
Nyonya Maria benar-benar terkejut akan bentakan Alfin yang seakan melahap habis tubuhnya dengan pandangan kemarahan. Raut syok itu terlihat di wajah mudanya bahkan Nyonya Maria menatap balik Tuan Anderson dengan pandangan penghakiman.
Maksudnya apa? wanita dekil dan kumu ini menjadi menantunya? yang benar saja. kemana ia taruh wajah cantiknya ini dihadapan semua orang nantinya?!
Nyonya Maria masih meminta penjelasan diarea dingin dari Sam yang tak ingin memperburuk keadaan.
"Bunda? Bunda apanya?"
"Dia Bundaku. pergi kau dari sini!!!"
Sam menatap Natalia penuh isyarat hingga wanita itu mengerti membawa Alfin kembali ke meja makan dengan Sam yang melangkah mendekati Tuan Anderson yang masih tenang ditempatnya.
"Sam! maksudnya, apa?"
"Aku menikahinya!"
Nyonya Maria langsung terperanjat bahkan wajahnya sudah seperti ikan kehabisan air didaratan.
"Apa??? kau.."
Nyonya Maria duduk disamping Sam yang masih bungkam tanpa suara. pandangan dingin pria itu masih enggan beralih pada Natalia yang asik membuat perhatian Alfin teralihkan dari mereka.
"Nak! kau bercandakan? bagaimana dengan Qyara? kau..kau sangat mencintainya!"
"Dia.."
"Ini pasti karna mu! kau selalu mencampuri urusan putraku!!"
Sam memejamkan matanya dengan kedua tangan mengepal menahan emosi yang bisa saja meluluh-lantahkan tempat ini. suara hardikan yang pedas dari Momynya menekan pikiran Sam yang berkemalut.
"Kenapa kau selalu merusak masa depan Sam dan.."
"CUKUP!!!!"
Nyonya Maria terkejut saat suara Sam sudah terdengar keras sampai para pelayan tadi berlarian pergi dengan Alfin yang sudah bersembunyi dibalik dekapan Natalia yang juga berusaha menahan intimidasi kuat ini.
Suasana berubah menghitam kelam sampai suhu di ruangan ini mendingin membekukan tulang menarik wajah pucat Nyonya Maria melihat wajah keras Putranya.
"S..Sam!"
"Aku pergi!"
Sam melangkah pegi mendekati Natalia dengan Nyonya Maria yang langsung meminta jawaban dari suaminya.
"Sayang! kenapa kau membiarkan Sam me.."
"Aku yang menyuruhnya!"
Deg..
Lagi-lagi Nyonya Maria dibuat tak mampu bicara. Tuan Anderson terlihat acuh memainkan Ponselnya tak mau meladeni tingkah wanita ini.
"JANGAN sekalipun kau mencoba mengusiknya."
"Menantuku hanya QYARA!"
Tekan Nyonya Maria lalu melangkah pergi. tapi ia sempat melempar tatapan permusuhan pada Natalia yang hanya bungkam kembali fokus menyuapi Alfin yang mulai bersahabat.
"Bunda! Alfin mau keatas!"
"Hm?"
__ADS_1
"Bunda disini dulu. hanya mau mandi."
Alfin turun dari pangkuan Natalia yang pasrah memandangi bocah itu naik keatas tangga didampingi Maya yang tak melepas Tuannya sendiri.
Dan sekarang. hanya tinggal Sam dan Natalia yang masih tak memutus pandangannya dari kepergian Alfin hingga keduanya kembali bersitatap segelah bocah itu hilang dari pelupuk netra.
Lama keduanya saling bertaut lama melalui netra masing-masing menarik rasa sadar Natalia yang lansung memutus kontak mata keduanya.
"A.. aku.. itu.. kau bisa makan makananmu dan.."
"Tak usah mendengar perkataannya!"
Natalia cukup tersentak akan ucapan Sam yang mencengkal tangannya agar tak pergi. tapi, Natalia lansung menyentaknya lembut dengan wajah yang terlihat biasa saja tak ada guratan sedih sama sekali.
"Em. tak apa! lagi pula aku sudah sering dikatakan udik, kuman, pembawa sial, anak tak tahu diuntung, babu dan.. .. banyak lagi. aku hampir lupa."
Cengir Natalia dengan enteng tapi Sam cukup termenung dengan semua itu. apa seperih itu sampai tak bisa sekali saja terlihat rapuh mengatakan hina'a nya?
"Kau tak ingin membalasnya!"
"Ha?"
Natalia masih kurang fokus karna ia tengah membersihkan meja makan dari piring-piring makan tadi.
"Apanya? aku kurang dengar. Tuan!" masih mencengir kuda.
"Tidak ada."
Jawab Sam tak ingin meneruskan hingga ia melangkah kembali keatas menuju kamarnya. ia harus bersiap karna ada Meeting malam ini yang tak bisa di lewetkan.
Disela langkahnya ia masih teringat soal Qyara. apa yang tengah wanita itu lakukan sekarang? sudah seharian tak pulang atau sekedar memberi kabar.
Ia mengeluarkan ponselnya mencari kontak Qyara yang bernama romantis selayaknya suami istri biasa sejak lama. beberapa kali Sam mencoba memanggilnya hingga ke panggilan yang ke 3 barulah ada sambungan.
"Sudah selesai?"
"A.. aku.. itu. sebentar lagi aku akan pulang. tapi sepertinya agak lama dari yang.."
"Hm!"
Sam mematikan sambungannya hingga bersandar ke pilar diatas dengan wajah yang serbah tertekan. sebenarnya kemana arah pernikahan mereka sekarang? kenapa Qyara tak pernah bisa mengerti keadaannya yang berusaha agar posisinya di Kediaman ini tak berubah?
"Tuan!"
Sam menoleh kebelakang hingga melihat Natalia yang baru keatas karna ingin melihat Alfin yang belum juga turun dan ia tak sengaja mendengar percakapan dingin itu tadi.
"Ada apa?"
"Emm. apa ada yang bisaku bantu?"
Tanya Natalia hangat tapi Sam menggeleng melanjutkam langkahnya menuju kamar atas. Natalia menghela nafas panjang melepas sekangan rasa tak enak didadanya.
"Kasihan Tuan Sam. kenapa Nona Qyara setega itu?"
"Bunda!"
Alfin yang keluar dari kamarnya tampak sudah bersih dan rapi dengan wajah segar dan berbinar cerah membuat Natalia menarik senyum bahagia.
"Sudah selesai mandinya?"
"Iya. emm.. Bunda kenapa tak menolong Papa?"
__ADS_1
Dahi Natalia mengkerut memperbaiki rambut Alfin dengan mencerna pertanyaan ambigunya.
"Maksudnya?"
"Papa sudah lama sendiri. ia selalu mengurus kebutuhannya sendiri tapi dia tak pernah bisa beristirahat untuk sejenak. mungkin Bunda bisa menggantikan istrinya selama wanita itu belum kembali."
"Alfin! tak sepantasnya jika.."
"Bunda! dia memang sangat menyebalkan tapi aku tak mau punya Papa penyakitan."
Lama Natalia merenggu hingga mengangguk menarik senyum cerah Alfin yang berhasil. ia sudah melihat Papanya mulai menerima keberadaan wanita ini hingga kedepannya akan mudah. wanita liar itu tak akan lagi menganggu kehidupannya.
"Baiklah. tapi hanya urusan kecil, Bunda tak mau mencampuri urusan lain, hm?"
"Iya. Bunda!"
Natalia mengusap kepala Alfin yang jujur hanya berakting. ia memang mulai menyukai Natalia bahkan ia sangat ingin Natalia menjadi istri Papanya tapi ia masih butuh drama untuk memisahkan kedua orang tuanya.
"Alfin bisa kembali kekamarmu. Bunda ada pekerjaan di dapur."
"Hati-hati."
Natalia mengangguk melangkah pergi dengan tatapan Alfin yang serba salah. apa ia begitu keterlaluan menggunakan wanita se polos Natalia untuk menghancurkan kehidupan orang tuanya? tapi ia tak bisa mundur. ia yakin semuanya akan mudah kedepannya.
"Kau sangat cerdas!"
Alfin tersentak saat suara itu terdengar dari samping sana hingga tepat di Lift dekat kamar Natalia terlihat Nyonya Maria yang sejatinya tahu kalau kedatangan wanita itu adalah sebuah rencana.
"Kau.."
"Kenapa ada anak licik sepertimu. hm?"
Alfin hanya diam dengan sikap siaga. ia tahu betul wanita paruh baya ini mencari cela untuk menyakiti Bundanya sekaligus merusak rencananya.
"Memanfaatkan wanita kumu itu demi mencapai impianmu."
"Kau salah. dia memang Bundaku dan lebih baik dari pada wanita liar yang kau bawa ke kediaman ini."
Jawab Alfin penuh ancaman dan melangkah pergi kemarnya diiringi tatapan geram Nyonya Maria yang benar-benar frustasi. bocah itu sangat menuruni kecerdasan Papanya sampai mengelabui semua orang.
"Kau lihat saja. siapa yang akan pergi dari kehidupan Putraku?!"
...
Vote and Like Sayang..
Buat readers setia author yang tersayang udah kasih gift ama vote dan di ss ke gc terimakasih ya say. moga bisa betah di lapak author🥰
.Marisi Tumbolon
.Deni Iriani Bintang
.Novita
.Putri nanda nurcahya
.Lia
.Valenciafransiska
.Ressi SanSan
__ADS_1
.Sarah..
Thanks guys.. buat yg selalu ada kayak kalian moga bisa selalu nyaman🤍🤍