
Liukan tubuh para wanita yang tengah bergerak erotis sesuai dengan dentuman musik itu terlihat sangat panas. dipacu oleh melodi Casino yang menghentak keras mengalirkan gairah para lelaki hidung belang yang sangat nyaman dan begitu suka dengan tempat ini.
Sesosok pria tua dengan rambut hampir memutih itu tampak memantau dari lantai atas dengan seringaian yang puas. Casinonya semakin ramai karna suplai wanita selalu dikirim untuk mengganti suasana.
"Bos!"
"Kapan mereka sampai?"
Pria dengan wajah lebih muda itu sedikit takut menyampaikan kabar ini. Bos Renom tak akan terima atas kegagalan yang telah terjadi dan ini merupakan masalah besar.
Karna tak mendengar suara Asistennya. Lelaki tua berparas bugar itu menoleh dengan pandangan tak biasa.
"Ada apa?"
"Bos. Anggota anda tertangkap!"
Tak ada raut apapun yang ditunjukan oleh Renom yang hanya mengetuk lantai dibawahnya dengan begitu santai. tapi Asistennya tahu kalau pria ini pasti akan terkejut siapa yang telah merampas anggotanya.
"Cih. Polisi di Negara ini bisa diberi makan. untuk apa sepanik itu."
"Bukan Polisi."
"Lalu?"
Renom mulai penasaran dan sedikit aneh.
"Herrschier Jerman!"
Degg...
Seketika Renom terkejut dengan pernyataan Asistennya. Herrschier adalah gelar tertinggi bagi Penguasa Jerman yang tak dulu pernah membantai habis tempat-tempat dikawasan Asia untuk dijadikan ladang senjata. tapi, Klan besar itu tak lagi unjuk taring setelah beberapa tahun lamanya dan sekarang kenapa kembali datang?
"Bagaimana bisa? bukankah mereka sudah menghilang?"
"Saya tak tahu. menurut informasi anggota kalau yang mereka kawan saat menangkap wanita itu bukanlah anggota asli Herrschier. itu hanyalah pengawal biasa dan yang menuju kemari itu anggota asli."
Renom terkejut bahkan ia menatap seluruh lekuk Casino besarnya ini dengan mengigil. apa yang akan terjadi jika pria itu menghancurkan usaha yang sedari lama ia bangun.
Tidak. itu tak akan terjadi dan tak akan pernah, wanita itu harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia jual padanya.
"Cari wanita melakukan transaksi kemaren. jangan biarkan dia lari kemanapun."
"Baik!"
__ADS_1
......
Waktu semakin bergelut panjang. Kediaman besar dan megah itu seketika sunyi dan dilanda kemendungan saat Nonanya yang biasa memberi tawa ceria dan tingkah menggemaskan menghiasi Cakrawala Bilions itu masih menutup matanya tanpa ada sepatah-katapun yang keluar.
Jam sudah menunjukan pukul 3 Dinihari dan sesosok Tampan dengan paras rupawan itu tak beranjak dari samping tubuh seorang wanita yang enggan menatapnya.
Sam masih termenggu diam saat terbayang ucapan Dokter Grely tentang kondisi sebenarnya tubuh lemah wanita ini. Natalia memang sedari kecil menderita penyakit Asam Lambung akut, dan keadaannya memang sangat parah tapi kenapa wanita ini tak pernah mengeluh sakit atau sekedar meminta untuk diobati?
"Bunda!"
Alfin yang juga tak mau pergi kekamarnya tadi hanya bisa tidur disamping Natalia seraya memeluk satu paha wanita itu sebagai penenang tidurnya. sesekali mata bocah itu terbuka memastikan Bundanya telah bangun tapi sayangnya sudah dari sore menjelang malam tadi belum juga membuka matanya.
"B..Bunda."
"Tidurlah!"
Ucap Sam mengelus kepala Alfin yang ada didekatnya. ia paham jika putranya tak akan bisa tenang tanpa wanita ini dan ia pun sama. matanya tak dilanda kantuk bahkan tak pernah ingin memejamkan netra sebentar saja.
"Kapan? Bunda bangun?"
"Bunda akan bangun. kau bisa tidur."
Alfin menggeleng dengan mata berkaca-kaca. ia merindukan pelukan hangat wanita ini dan nasehat-nasehat menenagkan yang tak bisa digantikan dengan apapun.
"Lalu?" tanya Sam seraya menatap wajah Natalia yang sudah tak begitu pucat dengan selang infus yang ada dipunggung tangannya.
"Bunda tak pernah menyuruhku membenci wanita liar itu. dia bilang, jika sekarang dia itu sibuk dan cobalah bersabar untuk menunggunya, terkadang dia perlu waktu untuk menerima keadaan."
Alfin nyaris menangis memikirkan bagaimana jika Natalia pergi? ia tak akan bisa hidup bahkan tak akan bisa bertahan seperti biasa.
"Bunda selalu bilang. jangan membenci DIA karna dia Ibumu. tak semua anak beruntung memiliki Ibu ketika ia masih ada, tapi..tapi aku tak butuh DIA karna sudah punya. Bunda! tapi kenapa Bunda selalu bilang ingin melihat kita utuh. dia tak pernah mau jadi Istrimu."
Sam merasa tersayat mendengar ucapan bergetar Alfin yang begitu terlihat ingin memilih Natalia sebagai Bundanya utuh.
"Ceraikan dia!"
"Kau..."
"Aku mau kau ceraikan dia!!! aku tak butuh dia!!!"
Sam langsung membawa tubuh Alfin kepelukannya untuk pertama kalinya bocah ini berkata seperti itu karna biasanya Alfin hanya akan berbuat nakal membuat Qyara tak betah dirumah ini.
"A..Aku mau Bunda hiks. ceraikan dia!!"
__ADS_1
"Hm."
Sam hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk. apa yang harus ia lakukan? bercerai itu bukanlah tujuannya menikah tapi jika dengan begitu putranya lepas dari Tekanan kenapa tidak?
"Bunda.. hiks."
"Jangan menangis. kau laki-laki!"
"Bunda tak pernah melarang menangis. dia hanya bilang kalau menangis lebih baik kenapa tidak?!"
Sam menarik sudut bibirnya pelan seraya mengelus kepala Natalia yang baru beberapa minggu disini sudah membuat perubahan besar pada Putranya. yah. mungkin Sam masih belum merasakan perubahannya tapi yang jelas ia tak akan melepas wanita ini.
"Kalau kau tak mencintainya. kau adalah laki-laki paling lamban sedunia."
"Dia cantik. lugu, bisa segalanya. tapi sayangnya satu yang bermasalah."
Alfin menatap wajah tampan Papanya dengan keras dan penuh penghakiman.
"Bundaku SEMPURNA."
"Dia terlalu baik."
Alfin hanya menjawab dengan wajah datar lalu kembali memeluk paha Natalia. ntahlah Sam pun tak bisa beranjak pergi hingga ia ikut berbaring disamping Natalia memeluk tubuh wanita itu lembut dengan pandangan intens ke wajah cantik ini.
"Beri aku jawaban. kenapa kau selalu tersenyum walau dunia membuangmu?"
Bisik Sam lalu meirik Alfin yang memejamkan matanya hingga ia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Natalia yang tak sadar akan apapun.
Cup...
Satu kecupan lembut dan begitu perlahan dari seorang Sam seakan takut jika bergerak kasar maka si cantiknya ini akan terluka. bahkan bergerak saja Sam enggan selain menempelkan bibirnya ke bibir lembut nan manis yang menjadi candu setelah pertama kali ia mencobanya dulu.
Sam memejamkan matanya tanpa menarik wajahnyanya dari wajah Natalia. ia begitu meresapi jiwa langka yang terlelap tapi mengalirkan rasa nyaman bagi Sam.
"Segeralah bangun. aku sangat merindukanmu. Kuman!"
Alfin menarik senyum samar di awah sana. ia tak tidur sama sekali karna memberikan waktu pada Papanya untuk melakukan hal yang lebih intim.
"Apapun akan ku lakukan untuk membuatmu menceraikan wanita itu."
.....
Vote and Like Sayang ..
__ADS_1