
Suara tawa renyah itu semangkin mekar bahkan memekik keras sampai menghiasi Kediaman yang selalu sunyi ini. aroma masakan yang tercium harum bahkan terasa begitu lezat dari bau yang menggugah selera semua orang.
Sekarang. Natalia tengah memasak Bacem tempe khasnya yang diminta Sam untuk pertama kalinya pria itu ke dapur melihat langsung bagaimana pembuatan makanan tradisional yang begitu menarik rasa tagih di lidahnya.
Dari wajan yang bergejolak mencampur berbagai irisan sayuran termasuk buncis dan beberapa potongan wortel, Natalia mencampur semuanya menjadi Tauco khas dari kampungnya yang sering ia masak untuk Mbah di Desa.
"Kenapa semuanya dicampur?"
"Hm?" Natalia yang tak fokus dengan ucapan Sam yang tengah mengaduk makannya didalam wajan sana.
"Ini. biasanya hanya tempe saja."
"A.. itu.. aku buat yang lain. ada dua! yang pertama seperti kemaren untukmu dan yang campuran untuk Alfin."
Jawab Natalia seraya membuat Teh dingin daun kelornya beserta Kopi cengkeh yang benar-benar ia racik sendiri. keringat panas itu bercucuran di kening Sam yang merasa sangat susah memasak seperti ini.
"Apa sudah matang?"
"Sebentar!"
Natalia beralih mengambil sendok kecil berdiri di samping Sam yang tampak bersimbah panas bahkan kemeja yang ia pakai sudah lengket terpaksa ia buka dua kancing diatasnya membuat penampilan Bule Jerman ini semangkin seksi dan rupawan.
Mata Sam termangu kaku saat melihat bibir pink segar itu tegah mencicipi hasil kerja keras keduanya. kulit putih Natalia memang sangat bersih menarik rasa aneh yang membuat Sam gelisah.
"Mau?"
Tawar Natalia mengerijab polos menyodorkan sendok yang ia pakai tadi. tapi, tanpa ia sadari Sam melahapnya pelan seakan meresapi rasa manis dari pandangan bibir pink natural miliknya.
"Enak?"
"Hm. lumayan!"
Jawab Sam tak terlalu berlebihan padahal rasanya memang selalu meledakan lidahnya yang mulai terbiasa dengan makanan lokal ini.
Wajah Natalia terlihat berkeringat sama sepertinya. bahkan, membuat makanan seperti ini memerlukan tenaga yang besar dan ketelitian kalau tidak keselamatan akan terpecah karenanya.
Ingatan Sam mulai membayang pada peristiwa pembuangan makanan itu. ada rasa bersalah jika mengingat itu kembali.
Sam asik mandangi Natalia yang memindahkan makanan dari wajan ke mangkuk seraya terus memantau Alfin yang tengah menata piring diatas meja makan sana takut bocah itu malah jatuh.
"Hati-hati. fokus pada.."
"Aa..s.."
Natalia mendesis saat kuah panas itu tumpah ketangannya . Sam langsung tersigap melihat telapak tangan Natalia merah panas dan melepuh.
"Kau ini kenapa tak mendengarku? aku sudah bilang hati-hati!!"
Geram Sam menarik Natalia ke Washtafel dan mengambil air dingin di Lemari pendingin seraya menggapai handuk kecil diatas meja pantri.
"T..tuan..."
"Diam!"
__ADS_1
Sam membasahkan handuk kecil itu dengan air dingin lalu mengompres tangan Natalia yang begitu meradang membuat rahang Sam mengeras atas kecerobohan wanita ini.
"Kalau seperti ini terus kau tak usah ke dapur!"
"A.. itu.. tadi hanya hal biasa. tak perlu se.."
"Biasa? kau tak lihat kulitmu merah begini. kalau infeksi bagaimana? kesehatan itu mahal!!"
Natalia hanya diam membiarkan Sam meniup halus telapak tangannya dengan lembut. perlakuan pria ini terkadang mengingatkan Natalia pada Dokter Andra yang entah bagaimana sekarang keadaannya.
"Sudahlah. aku sudah biasa seperti ini."
"Berikan!"
Paksa Sam kembali menarik tangan Natalia yang tadi enggan untuk melanjutkan pengobatannya. bukan apa-apa Natalia menjadi aneh. ia takut sikap lembut Sam yang begitu sempurna mampu merebut hatinya yang tahu diri akan posisinya.
"Aku tak apa. ini hanya luka kecil. Tuan!"
"Kalau kau mati. siapa yang akan mengurus putraku? pikir dengan otak dangkalmu."
Sam terlihat begitu marah sampai mengetuk kening Natalia yang hanya diam membiarkan itu semua. ia berusaha untuk tak mengambil hati atas apa yang Sam lakukan padanya.
"Bunda!"
Alfin yang terkejut melihat tangan Natalia merah hingga langsung menghujam tatapan tajamnya pada sang Papa.
"Kau apakan. Bunda ku?"
"Bunda. apa dia menyakitimu?"
"Tidak. ini hanya terkena tumpahan kuah makanan tadi."
"Awas!!"
Alfin mendorong Sam yang juga tak mau kalah hingga Sam harus menggendong Natalia menuju kursi makan dengan Alfin yang tak mau mundur untuk mengobati luka Bundanya.
"Bunda! biarkan Alfin mengobatinya."
"Kau masih kecil. tak tahu apapun."
Desak Sam masih mencoba mengusir bocah menyebalkan ini membuat Natalia tersenyum geli menarik Alfin ke pangkuannya.
"Sudahlah. sekarang kalian makan. nanti keburu dingin."
"Aku yang suapi. Bunda!"
Namun. Sam sudah berlari ke dapur mengambil nampan yang tadi sudah disiapkan Natalia hingga wajah Alfin berubah kesal melihat tingkah aneh Papanya.
"Kau makan saja. tadi kau bilang sangat laparkan?"
"Bunda!!! aku mau melakukannya."
Rengek Alfin tak mau kalah tapi sayangnya Sam sudah lebih dulu menyuapi Natalia yang juga menerimanya sampai Maya yang melihat dari kejahuan terlihat berjingkrat senang. akhirnya ia melihat Natalia mulai diterima oleh mereka semua.
__ADS_1
"Kau memang luar biasa. Lia!!"
Gumam Maya merasa malu melihat Sam yang begitu tampan dengan tampilan semberautnya. pria yang biasa tampil rapi berkharisma itu sekarang jadi pria yang kekanak-kanakan dan sangat langka.
"Tuan Besar!"
Maya tersigap saat para pelayan dibelakangnya membungkuk hormat. ternyata Tuan Anderson telah datang dengan tatapan yang tertuju pada ruang makan yang tadi ia dengar suara gemeriahnya.
Langkahnya terhenti ketika semberaut bahagia itu ia lihat di wajah Alfin yang malah asik memeluk Natalia dengan Sam yang menggoda putranya.
"Apa perlu saya panggilkan Tuan Muda. Tuan Besar?"
"Tidak perlu!"
Tuan Anderson lebih memilih duduk di sofa dekat pintu masuk ruang makan. ia tak ingin menganggu keluarga kecil itu untuk bermain sore ini.
"Sayang! kenapa tak.."
Kalimat itu terhenti dikala tatapan mata tajam seorang wanita paruh baya yang tampil glamor itu menangkap wajah asing yang belum pernah ia lihat.
Para pelayan sana mulai gugup melihat kedatangan wanita ini bahkan Maya sudah memucat tak tahu lagi harus apa akan nasip Natalia.
"Apa-apa'an ini???!!!"
Sam langsung menoleh hingga tatapannya tertuju pada wanita paruh baya yang tengah menghujaminya dengan pandangan penuh tanya dan ancaman.
Natalia yang melihat wajah Sam berubah dingin pun lansung menoleh kearah yang sama. Alfin mendekap erat tubuh Natalia yang mulai menelisik wajah wanita itu agak tak asing dengan Sam.
"Sam! dia siapa?"
Tak ada yang menjawab sampai Natalia berdiri dari duduknya dengan Alfin yang masih enggan turun dari tubuh Bundanya.
Tuan Anderson tak menunjukam respon panik begitu juga dengan Sam yang mendekati wanita ini penuh ketenagan.
"Momy berkunjung kesini!"
"Dia siapa? dimana Qyara?"
"Bukankah kau tahu dimana tempat kesukaan menantu kesayangan mu itu?!"
Suara Tuan Anderson datar menengahi raut tak suka istrinya terhadap Natalia yang hanya diam menunduk sopan.
"Tapi. wanita kumu ini siapa?"
"Dia Bundaku!! dan jaga bicaramu!!!!"
Duarrr...
...
Vote and Like Sayang..
untuk yg vote dan kasih gift di kirim ke group.. akan author umumin malam ini ya. jadi untuk persiapan di ss aja duluš„°
__ADS_1