Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Jangan mendekat!!


__ADS_3

Semrawut kekuningan diatas sana sudah menyebar kesemua arah sampai teriknya mentari hari ini terlihat segar menopang suasana. pagi ini memang tak terlalu panas karna BMKG menyatakan kalau hari ini cuaca disekitar wilayah Ibukota akan berawan dan mendung. tapi begitulah Ibukota, sekalipun panas atau dibantai hujan akan tetap sama dengan aktifitas padat yang menyesakan.


Mungkin itu hanya berlaku pada daerah diluar Kediaman Tuan Muda Keluarga ternama yang membeli satu daerah khusus baginya membangun sebuah bangunan megah yang tak akan terbayangkan nilai rupiahnya. Kawasan Elit yang diadakan khusus tak jauh dari ruang lingkup Ibukota tapi memiliki jalan khusus bagi anggota Kediaman.


"Alfin!!!"


Suara Nyonya Maria yang berulang kali terdengar didepan pintu kamar bocah itu menggelegar di seluruh penjuru Mansion. ia baru saja datang kembali ingin mendobrak pintu sialan itu tapi sayangnya bocah ini menyetel sistem di semua peralatan Kediaman.


"Alfin!!! kau bangun!!! berikan kunci kamar itu!!!"


"Nyonya!"


Fagan yang baru datang lansung heran dengan teriakan Nyonya Maria yang seperti kesetanan bercampur geram mengetuk kamar Tuan Kecilnya.


"Berikan kunci kamar itu!"


Pinta Nyonya Maria membuat dahi Fagan mengkerut lalu menggeleng hampa.


"Saya tak memegang kunci di Kediaman ini. Nyonya!"


"Sial!!! ini semua karna bocah itu."


Gumam Nyonya Maria melangkah pergi. ia harus bicara pada Qyara soal ini, kalau tidak bisa saja wanita kampungan itu akan merusak segalanya bahkan mengambil Sam darinya.


Fagan yang melihat itu hanya menggeleng lalu melihat jam dipergelangan tangannya. tak biasanya Tuan Sam yang selalu tepat waktu itu akan terlambat. biasanya pria itu sudah lebih dulu stand-by disini.


"Kemana, Tuan Sam?"


Gumam Fagan lalu melangkah menuju arah kamar Tuannya hingga sampai ke lekukan bangunan atas dan berdiri didepan pintu kamar mewah ini.


"Tuan!! Tuan!!"


Fagan mengetuk beberapa kali namun tak ada jawaban. ia juga berdiri di depan layar monitor tapi juga tak ada yang menjawab hingga Fagan benar-benar bingung. kemana singa jantan Jerman itu sekarang?


"Uncel!"


"A.. Iya!"


Fagan menoleh hingga melihat Alfin yang telah rapi dengan seragam sekolahnya. ini adalah jadwal bocah ini untuk belajar di rumah melalui jaringan. akan ada guru yang datang sendiri kesini nanti untuk memberi pengajaran yang dituntutkan padanya.


Namun. yang jadi perhatian bukan itu dimata Fagan, ia bahkan heran kenapa Natalia tak ada padahal biasanya Alfin tak mau berpisah sebentar saja.


"Selamat pagi. Tuan Kecil!"


"Hm. Uncle pergi saja ke Perusahaan sendiri."


"Kenapa? apa Tuan Muda ada pekerjaan yang.."


Alfin sudah pergi kearah kamarnya tanpa mau menjawab. ternyata Maya juga telah sampai keatas dengan tatapan linglung yang sama pada lantai ini tak ada Natalia dan Tuan Mudanya.


Sedangkan didalam kamar sebelah sana. dua manusia yang tengah dicari itu sedang asik dengan duninya sendiri. tak ada yang menganggu dari keheningan kamar yang tak mendengar suara diluar sana, bahkan ini adalah tidur ternyenyak bagi Sam yang terlihat nyaman memeluk benda empuk yang telah membuat ulah semalaman.


Natalia tampak masuk kedalam pelukan hangat dan posesif seorang Sam yang masih belum bisa menarik diri dari mimpi indahnya. satu tangannya dijadikan bantalan oleh Natalia dengan satu kaki Sam naik mengungkung pinggang wanita ini begitu intim dan sangat mesra.


Namun. entah kenapa Natalia menggeliat dengan tangan yang meraba dibawah sana entah kenapa ia selalu memiliki kebiasaan tidur meraba tempat disampingnya.

__ADS_1


"Hmm."


Dahi Natalia mengkerut merasakan benda lunak yang bertekstur aneh tapi cukup menyengkang tangannya. perlahan ia merasakan benda ini semangkin keras sampai tak sadar kalau Sam yang masih belum bisa bangun itu terlihat menyeringit mengigit bibir bawahnya sensual seraya mengeratkan pelukannya ke tubuh Natalia yang dalam pikirannya ada yang memainkan benda itu dengan jari-jari lentiknya.


"A..S..Sayang!"


Lirih Sam mencengkram rambut Natalia dengan lemah. ia sudah lama tak merasakan ini bahkan ia sangat merindukannya tapi bukan dari seorang Qyara, sentuhan ini sangat lembut tak brutal atau ganas tapi lebih ke penasaran.


Natalia yang mulai kebingungan lansung membuka matanya hingga ...


"Aaaaaaa!!!!!!"


Natalia menjerit keras menendang tubuh Sam menjauh sampai lutut pria itu membentur kaki sofa dengan keras bahkan kesadaran Sam mulai naik ke permukaan.


"Kau!!!!"


Sam terkejut setengah mati dengan wajah memucat menatap Natalia yang menjauh dengan wajah merah sekaligus pucat pasih menatapnya dengan misterius.


"K..Kau ..Kau ini apa-apa'an, ha???"


Bentak Sam kaku dengan cepat menutupi bagian bawahnya. sementara Natalia sudah gemetar dan geli sendiri membayangkan apa yang baru saja ia genggaman dan sedikit diremas lembut. ia kira itu mainan Alfin yang berserakan tapi nyatanya kenapa bisa begitu?


"A.. aku.. itu.. aku..aku mau keluar."


Natalia berdiri cepat menekan gagang pintu tapi tak bisa dan terkunci hingga Sam benar-benar merasa frustasi dan malu. ia meraih bantal diatas ranjang untuk menutupi bagian yang menonjol dibawah sana seraya mulai berusaha mengendalikan raut wajahnya agar terlihat biasa saja.


"T..Tuan!"


"Hm."


"A.. itu . pintunya di kunci!"


"Cih. ini semua karnamu! kalau bukan karna Ular sialan ini aku tak akan disini denganmu!!!"


Geram Sam menendang Ular mainan didekat kakinya. entah siapa yang melakukan ini tapi Sam sudah tahu siapa yang berani melakukan hal gila ini kecuali Putra Nakalnya yang sama sekali tak menghormatinya.


"T..Tuan. tapi aku kira itu Ular sungguhan dan ."


"Diamlah!"


Sam menggulung tubuhnya dengan selimut memunggungi Natalia yang masih berusaha membuka pintu dengan suara berisik yang membuat Sam semangkin sulit fokus meredakan hasratnya.


"Kau bisa diam. ha??"


"A.. ini . ini tak bisa di buka."


Lirih Natalia menciut.


"Itu tak akan terbuka sebelum dia membukanya. kuman!"


"Tapi, bagaimana caranya keluar?"


Sam memejamkan matanya dengan helaan nafas panjang agar lebih rileks dan tenang.


"Kau cukup diam. diam dan rapatkan mulutmu!"

__ADS_1


"Baik!"


Natalia diam duduk dilantai bersandar ke pintu menatap Sam yang berbaring memunggunginya. kenapa pria ini sangat aneh? menggulung diri sendiri didalam selimut setebal itu.


"Tuan!"


"Hm."


"Apa anda sakit?"


"Tidak!"


Natalia diam tapi sudah lama bahkan ia ingin memasak memikirkan Alfin yang belum makan apapun. siapa yang akan mengurus bocah itu pagi-pagi begini?!


"Tuan!"


Natalia memberanikan diri mendekati Sam yang masih belum sadar karna ia sibuk menekan pusakanya agar tunduk secepat mungkin.


"Hm."


"Tuan bisa mendobraknya. seperti di Filim-Filim itu, bukan?"


"Aku.." Mata Sam melebar saat Natalia sudah duduk dibelakangnya dengan polos memperbaiki selimutnya


"Kauu!!! menjauh dariku!!!"


"T..tapi apanya? aku tak tahu apapun. itu a.. pintunya di dobrak saja."


"Natalia. kau ini terbuat dari apa? ha!! kau tak takut pada sesuatu?"


Sam frustasi menatap Natalia yang dengan lugunya menggeleng. ia tak tahu soal hubungan dalam tapi ia tahu soal ciuman dan pelukan.


"Memangnya ada apa?"


"Kau tahu apa yang kau peggang itu?"


"Tidak. tapi itu apa? letaknya sama dengan Alfin tapi kenapa teksturnya aneh dan .."


Sam menutup telinganya dengan selimut. sumpah demi apapun ia sudah mulai susah untuk mengendalikan dirinya sekarang.


"Dan kenapa begitu? kenapa bisa hidup? dan.."


"Kau tak pernah sekolah. ha???"


"Tidak!"


Sam terdiam lama berbalik menatap Natalia yang memberinya senyuman hangat. ia tak tahu apapun selain dapur dan pekerjaan rumah.


"Aku dilarang sekolah!"


"Kenapa?"


"Karna sekolah itu mahal dan otakku tak seperti mereka yang cerdas."


.......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2