
"Sialan!!!!!"
Suara bentakan yang terdengar keras sampai membuat pria dengan wajah pasrah itu hanya diam membiarkan wanita ini meluapkan segala emosinya dengan memporak-porandakan ruangan riasnya.
Wajah cantiknya sudah begitu panas dengan nafas memburu menatap kearah cermin. rambut pendek berwarna agak kecoklatan yang berantakan beserta pandangan penuh akan amarah.
"Ini tak bisa dibiarkan! Sam tak bisa menceraikanku!!!"
"Nona. sebaiknya anda meredam emosi anda karna besok akan ada Syuting besar." Manajer Boby mencoba menengahi.
"Bagaimana bisa aku tenang? Suamiku telah dipengaruhi wanita sialan itu. Sam mengirim gugatan cerai kepengadilan aggama. aku tak bisa menerimanya!!!"
Teriak Qyara begitu naik darah dan mendidih. baru saja ia diberitahu oleh pengacaranya kalau Sam telah mengajukan gugatan cerai bahkan akan diproses lebih cepat.
Ia tak akan bisa menerima itu karna Sam adalah pria sempurna untuknya, bahkan. Sam tak lagi mengirim uang kerekeningnya seperti biasa membuat Qyara tak bisa menyalurkan Hobby gilanya.
"Aku tak mau tahu. aku tak ingin bercerai darinya!"
"Nona. saya rasa anda bisa membuat pertemuan keluarga! Mama dan Papa Nona pasti juga akan membantu mempertahankan rumah tangga kalian."
Qyara terdiam sesaat dengan ucapan Manajernya barusan. yah, ia bisa membuat keadaan seakan menyudutkan Sam agar mencabut gugatan perceraian. ia bisa membuat pria itu kembali mencintainya.
"Yah. aku ..aku tahu. Sam pasti hanya ingin membuatku kembali bersamanya, aku ..aku bisa membujuknya lagi."
Qyara seakan gila dengan ambisinya sendiri membuat Manajer Boby hanya bisa bungkam. Qyara begitu menggilai sosok Sam tapi ia tak bisa melepas karirnya yang sedang dalam masa kejayaan.
.........
Mobil mewah itu langsung masuk kedalam Gerbang yang telah dibuka oleh Pak Anton. pria dengan memakai seragam penjaga itu mendekati Mobil asing yang belum ia lihat sebelumnya.
"N..Nona?"
Pak Anton terkejut saat melihat Natalia keluar dari pintu Mobil dengan seorang pria bertubuh kekar dan wajah yang samar-samar terlihat dilampu kediaman.
"Pak!"
"Non. itu...itu siapa?"
Pak Anton masih belum melihat wajah Sam dengan jelas karna pria itu tengah menggendong Alfin yang tertidur dalam perjalanan. tentu Natalia paham dengan semua respon orang-orang yang melihat Sam saat bersamanya.
"Ini atasanku! sudah larut malam dan tak mungkin pulang karna putranya juga tertidur."
"A.. Iya. Nona!"
Pak Anton tak ingin bicara terlalu banyak hingga meredam rasa penasarannya membiarkan Sam berbalik pergi mengikuti langkah Natalia disampingnya. netra elang Sam selalu terlihat datar tapi ia mengamati Bangunan megah yang tak setara dengan miliknya itu.
Natalia membawa Sam masuk hingga tampak dalam yang bergaya klasik ini bisa terpapar jelas, tak ada pelayan yang berkeliaran karna memang Natalia membatasi jam kerja sesuai dengan performa yang ada. lagi pula ia hanya menetapkan beberapa pelayan untuk bekerja malam.
"Lewat tangga!"
"Hm."
Sam mengikuti Natalia menuju tangga. dinding-dinding yang penuh foto masa kecil ini tak luput dari lirikan mata tajam Sam yang mencari foto Natalia.
"Dimana fotomu?"
"Ha?"
Natalia menoleh berjalan mundur menaiki tangga seraya menatap Sam yang masih mengamati ruangan utama miliknya.
"Fotomu?"
__ADS_1
"Em. tidak ada! aku jarang berfoto."
Jawab Natalia memberi senyuman ditengah rasa gugupnya seakan itu memang benar. padahal makna pertanyaan Sam itu tentang hal masa kecil yang tak mau Natalia ungkit.
Sam hanya mengangguk datar tanpa mau mengungkit lebih. lebih baik ia mencari tahu sendiri kehidupan Natalia bagaimana dari pada bertanya dengan jawaban senyum hangat yang terlihat sangat baik.
"Cepatlah. nanti Papa turun!"
"Memangnya kenapa?" tanya Sam uang sudah memijaki lantai atas.
"Nanti dia syok melihatku membawa laki-laki ke Kediaman ini."
Sam hanya acuh. ia mengikuti Natalia yang melangkah menuju kamar tamu untuk meletakan Alfin yang sudah tak sadarkan diri akan mimpinya dirangkuhan kokoh sang Papa.
Natalia membuka pintu coklat yang ada didekat mereka hingga Sam masuk bersama Natalia.
"Baringkan diatas ranjang!"
"Hm."
"Bunda.. emm!"
Alfin menggeliat saat Sam membaringkannya keatas ranjang empuk ini dengan Natalia yang memperbaiki posisi Alfin yang menyalangi guling disampingnya.
"Bunda!"
"Tidur yang nyenyak. anak Bunda!"
Natalia mengecup lama kening Alfin lalu menyelimuti si kecil ini membuat mata Sam termenggu diam dengan desiran hati yang menghangat. rasa sesal itu perlahan muncul dibenaknya saat kehangatan Natalia mampu mencairkan segala hal.
"Tuan! saya permisi!"
Natalia tercekat saat Sam mencengkal lengannya hingga jantung Natalia tak mampu dikendalikan. bayangan dimana kejadian panas itu membuat Natalia gemetar sendiri dan lebih takut berduaan dengan Sam.
"A.. itu ..kekamarku!"
"Dimana?" pertanyaan misterius.
"A....jika..jika butuh apa-apa kau bisa menelfonku. Tuan!"
Natalia buru-buru melepas cengkalan Sam yang menatap aneh Natalia yang telah keluar dari pintu kamar. wajah datar Sam berubah begitu licik dengan lengkungan bibir yang memaknai rencana liarnya malam ini.
"Kau tak bisa lari dariku. Kuman!"
Sementara Natalia diluar sana sudah begitu lega sekaligus aman. jantungnya tak lagi berdebar kuat dengan wajah yang kembali rileks seakan lepas dari kandang harimau.
"Syukurlah. akhirnya lepas!"
Gumam Natalia melangkah menuju kamarnya yang tak jauh sari kamar tamu. memang Natalia menggunakan kamar tamu untuk karna kamarnya ada dibelakang.
Natalia teringat tentang Papanya hingga ia membelokan langkah ketangga satunya untuk memeriksa apa pria itu masih sakit parah atau sudah membaik.
Setibanya disana ia melihat Bibik Mina yang baru keluar dari kamar Tuan Hartono dengan membawa nampan berisi makanan yang masih utuh.
"Biik!"
"Non!"
Bibik Mina tersenyum bahagia melihat Natalia yang telah pulang setelah lama menunggu karna keadaan Tuan Hartono kembali parah dan kambuh saat tadi sore.
"Bik! apa Papa baik-baik saja?"
__ADS_1
"Non. Tuan besar tak mau makan! dia selalu diam didalam kamarnya menunggu Nona Talita yang tak pulang sedari pagi."
Seketika hati Natalia langsung tersayat mendengar ucapan Bibik Mina yang tak mungkin merahasiakannya. tapi, Natalia segera tersenyum tenang seakan sudah biasa
"Ini makanan baru?"
"Iya. Non! ini Makanan baru Bibik ambil."
"Ya sudah! Bibik pergilah istirahat, biar aku yang mengurus. Papa!"
Ucap Natalia mengambil alih nampan ditangan Bibik Mina yang mengangguk tak mau membantah dan melangkah pergi dengan Natalia yang masuk perlahan mendorong pintu kamar.
Terdengarlah batuk kering Tuan Hartono yang masih tersandar dipunggung ranjang dengan syal yang membalut lehernya. wajah pria tua ini selalu menatap balkon seakan menunggu seseorang, tapi sayangnya itu bukanlah dirinya. sangat ironis bukan?
"Tuan!"
Tuan Hartono menoleh menatap kearah Natalia yang mendekat dengan wajah tegasnya. walau hati Natalia sakit tapi ia akan berusaha kuat menghadapi apapun nantinnya.
"Untuk apa kau kesini?" suara yang sangat sinis dan tak terima.
"Kau pikir membuat makanan itu mudah?"
Tuan Hartono mengepalkan tangannya menatap tajam Natalia dengan bibir pucat dan kering. semua itu tak luput dari perhatian Natalia yang sangat khawatir akan keadaan Papanya.
"Pergi dari sini!"
"Uang yang dikeluarkan untuk membeli bahan makanan ini sangatlah banyak. dan kau tak mau memakannya?"
Tuan Hartono diam menatap penuh kebencian Natalia yang semakin arogan. wanita ini tak lagi lugu dan menurut seperti sedia kala.
"Cih. pria mana yang kau kadali hingga bisa merubah barang rongsokan menjadi barang lelangan?"
Tanpa sadar ucapan Tuan Hartono mampu membelah batin Natalia yang terasa dicabik. ini begitu sakit, bahkan sangat sakit yang terus membelenggunya.
"Pergilah dari sini!!!"
"Baik. tapi kauu harus memakan ini karna aku tak ingin menghabiskan uang mengurusmu terlalu lama."
Natalia dengan paksa menyuapi Tuan Hartono yang enggan menerima tapi Natalia sedikit kasar hingga pria paruh baya itu mau tak mau menerimanya. Natalia mencoba meredam rasa sesak didadanya bahkan tangannya sudah gemetar tak mampu terangkat untuk berbuat sekasar ini.
"M..Makan!!"
Natalia menekan katanya dengan mata menggenang yang tak dilihat Tuan Hartono yang memilih makan sendiri barulah Natalia berdiri langsung berbalik dengan air mata yang menetes dipipi mulusnya. kedua tangan itu terkepal meredam rasa sakit yang munusuk batinnya.
"Habiskan semua itu! atau kau akan melihat Putri kesayanganmu ku siksa dengan keras."
Ucap Natalia lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa menutup pintu kamar itu dan segera langsung tersandar dipintu yang telah ditutup rapat olehnya.
"P...Papa!"
Lirih Natalia dengan isak tangis tertahan mencoba lebih tegar. ia harus bisa bertahan demi keselamatan Keluarga ini, Talita tak bisa dibiarkan terlalu bebas karna ia tahu Teo bukanlah pria baik-baik.
Tapi kenapa Tuhan? sampai saat ini ia masih tak bisa membenci Papanya. ia masih ingin diperhatikan tapi kenapa? kenapa keadaan sama sekali tak berubah memihaknya?
Natalia tak sadar. kalau sedari tadi sepasang mata elang itu selalu mengawasinya termasuk melihat kejadian didalam sana. ia terlihat masih diam berdiri didekat tiang tak jauh dari Natalia yang terlihat berusaha kuat didepan semua orang.
"Sebenarnya hatimu terbuat dari apa?"
.....
Vote and Like Sayang
__ADS_1