
Langkah lebar kaki jenjang kokoh itu terlihat berlari masuk kedalam Rumah Sakit Medika tak begitu jauh dari sekitar area kecelakaan tadi. Wajah tampannya mengeras kelam dengan dada bergemuruh membayangkan keadaan wanita itu.
"Dimana dia??"
"Disini. Tuan!"
Fagan mengiring Sam yang dengan cepat mengikutinya menerobos beberapa Pasean rumah sakit yang terkejut melihat kedatangannya kesini.
Tepat diruangan rawat disamping sana. Para suster dan Dokter terlihat berbicara dengan Rani yang ikut mendengarkan-pun seketika terdiam saat melihat sosok penting yang mendekatinya.
"Presdir!"
Dokter Aris menyapa Sam penuh hormat. Pria muda itu terlihat sangat mengagumi keberadaan Sam begitu spesial dimana tempat.
Sam tak membalas sama sekali. ia mendorong pintu ruang rawat dengan tergesa-gesa masuk hingga netra elangnya langsung menatap nanar Bangkar didepan sana.
"K..Kuman."
Gumam Sam lirih seakan tercekat nafasnya sendiri melangkah pelan mendekati Bangkar Natalia. Wanita itu tengah terbaring lemah dengan wajah pucat yang mencabik dada Sam untuk kesekian kalinya. Kelopak netra indah itu tertutup dengan selang infus yang terpasang rapi di punggung tangan lentik mulusnya.
"Nona mengalami tekanan pada syaraf otaknya. spontan tekanan itu membuat seluruh tubuhnya mati rasa dan mendorong terjadi pendarahan dirongga pernafasannya. saya juga merasakan Nona sangat ketakutan dan memiliki trauma akan sesuatu."
"Apa dia baik-baik saja?"
Tanya Sam dengan suara berat masih tak mengalihkan pandangannya ke wajah Natalia seakan membuat nafasnya pendek.
"Sebenarnya Nona hanya butuh dukungan untuk keluar dari rasa takutnya. asam lambung Nona juga merespon sampai separah ini. saya belum bisa memastikan, Tuan!"
Sam menghela nafas panjang dengan Dokter Aris pamit keluar karna masih ada Pasean lain. Ia sesekali menoleh menatap Sam yang enggan bergerak dari samping Bangkar Natalia hingga sampai ia keluar.
"Kenapa kau selalu membuatku ingin mati?"
Gumam Sam perlahan duduk disamping tubuh Natalia seraya tangan yang dengan lembut menggenggam jemari lentik ini. Dada Sam terasa digulung perasaan takut yang sangat bahkan saat mendengar Natalia pingsan dengan hidung berdarah Sam langsung dibuat sakit dengan sendirinya.
"Kau tak sendirian. berapa kali aku bilang itu. ha?
Sam mengusap lembut tangan Natalia lalu mengecupnya penuh kasih. Ia tak tahu lagi cara membuat wanita ini mengerti akan perasaannya, Natalia tak akan memahami bagaimana hatinya sekarang ini.
"M..Mama."
Sam langsung menatap wajah Natalia yang menyeringit dengan keringat dingin yang mulai keluar dikening wanita itu. Dahi Natalia menyeringit dengan mata tertutup seakan melihat sesuatu. Keadaannya lebih parah dari saat pingsan dulu.
"M..Mama..Mama jangan..Mama.."
"Hey! Lia, kau...kau tenanglah."
Sam menangkup pipi mulus itu tapi Natalia semakin terlihat ketakutan bahkan tangannya mencengkram lengan Sam.
"M..Mama hiks! jangan Maaa.."
"Lia! bangun!" ucap Sam menepuk pelan pipi Natalia.
"MAMAA!!!"
Natalia bangun dengan nafas memburu. keringat itu bercucuran dengan wajah memucat menatap disekelilingnya mencari seseorang.
"M..Mama!"
"Lia!"
__ADS_1
"M..Mama..Mama kau...kau dimana?"
Panggil Natalia dengan wajah panik dan dada naik turun tak memperdulikan Sam yang dibuat kaku melihatnya.
"Mama!"
"Lia. tetap disini."
Sam menahan tubuh Natalia yang ingin turun dari ranjang rumah sakit. wajah wanita itu linglung seakan masih dalam keadaan sama didalam bayangan pikirannya.
"Aku.. Mama.. Mama.."
"Natalia!" Sam mulai tak tahan.
"Tadi.. Mama disini. dia..dia disampingku dan..dan dia ingin mengajakku. Sam!"
"HENTIKAN SEMUA INI!!!"
Bentakan keras Sam menggelegar sampai membuat Rani dan Fagan terkejut membuka pintu ruangan. Mereka mematung menatap wajah Natalia yang terlihat terpukul berat sampai mata wanita itu mulai memanas.
Wajah Sam sudah kelam dengan sorot mata tak bersahabat. Darahnya mendidih mendengar ucapan Natalia barusan.
"Diam atau ku robek mulutmu!"
"M..Mama."
Lirih Natalia dengan setetes air mata luruh di pipinya. netra berair itu menatap ke-sekelilingnya lalu bibirnya bergetar tak melihat keberadaan wanita itu.
"M..Mama hiks! Aku mau Mamaku!!!"
Teriak Natalia mencengkram rambutnya sendiri membuat Sam terasa ditikam sembilu yang menyakitkan. Tangis Natalia pecah membayangkan Mobil itu menambrak tubuh Mamanya sampai terpental didepan matanya sendiri.
"Sudah."
"Hanya dia yang ku punya!!!! hiks, hanya dia!!!!"
Jeritan Natalia memberontak dipelukan Sam yang mengeratkan dekapannya. ia membiarkan kedua tangan Natalia memukul dadanya meluapkan rasa sakit itu.
"Kembalikan dia."
"Hey!"
"K..Kembalikan dia ..S..Sam."
Lirih Natalia menatap Sam penuh rasa sakit dan kerinduan. Dadanya sangat sesak bahkan tak mampu bernafas normal mengingat kecelakaan itu menewaskan orang terpenting yang memberinya kasih sayang luar biasa yang tak pernah tergantikan oleh siapapun.
"Mereka diam, hiks! Mama berlumuran darah mereka hanya diam!!!"
Isak Natalia mencengkram dada bidang Sam yang mengelus punggungnya lembut menyalurkan kehangatan. Rasa sakit Natalia seakan menyalur ke jiwa Sam yang menyerap semua itu membagi penderitaan batin wanita ini. Sam sama sekali tak mengurai pelukannya dikala air mata Natalia membasahi bahunya.
"M..Mama."
"Tenanglah. hm?"
Sam mengecup lama puncak kepala Natalia yang perlahan berhenti memberontak dengan tubuh gemetar dan lemah. Alunan nafasnya terdengar sendat dengan sisa isakan masih menahan kesesakan.
Lama Sam membiarkan Natalia diam dan tenang didalam dekapannya memberikan waktu bagi pikiran wanita ini kembali hening. Disela itu juga Sam tak menghentikan belaian lembutnya ke kepala Natalia yang tak mampu bergerak karna sudah lelah.
"Lia!"
__ADS_1
Panggil Sam saat tak mendengar lagi suara isakan itu. helaan nafas Natalia terdengar sangat pelan bahkan tubuh wanita ini lunglai begitu saja.
"Lia! kau mendengarku?"
Sam perlahan mengangkat wajah Natalia untuk mengadah menatapnya hingga mata Sam terbelalak melihat darah itu kembali keluar dihidung mungil wanita ini.
"Kau ..Kau..."
"Hay!"
Natalia tersenyum menatap Sam yang sudah memucat ditempatnya. Nafas pria itu terdengar memburu dengan jari gemetar menyentuh hidung Natalia yang tiba-tiba kembali berwajah seperti biasa.
"Hidung berdarah!"
"Benarkah?"
Natalia meraba hidungnya hingga melihat noda merah itu menempel membuat ia terkekeh pelan seakan tak ada rasa sakit.
"K..Kau... BERHENTILAH TERSENYUM!!!"
Bentak Sam yang kali ini tak menginginkan lengkungan itu. Natalia seakan-akan gembira melihat darah itu terus keluar membuat Fagan berlari memanggil dokter.
"Kenapa kau setakut ini? ha?"
"Diam!"
"I..ini tak sakit."
Jawab Natalia masih saja mempertahankan senyumannya seakan tak apa menarik ketakutan Sam yang segera meraih tisu membersihkan lelehan kental itu.
Mata Natalia enggan berpaling menikmati raut khawatir sekaligus geram Sam yang sangat membekas dihatinya. Pria ini terus mengumpati Dokter meredam kepanikan dalam dadanya.
"Sialan!!! Kemana kalian???"
"Kau tak serak berteriak terus. hm?"
"Kau diam!! jangan bicara lagi."
Tekan Sam panas dengan mata membunuhnya. tapi itu membuat Natalia semakin ingin melihatnya begitu khawatir hanya karna dirinya.
"Apa aku cantik?"
"Kauu..."
"Jawab!"
Pinta Natalia mengelus rahang tegas Sam yang ditumbuhi bulu halus membuat ia suka menggerakan jari disini. Matanya terlihat sayu-sayu seakan kembali ingin tidur.
"Aku mau tidur. Sam!"
Sam diam memejamkan matanya mencoba mengontrol perasaan yang sudah diaduk-aduk. ia ingin segera berteriak agar Natalia jangan diambil darinya.
"Kau masih punya banyak impian! kau ingat, kau belum membuatkanku Pisang Goreng." bujuk Sam lirih.
"Pak Tua."
Gumam Natalia tersenyum kecil lalu memejamkan matanya yang terasa berat membuat Sam terkejut setengah mati dengan para suster yang berlarian masuk.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang...