
Jam terus bergulir hingga waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Natalia belum juga bisa pulang karna ia tengah mengurus soal Bisnis Papanya dan soal pengobatan pria paruh baya itu.
Paman Farman sangat mengagumi cara Natalia menghandle Proyek dan Investor yang ingin pergi. Pemikiran wanita ini sangat maju tentang mempromosikan kinerja Perusahaan mereka lebih pesat lagi karna Perusahaan lain sudah banyak yang mengejar.
"Jadi, aku mau Paman membuat Promosi diberbagai tempat tentang Perusahaan Tambang Batubara kita. aku akan bertemu dengan para Investor yang ingin menarik dana mereka."
"Baik. Nona!"
"Dan satu lagi."
Natalia berdiri dari duduknya dengan selembar kertas yang telah ia buat sedari tadi diberikan pada Paman Farman. itu adalah lembaran perjanjian bagi para Perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya.
"Untuk semuanya. harus mematuhi aturanku! tak perduli mereka S1, S2 atau Master dan Doktor, aku ingin mereka memenuhi standar kerja."
"Berarti kita harus mengeliminasi Kariawan?"
Tanya Paman Farman yang cukup terkejut. selama ini aturan Perusahaan mengutamakan tamatan. tapi, Natalia dengan enteng memberi peraturan baru.
"Yah. Pemasukan kita kurang dan Pengeluaran terus bertambah. untuk meminimalisir itu aku harus mengurangi jumlah kariawan yang tak berkompeten, Paman lihat saja. diantara ratusan orang hanya puluhan yang bersungguh-sungguh."
Jelas Natalia sudah tahu bagaimana kondisi Perusahaan Pramudita Crop. dari ia kecil banyak sampah yang bekerja menerima gaji buta tanpa kerja keras.
"Baik. Nona! akan saya lakukan."
"Hm. dan satu lagi! aku ingin ada satu pengawal yang mengawasi Talita."
Paman Farman diam sejenak lalu mengangguk. ia tak tahu rencana Natalia seperti apa tapi yang jelas wanita ini mengambil langkah yang serius.
Natalia menatap jam yang sudah berputar laju. ia lupa kalau Sam akan pulang sekitar pukul 10, sungguh ia memang sudah lelah sedari tadi memikirkan ini.
"Ya. Sudah! saya permisi, Paman!"
"Iya. Nona!"
Natalia mengemas barang-barangnya lalu melangkah keluar ruangan kerja. untung saja tadi ia sudah memasak dan membuat Teh hangat untuk Papanya hingga pekerjaannya sedikit ringan.
Diluar sana terlihat Dokter Andra yang menelfon. pria itu masih sibuk soal pengobatan Papanya membuat Natalia sedikit lega karna ada yang perduli dengan pria itu.
"Kau bisa menyiapkannya. aku akan memantau kondisi Tuan Besar sebelum Operasinya."
Dokter Andra bicara serius hingga ia melirik Natalia yang sudah berdiri didekatnya. Tak mau membuat wanita itu menunggu ia langsung menyudahi pembicaraan medis ini.
"Lia!"
"Apa katanya?"
Tanya Natalia hangat.
"Pengobatan Papamu bisa dilakukan secara perlahan. aku akan berusaha."
"Terimakasih. ya!"
Ucap Natalia tulus dengan senyuman yang damai. ia sangat berterimakasih karna berkat Dokter Andra Papanya selalu ditangani dengan baik.
"Sudahlah. jangan terlalu dipikirkan, kau fokus saja pada Bisnismu! hm?"
"And! aku khawatir pada Talita?"
Dokter Andra diam melihat kegundahan besar itu. apa yang terjadi sampai wanita ini terlihat sangat tertekan? Sedetik kemudian ia mendudukan Natalia di kursi dekat tangga.
"Ada apa?"
"Tadi lengannya berdarah. wajahnya juga pucat, aku takut jika terjadi sesuatu padanya."
Resah Natalia begitu khawatir. Jika ia menasehati wanita itu maka Talita yang masih begitu licik akan menganggap ia baik dan bisa dikadali.
"Aku tak tahu lagi bagaimana menghentikannya berhubungan dengan Teo. pria itu bukanlah pria baik-baik."
"Itu karnanya. aku bingung harus apa? dia terlalu keras kepala."
Ucap Natalia menimpali jawaban Dokter Andra yang memang tak paham soal itu. Natalia masih belum menemukan jawaban dari kegelisahannya karna hanya satu orang yang bisa ia minta penegasan.
Lama keduanya diam dengan Dokter Andra yang mencoba masuk dalam hati Natalia. tapi kenapa wanita ini tak mau membuka segalanya? memang ia tak akan bisa berkutik soal Talita. tapi ia ingin ada di setiap permasalahan Natalia.
"Baiklah. aku pulang dulu, ya?"
__ADS_1
"A..Apa?"
Tanya Dokter Andra terperanjat. Dunianya yang tadi bergemilau mendadak runyam saat kalimat itu mengalun samar.
"Aku pulang. ini sudah malam."
"A.. itu .kau tak tinggal disini?"
Tanyanya masih penuh harap. ia berusaha mencegah Natalia tapi wanita ini tetap mau pulang sedari tadi.
"Tidak. aku juga harus mengurus Alfin di Kediaman."
"Bukankah ada Mamanya?"
Nafas Natalia seketika keluar kasar. Qyara jangan pernah diharap, wanita itu sama sekali tak akan mau mengurus Alfin walau hanya sekejap saja.
"And! nantiku jelaskan, sekarang aku harus pulang! kau juga harus istirahat."
"Hm. mauku an.."
"Tidak usah. aku memesan Taksi didepan."
Mau tak mau Dokter Andra mengangguk seraya berdiri membuntuti Natalia untuk turun ke lantai dasar. Natalia tahu cara menjaga jarak dengan terus melangkah lebar membuat Dokter Andra tak bisa bersentuhan dengannya.
"Nona!!"
"Aku titip Papa. ya?"
"Baik. Nona!"
Para pelayan dibawah membungkuk hormat memandangi Natalia keluar Kediaman dengan para penjaga yang ikut mengawal. Pak Anton juga siap siaga mendekat setelah berbicara dengan Supir Taksi didepan.
"Nona. saya bisa mengantar anda!"
"Tak usah, Pak! bapak fokus saja jaga Kediaman, lagi pula yang lain juga sibuk."
Tolak Natalia sopan dengan senyum ramah bergingsul cantik itu. ia melangkah mendekati Mobil Taxsi dengan Dokter Andra yang masih mengiringnya.
"And. Terimakasih, Ya?"
"Iya. besok kesini lagikan?"
"Sepertinya tidak. soalnya aku harus bekerja, mungkin nanti akan ku kabari."
"Hm. Baiklah! hati-hati."
Natalia mengangguk masuk ke Mobil. ia melihat jelas wajah kecewa Dokter Andra yang meredam semuanya jadi satu memandangi Mobilnya yang sudah melesat dalam remangan malam.
........
Suara dentuman musik itu terdengar jelas. kemilau lampu bergejolak memporak-porandakan tempat yang tengah menjadi pelampiasan jiwa manusia nakal dan penasaran di muka bumi ini.
Para wanita berpakaian transparan bahkan bikini itu bergerak erotis diatas panggung sesuai hentakan musik dan sofa-sofa pria hidung belang yang dengan nakal mencumbu setiap bagian ternikmat dihadapannya.
"Aku menyukai. pria itu!"
"Hm. tapi aku takut mendekatinya."
Ujar para Wanita penghibur yang masih panas saat melihat tubuh gagah seseorang yang sudah baru datang menemui pria pengunjung Club yang sudah tetap.
Tubuh kekar yang khas dilapisi Stelan kerja itu tampak maskulin dengan tatapan menohok mata elang yang tak bisa mereka hindarkan. Posisi duduknya yang sangat berkharisma membuat para wanita sana kepanasan untuk minta disentuh.
"Lihatlah. mereka ingin naik ke pahamu. Presdir!"
Kekeh Lien yang sengaja meminta bertemu di Club Rhose langganannya. Alasan pertama yaitu, Club ini sangat berkelas dengan para wanita malam yang direkrut dari Model-Model dan sangat cantik. semuanya ada disini dari yang lokal dan Bule dari berbagai negara yang ditawarkan.
"Apa yang ingin anda katakan? Tuan!" Fagan menyela.
"Kenapa terlalu cepat? kau bisa.."
Ucapan Lien terhenti saat manik singa ini sudah mencabiknya. Sedari tadi Sam tak suka dengan tempat ini apalagi para cacing kepanasan itu merusak matanya.
"Baiklah. aku hanya ingin berbicara soal Istrimu, Qyara!"
"Kami sudah bercerai."
__ADS_1
Jawab Sam lugas dan tegas. tak ada keraguan diwajah tampannya membuat Lien yang melihat itu cukup terperanjat. Seorang Sam yang dulu sangat menggilai Model Cantik Qyara sudah bercerai, Cih. apa karna Bidadari cantik temuannya itu?
"Kau bercanda?"
"Jika hanya ini yang kau. bahas! itu sangat tak BERGUNA."
Geram Sam sudah naik pitam. Lien memang musuhnya tapi pria ini tak pernah mau bermain secara terbuka, ia selalu bergelut dibelakang termasuk ingin mengambil apa yang Sam punya.
"Ouhh. santai, Presdir! aku tak hanya ingin membahas itu."
"Sebaiknya anda katakan secepatnya!"
Desak Fagan yang tak mau Tuannya meledak disini. Penguasaan diri Sam memang sangat tenang tapi kalau sudah menyangkut Nonanya maka ia tak akan perduli lagi siapapun dan dimanapun ia berada.
Bar Tender dan beberapa pengawal yang berjaga itupun terlihat gugup takut jika tempat ini tak lagi menjadi kesenagan. Botol-botol Minuman yang ada dihadapan Sam pun disiagakan agar tak melayang kemana tempat.
"Aku tahu kau masih mencintai. Qyara!"
"Bulshit!" umpat Sam berdiri ingin pergi.
"Berikan wanita simpanan mu itu. maka aku akan melepas Qyar..."
Brakkk...
Seketika meja dihadapan mereka tadi ditendang keras kaki kokoh Sam hingga menghantam lutut Lien yang meringis.
"Berikan. Natalia! maka aku akan melepas istrimu!!"
"Brengsek!!!"
Sam melesat kilat menghantam wajah Lien dengan kepalan tangan kerasnya. Darahnya menddidih mengubun dengan amarah yang bergejolak memenuhi jiwanya.
"Akan ku robek mulutmu!!"
"Tuan!!" Teriak mereka histeris.
Sam sudah tak bisa menahan sampai memukul telak wajah dan perut Lien untuk kesekian kalinya. Tubuh kekar itu melesat bagaikan angin dan menggila bak singa kelaparan mencekik Lien yang berusaha melawan tapi kekuatannya tak sebanding dengan Sam.
Sorot mata membunuh dan wajah kelam menakutkan merubah suasana Club menjadi dingin. mereka menepi bahkan berlarian tak berani melihat perkelahian yang begitu mengigilkan tungkai.
"Mati saja kau bersama Kakakmu itu!!!"
"Sialan kau. Sam!!!"
Bentak Lian saat Sam membahas Kakaknya. ia mulai membalas dengan emosi melepas cekikan kuat Sam meremukkan tulang lehernya. Pukulan demi pukulan itu dilayangkan tapi sama sekali tak mengenai tubuh kekar Sam yang sudah berapa kali membuat memar ditubuh Lien.
Sam memukulkan satu botol didekatnya ke bahu Lien dan menendang perut pria itu keras sampai terpental ke tumpukan gelas yang diatur diatas meja Bar hingga pecah.
"Katakan sekali lagi!!!"
Lien tersenyum nanar dengan tubuh berlumuran darah. sekarang ia tahu apa kelemahan Sam sebenarnya? bersama Qyara amarah Sam tak pernah sebesar ini.
"J...Jalangmu!"
Lirih Lien semakin membangunkan kemarahan Sam yang tampak memburu. wajah pria itu mengeras membekukan suasana yang tak lagi bisa tenang.
"Dia jalangmu!!! a...aku uhukk.. aku juga ingin me...merasakan. Kelembutan ku..."
"Kau memang ingin mati!"
Sam kembali melesat kilat dengan gagahnya meginjak tubuh Lien yang juga berkelahi diatas genangan kaca dan beling yang pecah. Tinjuan itu melesat menuju wajah Sam tapi Lien tak bisa menyamakan kegesitan pria ini hingga ia hanya pasrah dihantamkan ke Bar Club.
Melihat kemarahan Tuannya yang tak bisa dikendalikan. Fagan benar-benar khawatir dengan kekacauan ini. Sam tak mendengarkan teriakan mereka karna pria itu sudah berhasrat membunuh Lien yang merendahkan Istrinya.
"Mencegah Tuan itu sama saja bunuh diri."
Ucap Hendry yang tengah mengamankan situasi. para pengunjung di Club tampak diboyong keluar dengan para pengawal Lien yang tak mampu berkutik didalam sana.
"Tuan. para Media berdombong kesini."
Lapor anggota mereka membuat Fagan kebingungan. Sam masih menghajar Lien yang sudah tak bisa dikatakan baik-baik saja. Pria itu terus tertawa meneriakkan kalimat cabul yang membuat Sam semakin naik pitam.
"Kau jaga didepan. aku akan memanggil, Nona Lia!"
"Baik!"
__ADS_1
.....
Vote And Like Sayang..