Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Ledakan!


__ADS_3

Pagi pun menyapa. semua orang tengah sibuk dilantai dasar dengan Maya yang juga cekatan membantu Natalia menata makanan diatas meja makan. pagi ini terasa lebih cerah saat Natalia turun sendiri ke dapur untuk memasak hingga mereka bersemangat. Biasanya wanita ini tak sempat memasak karna pekerjaan dan mengurus Alfin dengan sang Pak Tua.


"Nona. apa.."


"Ayolah. May! aku tak suka kau panggil itu."


Decak Natalia setelah meletakan piring diatas meja menatap Maya yang cekikikan.


"Kau ini kenapa? lebih bagus aku panggil Nona." cerca Maya geli.


"Aku tak suka. kitakan sudah berteman. May!"


Natalia menghembuskan nafas kesal. tapi Maya hanya menjawab dengan senyuman, ntahlah menggoda Nyonya Muda ini sangat mengasikan.


"Baiklah. Lia! berhentilah menekuk wajahmu, aku bisa dikoyak Tuan Sam."


"Ok. sekarang aku mau kau ambilkan Buah yang ada dikebun, tadi Fagan juga ku suruh mengambil Jeruk."


Seketika raut wajah Maya memucat. hal yang sangat membuatnya gugup adalah dengan berdekatan bersama Fagan yang dulu pernah menamparnya.


"May!


Natalia memeggang bahu Maya yang tersikap membalas senyuman.


"A.. aku ..aku.."


"Pergilah. dia tak akan melukaimu, percayalah padaku."


Akhirnya Maya pasrah melangkah menuju pintu belakang untuk ke Kebun Buah milik Kediaman. Helaan nafas Natalia muncul menatap kepergian Maya yang pasti masih trauma akan sikap Fagan disini.


"Bunda!!!"


Suara ceria itu membuat Natalia langsung memutar tubuhnya kebelakang. dilihatnya lembut sosok bocah nakal yang sudah sangat tampan dengan seragam sekolahnya, begitu mempesona dengan garis wajah Sam melekat nyata.


"Alfin!"


"Pagi. Bunda!!"


Alfin berlari turun membuat Natalia sigap menyongsong putranya. ia mendekap hangat tubuh mungil itu dengan omelan kecil dibibir cantiknya.


"Sudah berapa kali Bunda bilang? jangan berlari di tangga!" Natalia berkecak pinggang.


"Maaf. Bunda! Alfin terbiasa." mencengir ringan.


"Lain kali jangan begini. kau bisa saja jatuh dan terluka, sehat itu mahal. Sayang!"


"Iya. Bunda! Uang Papa banyak, jadi tenang saja."


Canda Alfin sedikit berbisik membuat Natalia menggeleng lalu menggendong ringan Alfin menuju meja makan. para pelayan didekat mereka hanya menunduk mengawal Majikannya.


"Wow!!! Tumis kangkung!!"


"Sesuai permintaan. Tuan Kecil."


Jawab Natalia yang memasak makanan sederhana tapi memiliki rasa dan penampilan kelas atas. Ikan panggang, dan Tumis Kankung saos tiram. tak lupa untuk makanan Sam Natalia hidangkan Bacem dan Taucho yang beberapa hari ini tak sempat ia hidangkan.


"Apa yang kau beri pada. Putraku??"


Suara bentakan itu membuat Natalia diam sudah menduga kalau wanita itu akan kembali membuat masalah. ia masih sangat penuh ketenagan mengambil makanan untuk Alfin yang mengepal.


Qyara yang melihat kesantaian Natalia. Dibuat semakin naik pitam dan melangkah mendekat, ia benar-benar muak dengan wanita ini.


"Kau mau memberi putraku makanan. Kambing!!"


"Makanan kambing?"


Risih Natalia tak percaya akan apa yang Qyara katakan barusan. benar-benar menyulut emosinya.


"Yah! seorang Alfin Austin Bilions. Putra tunggal Sam Austin Bilions kau beri makan, rerumputan!!"


"Matamu buta atau kabur, ha?"


Tanya Natalia masih sulit menerka sikap Arogan wanita ini.


"Kauu.."


"Perbedaan Rumput dan Kangkung! kau tak tahu? woww... aku sangat kagum pada seorang model terkenal tapi tak bisa membedang mana rumput mana sayuran."

__ADS_1


Natalia tersenyum miring menambah pesona dari wajah ayunya. ia mulai menyuapi Alfin yang diam tak mau menganggu perlawanan Bundanya.


"Alfin. Sayang! Mama sudah menyiapkan restoran mahal dan makanan kesukaanmu, ada Stik dan semuanya masakan barat. Nak."


Qyara membujuk Alfin yang dibuat menatapnya membunuh.


"Pergi dari sini."


"A..Alfin. Mama mau mengajakmu bertemu dengan rekan kerja dan teman-teman. Mama! ayolah kita.."


"PERGI DARI SINI!!!"


Bentak Alfin emosi. sikap Arogannya kembali muncul seperti dulu membuat Qyara panas, ia sama sekali tak suka dengan sikap nakal Alfin yang selalu menyusahkannya.


"Pasti otakmu telah dicuci wanita ini. bukan?"


"Jaga bicaramu!!"


Degg...


Qyara terkejut saat suara dingin penuh penekanan itu mengalun penuh intimidasi. suasana tiba-tiba mendingin dengan aura kelam Sam yang melangkah mendekati Natalia.


Wajah tampan berlapis pesona itu mengeras seakan menelan Qyara hidup-hidup. ia tahu betul Qyara ingin merusak kehidupan rumah tangganya dengan Natalia yang luar biasa bisa mengimbangi dominasi wanita itu di Kediaman ini.


"Sayang!"


Natalia berucap mesra melirik sinis Qyara yang terbakar api kecemburuan. Sam hanya diam berdiri dihadapan Istri Ayunya yang dengan cekatan merapikan dasi dileher kokohnya.


"Kau sangat tampan. pagi ini."


"Benarkah?"


Natalia mengangguk dengan gestur manja sang kuman beraksi kembali. wajah Sam kembali bersahabat menatap lama wajah cantik nyaris sempurna Natalia yang semalam membuatnya tak tidur.


"Hm. kau yang terbaik."


"Aku tahu."


Angkuh Sam membuat Natalia menekan pandangannya. ia masih kesal dengan Sam yang semalam mengikatnya dikedua sisi ranjang dan mulai melakukan pemerkosaan, pria ini seakan kesetanan bercouspley menjadi penjahat dan mengempurnya semalaman.


"Kau harus memaafkanku. Nyonya!"


Balas Sam tak kalah berbisik mesra membelot pinggang ramping sexsi Natalia yang masih mengalirkan bekas remasan tangannya semalam.


Qyara dibuat semakin naik pitam. jika membuat masalah dihadapan Sam maka pria ini akan semakin membencinya bahkan tak segan mengusirmua dari sini.


"Sam. Sayang!"


"Sekali lagi kau bicara. aku tak akan mempertimbangkan permintaan. Ayahmu."


Tekan Sam membuat Qyara tercekat. Fagan dan Maya yang baru datang membawa keranjang buahpun ikut terdiam melihat perdebatan kecil dihadapan mereka.


"Tuan!"


"Bawa dia!"


Titah Sam pada Fagan yang mengangguk melangkah mendekati Qyara yang tak ingin disentuh tangan kotor itu hingga memilih pergi sendiri.


"Ini buahnya. Nona!"


"Terimakasih. Maya!"


Maya mengangguk melangkah pergi. pandangan Fagan masih datar seakan tak menganggap wanita itu ada didekatnya. Ia juga ikut pergi karna tak mau menganggu acara pagi indah Tuannya.


"Awas!"


"Apa?"


"Tanganmu!"


Ketus Natalia yang tak bisa lepas dari belitan lengan kekar Sam yang menyeringai mesum melihat bekas lebelnya di atas dada Natalia yang sedikit tertutup oleh Dress manis wanita ini.


"Semalam kau sangat Sexsi dengan kedua kaki di..."


"Diam!"


Tekan Natalia membekap mulut Sam yang berbisik padahal disini banyak pelayan yang pura-pura mematung. Alfin yang mendengarnya pun ikut merasa jengkel dengan tabiat Papanya.

__ADS_1


"Aku mau makan. jangan aneh-aneh." ketus Alfin jengah.


"Hm. Baiklah!"


Dengus Sam memilih duduk disamping kursi Natalia tadi hingga wanita itu berada ditengah-tengah pria berwatak sama ini.


"Kau memasak ini untukku?" Sam berexspetasi tinggi.


"Tidak!"


Datar Natalia merasa jengkel dengan intonasi bahagia pria ini. pinggangnya sudah mau rontok dihantam terus-menerus tapi Sam juga tak rela melepasnya samalaman.


Meski jawaban Natalia ketus. tapi Sam sangat senang, tak terjabarkan hati pria dingin itu telah mencair melihat berbagai asupan kesukaan yang berbahan tempe lezat ini.


"Kuman!"


"Hm?"


"Aku tak bisa makan sendiri."


Jawab Sam dengan wajah Arogan hingga Natalia menghela nafas halus mengambil piring yang sudah ia tata tadi dan mencuci tangannya. pria ini selalu bersikap seakan lumpuh tak punya tangan ketika makan.


"Cepatlah!"


"Sabar."


Kesal Natalia menyuapi Sam yang dengan lahap memakannya. bisa-bisa ia akan menjadi gajah kalau tak bisa mengontrol jam olahraganya karna makanan ini sangat lezat, Natalia sangat pandai mengatur semua menu pagi, siang dan malamnya.


"Lukamu sudah baikan?"


"Sudah. hanya sedikit nyeri."


Jawab Natalia terus menyuapi Pak Tuanya ini. seperti biasa Sam selalu menjilati jari Natalia yang masuk kemulutnya membuat wanita itu melotot tajam tapi Sam membalas dengan senyum messum.


"Bunda. nanti ikut belajarkan?"


"Iya. Sayang!"


Jawab Natalia pada Alfin yang ada kelas bahasa hari ini. dahi Sam mulai mengkerut berfikir sesuatu hingga wajahnya kembali mengeras.


"Dengan tempurung kelapa itu lagi?"


"Tuan. ayolah! Mr Jeon bukan tempurung kelapa." membayangkan rambut Mr Jeon yang seperti mangkuk.


"Kau membelanya??"


Geram Sam tak terima. ia sudah tak lagi mengizinkan Pria itu datang karna pandangannya pada Natalia selalu memiliki rasa kagum dan ia tak suka itu.


"Tidak. tapi..."


"Cukup! aku tak mau mendengarnya!" Sam kekeh dan naik pitam menyudahi makannya.


"Tuan! aku hanya belajar me.."


"TIDAK TETAP TIDAK!!!"


Tekan Sam lalu berdiri ingin pergi tapi suara ledakan dibelakang membuat separuh Kediaman tergoncang dengan Natalia yang terperanjat langsung memeluk Alfin yang juga ikut terkejut.


Semua Pelayan mulai mengigil setelah mendengar ledakan itu dengan para pengawal berlarian kearah sumber ledakan.


"T..Tuan."


Natalia yang memucat memeluk Alfin yang juga Syok. asap api itu berkobar dibangunan belakang dengan serpihan kaca yang lolos ke Bagian depan.


"Pergilah kekamar atas!"


Titah Sam dengan wajah mendingin dan keras. pria itu terlihat mengepalkan tangannya dengan melihat exsistensi ledakan yang sangat besar sampai mengguncang tanah yang mereka pijaki.


"T..Tapi .."


"Pergilah!"


Sam mengecup kilas bibir Natalia yang mengangguk diiring para Pelayan ke kamarnya. tubuh Natalia masih gemetar karna seakan terjadi gempa bumi disini.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2