Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Keterkejutan!


__ADS_3

Mentari diatas sana sudah tersenyum cerah dengan kemilau emas yang telah merak diseluruh penjuru tempat. pagi ini cuaca akan menjulang terik terbukti dengan panasnya yang mulai menyengat mendaki waktu yang terus beranjak pergi.


Kiranya itulah yang telah dirasakan oleh seorang wanita dengan Hotpants dan baju kaos santai itu. ia tengah menjemur pakaian dengan liukan tangan kepanasan akibat cahaya mentari yang membakar kulitnya.


"Sial!!! ini panas!!!"


Talita mengibas wajahnya yang merah padam dengan keringat bercucuran. pagi-pagi sekali Natalia sudah datang kekamarnya menyiramkan segelas air dingin hingga terjadi perdebatan sengit namun Talita tak mampu melawan Natalia yang benar-benar merubah cara bicara dan perlakuannya.


"Kau lihat saja!! aku tak akan pernah melepaskanmu!!"


"Nona. jemur dengan baik!" Bibik Mina menyangga Talita yang tengah menginjak-injak pakaian Tuan Hartono dan baju mahal Natalia yang ia cuci dengan sangat susah-payah.


"Diam kau Pelayan!!!"


"Nona Natalia!!!"


"Kauu!!!"


Talita benar-benar geram kembali memungut pakaian yang ia injak lalu kembali ke kamar mandi belakang untuk mencucinya lagi. tentu Bibik Mina terus mengawasi itu karna ini perintah dari Nonanya.


"Dari mana dia mendapatkan pakaian semahal ini? ini bukan dari Brand abal-abal."


Gumam Talita bingung sekaligus syok ketika melihat merek pakaian Natalia yang berkisar Ratusan Juta dan ini harga yang mencekik. belum lagi Heels wanita itu yang bisa saja membangun satu rumah besar dengan perabotan mewah kekinian.


Sesekali Talita terlihat membayangkan dan berfikir keras. apa Natalia memiliki seorang laki-laki simpanan yang kaya? atau wanita itu menjual dirinya ke pria berada.


"Aku harus mencari tahu ini. dia tidak bisa sesenaknya bergelimang harta diatas penderitaanku."


Sedetik kemudian. mata Talita membuat sempurna menduga siapa yang tengah ada dibalik kekuasaan yang sekarang Natalia dapatkan, ia teringat soal ucapan Bos Renom yang menyuruhnya secepat mungkin membuat Natalia mencabut kembali peringatan keras dari Herrscher itu.


"Baiklah Talita! kau harus bisa mengambil kembali kepercayaan Natalia padamu dan mulai menguasainya."


Gumam Talita menyeringai dengan rencana yang sempurna. jika Natalia sudah ada digenggamannya maka ia dengan mudah mendapatkan pria itu.


"Cih. Natalia! kau akan kembali seperti dulu. TUNDUK padaku."


.......


Mata para pelayan sana tak bisa dialihkan dari sosok yang tadi baru saja turun dengan penampilan yang tak biasa bahkan membuat mata mereka terbelalak penuh kagum. penampilan yang begitu luar biasa ini sudah membuat satu Kediaman Pramudita tak mampu bergeming karna untuk pertama kalinya wanita ini berdandan sehebat ini.


"Bik. aku keluar sebentar! tolong jaga Papa. ya?"


Natalia pamit pada Bibik Mina yang terlihat tak segan memeluk Natalia yang juga dengan hangat membalasnya. ia tengah terburu-buru karna panggilan terus tertera dilayar ponselnya dari seorang pria menyebalkan yang selalu menghubungi tanpa kejelasan.


Tuan Hartono yang melihat dari atas sana hanya diam menatap Natalia yang juga melempar pandangan datarnya. didalam hati wanita itu sangatlah bahagia melihat Papanya mulai membaik karna ia merawatnya kemaren dengan telaten.


"Untukmu. jangan lupa meminum teh yang tadi ku buatkan, sudah susah aku meraciknya hanya untuk mengurus Pria Tua di Kediaman ini."


Tuan Hartono hanya diam merasa sangat sakit dengan ucapan Natalia. tapi, ada rasa senang ketika melihat wanita itu berkeliaran lagi disini.

__ADS_1


"Bik. aku pergi!"


"Nona kesini lagi. kan?" Bibik Mina menahan lengan Natalia yang tersenyum kembali memeluk wanita paruh baya ini.


"Aku baru pergi malam ini. Bik! jadi kalau sore masih bisa kesini."


"Baik. Non!"


Natalia pamit pergi pada beberapa pelayan yang menunduk hormat membiarkan Natalia melangkah menuju pintu utama. ia melewati beberapa pekerja yang ada disebelah Taman tapi masih saja menyapa ramah.


"Pak!"


"Non!"


Pak Anton mendekati Natalia yang terlihat begitu terburu-buru dan begitu dikejar oleh waktu.


"Pak. jangan berikan kunci Mobil Talita!"


"M..Maksudnya?" Pak Anton bingung sekaligus heran.


"Kunci Mobilnya Pak Anton yang peggang. tapi jika Talita bertanya dan ingin keluar bilang saja kuncinya padaku!"


Pak Anton mengangguk ingin mengantar tapi Natalia menolak karna ia menunggu Supir yang Sam kirim untuknya. tentu Natalia tak bisa melawan karna tak ingin berdebat panjang.


"Non. lebih baik diantar saja sama supir!"


Tolak Natalia halus berdiri didepan Gerbang yang agak teduh seraya mengecek Ponselnya. Pak Anton sangat nyaman menatap wajah ayu Natalia yang mendamaikan, ia salut akan tingkah laku luhur wanita ini walau semuanya sudah berubah tapi masih saja tetap sopan dan baik hati.


"Anton!!!!"


Suara keras dan kasar dari arah jalan sana membuat perhatian Natalia teralihkan pada Mentari yang tengah berjalan mendekat tanpa sadar akan keberadaan Natalia.


"Ada apa?"


"Aku mau Mobil yang biasa."


Mentari dengan santai ingin masuk kedalam Gerbang tapi dengan cepat Natalia melenggangkan kaki jenjangnya menghadang langkah Mentari yang dibuat bingung langsung menatap kearah Natalia yang dengan santai berdiri menatap datar dirinya.


Lama Mentari menatap intens wajah cantik Natalia yang semakin lama semakin mengingatkannya pada seseorang dan...


"NATALIA!!!"


Teriakan keras Mentari menutup mulutnya tak percaya akan semua ini. ia menatap dari ujung kaki jenjang nan begitu putih itu sampai akhirnya Dress Toska selutut yang membungkus epick pinggang ramping yang terbentuk sempurna dengan dua tali kecil dibahu putih Natalia menambah kesan anggun dan begitu cantik.


"K..kau .."


"Jaga suaramu disini!"


Mentari semangkin syok dengan logat bicara Natalia yang berani bahkan kepala wanita ini tak lagi tertunduk dengan tatapan takut entah kemana hilangnya.

__ADS_1


"Kau!!! luar biasa kau bisa seperti ini."


"Kau siapa datang ke tempat orang lain?!" sinis Natalia menatap jijik Mentari yang dibuat tercengang.


"Kau gila? atau depresi. dimana saja kau jual tubuhmu hingga.."


Plakkk ..


Pak Anton terkejut saat Natalia menampar keras wajah Mentari yang memucat bahkan wanita muda berseragam ini tak lagi mampu berkata banyak.


"Kau terlihat menuntut pendidikan. tapi cara bicaramu seperti orang yang tak BERPENDIDIKAN."


"Pergilah dari sini!"


Pak Anton mengusir Mentari yang masih menatap kosong Natalia yang sudah muak dengan manusia-manusia sampah yang mengisi Kediamannya. semalam, Natalia melihat CCTV kediaman hingga ia tahu kalau Mentari sudah sering keluar masuk sesuka hatinya dan menggunakan fasilitas Keluarga tanpa kepentingan apapun.


"Kau pasti memanfaatkan lelaki kaya!!!!"


"Nona. apa saya harus.."


Natalia menggeleng mencegah Pak Anton untuk mengurus Mentari yang memakai dirinya disepanjang jalan yang sunyi. ia terlihat sangat kesal menandai wajah Natalia yang hanya diam tak ambil pusing.


"Kalau dia kembali lagi ingin meminjam fasilitas Kediaman. jangan di beri kecuali Bibik Mina memperbolehkan."


"Baik. Nona!"


"Dan satu lagi! kau .."


"LIA!!!!!"


Natalia menoleh hingga matanya terbelalak melihat siapa yang tengah berlari kearahnya dengan wajah tampan yang benar-benar masih ia kenal dan semua itu tak berubah.


"A..Andra!"


Gumam Natalia terkejut dengan cepat saat pria ini langsung memeluk tubuhnya dengan erat bahkan Natalia mendengar suara detakan jantungnya.


"Lia!!! ini.. ini kau kan?"


"A.. aku .."


Natalia tak mampu berkata banyak selain pasrah dengan mata kosong tak tahu harus apa.


Ia tak tahu kalau sepasang mata elang itu telah memancarkan api kemarahan bahkan wajah tampannya sudah membeku dingin mencengkram peggangan kursi Mobilnya dengan kuat.


"Berani kau!"


.........


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2