
Suara lemah membuai itu terdengar jelas didalam sebuah kamar mewah yang begitu luas dengan pernik elegannya. tirai-tirai didekat Balkon kamar itu berterbangan diterpa angin pagi dengan kicauan burung yang bernyanyi mengiringi jeritan keras seorang wanita didalam kurungan kamar mandi itu.
"Saaaam!!!!"
"Yeaah!!"
Jawab Sam yang tengah menjadi kuda jantan yang begitu menggilai sosok cantik ini. ia memompa keras didepan cermin kamar mandi yang memperlihatkan jelas raut wajah Natalia yang benar-benar terpekik tak berdaya.
Natalia berpegangan ke pinggir Wastafel dengan tubuh polos yang digempur habis-habisan. ia hanya bisa meraung sedari subuh karna semalam Natalia menolak Sam dengan alasan ini sudah malam, tapi tak ia sangka Sam akan memintanya pagi tadi dan Natalia sama sekali tak dibiarkan menolak.
Ia dicegat saat ingin mandi oleh Sam yang tak menahan diri karena lonjakan hasratnya sudah menggunung melihat wanita itu memakai handuk mini dengan rambut yang basah.
"L...Lia!"
Sam bergumam kecil merasakan pusakanya ingin meledakan sesuatu. Natalia yang juga ingin menjemput puncak nirwana kesekian kali itu mencengkram lengan Sam kuat dengan wajah keduanya menyeringit disela pompaan yang dipercepat.
"S...Sam aku...aku.."
"Tu..Tunggu aku.."
Sam kembali menggila bahkan suara hantaman kulit keduanya membuat seisi kamar mandi ini membisu tak mampu bicara. suara pekikan Natalia tak bisa dihindarkan merasakan jiwa ini mau lepas ke awang sana.
"S..Saaam!!!"
"Akhs!!"
Sam terdorong kedepan merapatkan diri ketubuh Natalia yang sudah menggelinjang mencengkram lengan kekar Sam dengan kuat. tubuhnya bertekuk hebat dengan nafas keduanya memburu panas saat merasakan denyutan yang membuat keduanya melemah dengan batin yang lepas.
"Kau sangat Sexsi."
Bisik Sam menatap Natalia dari cermin dihadapan keduanya. ia menopang dagunya ke bahu putih Natalia seraya sesekali mengecup tengkuk wanita itu dengan mata yang mengamati terus respon si Seksinya ini.
"Aakhs. kau..."
"Kau menyukainya?"
Tanya Sam berbisik sensual saat ia menekan sedikit dalam membuat Natalia tak mampu menahan suara lemah itu. semrawut merah yang muncul dikedua pipinya membuat Sam tak tahan untuk mengecupnya.
"Lepaskan aku!"
Ciut Natalia sudah tak mampu lagi untuk bergulat. Sam sangatlah membuat ia lelah tapi permainan pria ini tak bisa dianggap remeh, ia selalu tak bisa menolak karna itu sangatlah luar biasa.
"Aku masih ingin."
"Tuan. aku...aku masih ada pekerjaan."
Natalia yang memelas saat kedua tangan besar ini sudah merangkum si kembar ranum itu dengan gemas. dadanya sudah merah akibat cengkraman Sam yang terus memberikan tabokan gemasnya.
"Aku yang punya Perusahaan. jadi kau bebas mau datang kapanpun." acuh Sam masih sibuk mengecup punggung istrinya yang geli.
"Tuan! aku sudah bekerja disana, jadi harus profesional."
"Tapi, aku masih ingin bersamamu."
Seketika Natalia membelo jengah. kalimat itu yang diulang Sam setiap mempunyai Modus ahlinya, disaat ia mengatakan itu maka pasti pria menyebalkan ini meminta lagi untuk siang ini.
__ADS_1
"Ayolah. semalam juga begitu!maunya pagi, dan kau menyerangku subuh." kesal Natalia menatap tajam Sam dikaca dihadapannya.
"Itu namanya Taktik, Sayang!"
"Terserah. cepatlah!"
Akhirnya Sam pasrah melepas penyatuannya dengan pelan dan menyeringai puas melihat hasil karyanya. ia berharap besar jika Natalia hamil anaknya dan wanita ini tak akan bisa kemanapun.
"Aku belum memasak. ini sudah beberapa hari aku tak ke dapur, Alfin juga pasti mau makan makanan kesukaannya."
"Mandi dulu. Nyonya!"
Acuh Sam mengabaikan omelan wanita ini. ia mengiring Natalia ke Shower dengan tubuh sama-sama polos tapi Natalia sudah terburu-buru. walau ia lelah dan remuk namun pikiran Natalia tak tenang jika tak memasak sama sekali.
"Haiss.. kau memberi bekas lagi. bagaimana kalau Alfin melihatnya?"
"Mana?"
"Ini!"
Natalia menunjuk lehernya yang ada satu bekas ciuman yang terlihat menonjol. tapi, sayangnya Sam malah menciumnya lagi membuat Natalia meradang.
"Pak Tua!!!!"
"Itu Lebelku. jangan mencoba menutupinya."
Tekan Sam mengecup kilas bibir Natalia lalu membasahi tubuh keduanya dibawah Shower. berulang kali Natalia mencubit lengan Sam yang sudah menjalar ke punggungnya.
Setelah beberapa lama memakan waktu yang cukup menguras Natalia menyudahi acara mandinya. ia pasrah saat Sam menggulung rambut panjangnya dengan handuk kecil, tapi Natalia terkekeh geli saat handuk dipinggang Sam tak terpasang sempurna.
"Kau sama saja dengan Alfin!"
"Handukmu. ditiup saja ini sudah melorot."
"Kalau begitu, coba tiup!"
Natalia langsung mencubit geram pinggang kekar Sam yang hanya mendesis kecil membiarkan Natalia menyimpul Handuknya dengan terlatih.
"Begini! jangan digulung-gulung asal."
"Siap. Kuman!"
Sam menarik pinggang Natalia mendekat hingga keduanya saling pandang intens dengan wajah damai dan lembut. senyum hangat Natalia membuat Sam tak bisa menahan untuk meraub bibir wanita ini.
"Bunda!!!"
"Shitt!"
Sam mengumpat melepas Natalia yang bernafas lega langsung membuka pintu kamar mandi. ia memekarkan senyuman cantiknya melihat bocah kecil ini sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Sudah tampan, anak Bunda!"
"Bunda. selamat pagi!"
Alfin mengecup pipi Natalia yang berjongkok dihadapannya. hari ini Alfin ada kontes puisinya dan ia harus bangun pagi-pagi.
__ADS_1
"Sayang, maaf ya, Bunda tak sempat masak." ucapnya penuh sesal.
"Tak apa, Bunda! Alfin bisa makan di sekolah. tapi, Bunda datangkan ke acaranya?"
Tanya Alfin mengalungkan lengannya keleher jenjang ini.
"Bunda pasti datang, Sayang! tapi, Bunda harus pulang dulu Ke Kediaman, nanti Bunda mengusul."
Alfin mengangguk lalu menatap kearah pintu kamar mandi dimana Sam sudah berdiri disana dengan wajah berserinya. ia masih memakai handuk sepinggang mempertontonkan tubuh Atlestisnya.
"Apa?"
Sinis Sam saat tatapan Alfin begitu menghakiminya. bagaimana tidak? semalam Pria ini menculik Bundanya tanpa pamit sama sekali.
"Awas kau!"
"Hay!"
Natalia menepuk mulut Alfin yang lancang seperti itu.
"Maaf. Bunda!"
Alfin mencengir dan melangkah pergi keluar mempersiapkan diri. seketika Natalia berdiri melangkah mendekati ranjang mengambil ponselnya yang terbenam dibawah bantal.
"Ada apa?"
Natalia terdiam sejenak saat membaca pesan dari Bibik Mina lalu menatap Sam yang tengah melangkah ke dalam Walkcloset.
"Papa sakit lagi!"
Tak ada jawaban dari dalam sana hingga Sam keluar membawa Pakaian Natalia dan dirinya.
"Sakit?"
"Hm. aku takut dia tak bisa berjalan seperti dulu."
Gumam Natalia menatap Sam yang dengan ringan mendudukan diri disampingnya. pria itu menggenggam tangannya lembut menyalurkan keberadaan yang kuat.
"Pergilah!"
"Tapi, Alfin.."
"Papamu lebih utama."
Jawab Sam mengelus kepala Natalia yang tak enak. ia sudah berjanji pada Alfin dan tak mungkin mengingkarinya.
"Tuan! aku...aku tak mungkin mengecewakan, Alfin!"
"Aku akan datang kesana. itu sudah cukup. tak usah dipikirkan!"
Ucap Sam hangat. ia tahu betapa kecewanya Alfin tapi jika Natalia ada urusan lebih penting ia yakin bocah itu bisa mengerti.
"Aku sudah berjanji padanya. ya Tuhan, bagaimana ini?"
.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang...