara berdering membuat perhatian keduanya teralihkan. Tuan Ambana mengeluarkan benda pipih itu hingga nama seseorang tertera disana.


"Pembunuh?"


Gumam Tuan Ambana tak mengerti. Nyonya Divanti ikut melihat tapi ia tak tahu hingga terpaksa Tuan Ambana mengangkatnya.

__ADS_1


"Hallo!"


Tak ada jawaban sama sekali. hanya suara panci penggorengan dan semilir angin membuat dahi Tuan Ambana mengkerut kembali menyapa.


"Hallo! ini siapa?"


Tiba-tiba ponselnya mati tanpa jawaban menarik rasa kesal mereka. Keduanya masih tak menyadari siapa yang tengah berkomunikasi selama ini bersama putrinya.


......


"Bunda!!!!"


Suara teriakan seorang bocah yang baru datang malam ini karna baru saja menyelesaikan pembelajarannya. Mata elang Alfin tampak menyala-nyala pada Rani yang ada didekat pintu ruang rawat.


"Kenapa tak ada yang bilang kalau Bundaku sakit??? bajingan kalian semua!!!"


"T..Tuan!"


"Sekarang apa yang kalian perbuat. ha???"


Teriak Alfin melahap semua Pengawal dan Rani yang sudah gemetar. Bocah ini sebelas-dua belas dengan Papanya kalau sudah marah maka oksigen disini seakan berkurang ke hidung mereka.


"Tuan! maafkan saya."


"Sekarang! kalian semua harus..."


"Kau bisa diam. ha?"


Suara kelam berat Sam yang keluar dari ruangan rawat menatap membunuh Alfin yang segera mendekatinya. Wajah Sam terlihat kelap dengan sorot mata menggeram.


"Kenapa kau tak memberitahuku? bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bunda?" suara Alfin bergetar membuat Sam menghela nafas menarik bahu Alfin untuk masuk.


"Bundamu tidur!"


"B..Bunda."


Lirih Alfin melihat Natalia masih terbaring diatas ranjang king-size yang sudah menggantikan bangkar Natalia tadi. wanita itu terlihat sudah lebih baik karna tadi Sam membuat satu rumah sakit ini gemetar karna suara Sam menggelegar memarahi setiap Dokter yang berleha-leha keruangan istrinya. Hampir setiap waktu Sam menghubungi Dokter agar memeriksa Natalia yang sudah dilayani dengan sangat-sangat baik.


"Jangan berteriak. Bunda-mu bisa bangun."


"Hm."


"Pergilah ganti pakaianmu. biar aku yang menjaga, Bunda!"


"Hm."


Sam tak bergeming. Ia enggan bergerak kemanapun selain duduk disini menemani Natalia yang juga belum bangun, padahal sudah sedari sore ia tak lagi sadar.


"Kapan Bunda bangun? tadi aku bawa makanan!"


"Mana?"


"Maya yang bawa!"


Sam menoleh ke dekat pintu hingga melihat Maya yang terlihat meletakan Paper-bag diatas meja sofa dengan tatapan datar Fagan yang tak bisa dihindarkan.


"Lama-lama Maya akan jantungan terus dekat Uncel Fagan!"


"Diamlah. itu bukan urusanmu."


Ketus Sam ikut berbaring disamping Natalia seraya menggenggam jemari lentik itu. Ia merapikan selimut Natalia untuk menjaga wanita ini agar tetap nyaman.


"Kenapa leher bunda merah?"


"Diamlah. itu bukan urusanmu." geram Sam dengan suara tertahan tapi Alfin mengepal saat menduga apa yang dilakukan pria ini pada bundanya.


"BUNDA SEDANG SAKIT TAPI KAUU..."


"A..Apa?"


Natalia terperanjat mendengar suara keras Alfin yang sudah Sam gulung dengan Jasnya membuat kepala bocah itu hilang dari pandangan Natalia yang terkejut.


"T..Tuan."


"Tidurlah. hm? tak ada apa-apa!"


Ucap Sam menyembunyikan Alfin dibelakang tubuh kekarnya membuat dahi Natalia mengkerut. Kepalanya sedikit pusing tapi ia merasa ini lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Tadi ada suara Alfin."


"Tidak ada. ayo tidur lagi!"


Sam memposisikan kepala Natalia kembali berbaring rileks membuat bibir Sam melengkung lega. Wajah Natalia tak begitu pucat membuatnya mengecup pelan kening wanita ini.


"Emm!!!"


Suara Alfin memberontak dikuncian Sam yang menekan wajah tampan Alfin agar tak menganggu tidur damai istrinya. Tentu Sam tak menyakiti Alfin karna ia hanya membekap mulut bocah lantang ini.


"Tuan!"


"Hm?" Sam menjawab dengan ranjang yang sedikit berguncang karna tendakan Alfin.


"Kau sudah makan?" tanya Natalia merapikan rambut Sam dengan lembut. melihat Natalia yang sudah lebih baik menarik keinginan Sam untuk bermesraan disini.


"Belum!"


"Kalau begitu. makan! ini sudah malam."


"Iya tapi..."


Grett...


"Alfin!!!!"


Bentak Sam saat gigi tajam bocah itu mengigit tangannya hingga kuncian Sam terlepas dengan Alfin yang meloloskan diri dari bekapan Jas Papanya.


"Rasakan! dasar mesum."


"Kauu!!"


"Bunda!!!"


Alfin moncat kedekat Natalia yang terkejut menopang tubuh Alfin yang sudah ingin ditarik Sam yang tak rela bocah itu sampai sedekat ini dengan istrinya.


"Pergilah pulang!!!"


"Tidak mau!!!"


Alfin meloncat turun dari ranjang dengan Sam yang ikut mengejar bocah nakal satu ini sampai beberapakali terjungkal karna karpet didekat sofa.


"Pulang!!!"


"Bunda!!! Dia itu suka mencuri.."


Sam melempar Alfin dengan sepatunya membuat Natalia terkekeh pelan melihat Ayah dan Anak ini berlarian dihadapannya. Alfin bersembunyi dibalik punggung sofa dengan Sam yang menatapnya tajam dan terkesan mengancam.


"Mencuri apa?"


Tanya Natalia menikmati raut gugup Sam yang menggeleng pada Natalia.


"Tidak ada."


"Ada!" sambar Alfin menjulurkan lidahnya menarik rasa gugup Sam yang masih mengintimidasi.


"Dia bicara omong kosong."


"Dia mencuri..."


Alfin menyipitkan matanya seakan menggoda Sam yang benar-benar kelimpungan. Bagaimana jika Natalia tahu tabiat buruk Sam yang selama ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi? bisa jatuh harga diri Presdir satu itu.


"Apa? Sayang?"


"T..Tidak ada... dia.."


"Dia suka mencuri foto Bunda lagi Mandi!!"


Degg...


"Alfin!!!!"


Tawa bocah itu pecah berlari keatas ranjang meninggalkan Sam dalam rasa malu yang menggunung.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2