
Tatapan mereka semua seketika terfokus pada seorang wanita yang berjalan tertagih-tatih mendekati kursi forum didepan sana. suasana menghening kosong seakan benar-benar menjadikan wanita cantik berwajah pucat itu sebagai objek perhatian nyata.
Satu tangan Natalia tampak memeggangi bagian bahu dressnya yang ditutupi rambut. kaki wanita itu tak lagi beralas melainkan hanya kulit putih yang terlihat merah dan lecet.
"Alfin!"
"Bunda."
Alfin yang semula senang seketika terdiam melihat Natalia yang masih tersenyum berdiri dihadapannya. keringat dikening dan leher wanita ini membuktikan ia baru saja berlari sejauh mungkin dengan keadaan yang cukup membuat tanda tanya.
"Pergilah. hm?"
"Bunda, kenapa?"
Natalia hanya melengkungkan bibir mungilnya lalu duduk di kursi tepat disamping Sam yang masih diam melihat kaki jenjang istrinya sudah dipenuhi goresan darah.
Mata semua orang masih bertanya-tanya tapi Natalia berusaha tak merusak suasana. ia ingin seperti biasa seakan tak terjadi apapun walau hal besar memang sudah mengincar nyawanya.
Qyara yang melihat Natalia masih bernafas pun mulai terbakar amarah bahkan wajahnya sudah kelam. ia melangkah pergi tanpa sepatah katapun dengan para pengawal yang mengamankan situasi.
"Maaf. aku tak apa! kalian bisa lanjutkan."
MC yang tengah bingung pun mulai tak tahu kemana akan membawa acara karna tatapan tajam Sam sudah mendingin menghunus kaki Natalia yang berusaha rileks.
"Baiklah. terimakasih atas kedatangan Nona Natalia yang luar biasa hari ini menyempatkan hadir dijadwal beliau yang sangat padat, berikan tepuk tangannya!!!"
Prokkkk...Prokkk .....
Mereka memberikan sambutan bersahabat pada Natalia yang tak berhenti menerbar senyuman dibibir pucatnya. ia berusaha terlihat baik-baik saja padahal mata tajam Sam menangkap tangannya yang gemetar.
"Silahkan. Tuan Kecil!"
MC kembali mencairkan suasana. Alfin masih diam merasa sangat aneh tapi dengan cepat Natalia menangkup kedua pipi Alfin dengan rambut panjang yang digerai menutupi bahu dan keningnya.
"Bunda percaya padamu. Sayang!"
"Tapi, kaki.."
"Ayolah, berikan yang kau bisa."
Alfin mengangguk menerima kecupan dikeningnya lalu berbalik melangkah kepanggung. Teks yang tadi ia peggang dilepas sudah karna ia tak butuh semua itu.
Suasana menghening. mata mereka tertuju pada panggung megah dengan raut penantian dan sangat menunggu.
"Sebelum aku berpuisi! aku mau mengatakan kalau disana..."
Alfin menunjuk Natalia yang agak risih dipandangi banyak orang dengan penuh tanya.
"Ada Bundaku!" lembut Alfin tenang.
"Bagaimana bisa? bukankah Nona Qyara yang menikah dengan Presdir?"
"Yah. apa yang terjadi?"
Mereka berbisik tapi hanya sampai diujung lidah. para Media disana meliput dengan henjng tak mau memecah konsentrasi Tuan Kecil tampan itu.
"DIA BUNDAKU!"
Suara Alfin lantang masih tak mengalihkan pandangannya pada Natalia yang menatapnya intens dan dalam. bahkan kedua mata itu tak bisa saling memutus emosi membuat para juri sana membeku sunyi.
*Hari ini, siang ini, malam ini.. itu milikmu.
__ADS_1
Natalia diam mendengar dengan baik.
*Ntah, aku tak tahu kapan kau membawa duniaku, aku tak pernah tahu.
*Kau datang tanpaku pinta, kau pulang tanpaku panggil, kau hadir tanpa memberitahuku. tapi saat kau menyelimutiku dan aku merasa kau langit terindah dimalam hari..
Alfin mengungkapkan segalanya mengenang apa yang dilakukan Natalia selama ini padanya begitu menyentuh hatinya.
*Kau atap ketika hujan, kau obat ketika luka itu hadir, tak pernah mengatakan tidak walau nyawamu sendiri yang ku minta.
Mata Natalia berkaca-kaca dengan hati yang terenyuh. kalimat yang sangat dalam padahal saat latihan Alfin tak begitu serius bahkan banyak memujinya. begitu juga yang lain hanyut dalam suara lantang bermakna dalam itu.
*Orang-orang menganggapmu sampah, rayap penganggu dan racun dunia. tapi, sejujurnya merekalah yang buta karna hanya iri denganmu.
*Bunda! kita tak sedarah.."
Kalimat itu membuat Sam langsung dibongkem. ia menatap wajah putranya yang terlihat begitu memuja Natalia yang juga tak mampu menahan derai air matanya.
*Tak saling kenal, dan juga asing dengan hati sendiri. tapi percayalah, aku sangat menyayangimu.
Natalia mengangguk bersandar kebahu Sam yang juga ikut hening menyaksikan putranya. bocah yang dulu ia latih keras dengan hidup penuh aturan telah berdiri dihadapan banyak orang dengan pandangan yang tegas.
*Kau tak melahirkanku, tak pernah mengganti popokku, tak terjaga semalaman karnaku, tapi kenapa kau lebih perduli padaku dari pada seseorang yang melahirkanku?
*Dia bahkan tak memandangku, menuntut agar selalu menang mengorbankan apapun. tapi kau.. kau selalu mengatakan, lakukan semampumu, jika hasilnya tak memuaskan maka cobalah selagi kau masih punya waktu.
Alfin tersenyum kecil membuat mereka semua ikut terbawa suasana raut wajah Bocah ini mengekspresikan hatinya.
*Dia Bundaku. permata kecil tapi mahal harganya.
*Dia Bundaku. mentari ketika pagi, dan bulan ketika malam.
*Dia Bundaku. ..hanya Bundaku.
"Wowww!!!!!"
"Yahhhh!!! I Love Youu!!!!"
"Tuan kecil!!!"
MC yang tadi ikut menangispun langsung melangkah mendekati Alfin yang seketika merubah suasana mencair. tadi bocah ini sama sekali tak mau dilirik siapapun dengan wajah datarnya.
"Woww!!! Tuan Kecil, anda luar biasa."
Alfin berterimakasih membuat para guru sana terkejut. tapi Natalia memberi jempol karna itu ajarannya.
"Baiklah. ini sangat luar biasa, saya sangat bahagia karna bisa diijinkan mendengar Puisi seintim itu tapi kalian akan tahu keputusan juri hari ini juga!!!"
"Alfin!!!!"
"Alfin!!!!"
Mereka menyoraki Alfin yang sudah berbaris dengan anak-anak lainnya. Aira anak pengusaha batubara itu juga ikut menatap Alfin dengan penuh kagum tapi lagi-lagi Alfin hanya terfokus pada bundanya.
Para orang tua mereka menunggu keputusan Juri yang berdiri mendekati para peserta lomba dengan Media yang mendekat.
"Sesuai Keputusan Juri. Pemenang Acara Lomba kali ini adalah..."
Suara musik mendebarkan membuat mereka semua jantungan tapi Natalia tidak. ia hanya cukup dan sangat senang dengan melihat putranya tampil dengan sangat menyentuh.
"SELAMAT UNTUK TUAN KECIL ALFIN!!!!"
__ADS_1
"Yeahhhh!!!!"
Prokkkk ...Prokkk ..
Mereka berjingkrat kegirangan merasa sangat puas dengan Mendali yang dikalungkan ke leher Alfin yang tersenyum senang. tapi tidak dengan salah satu wanita yang terlihat berwajah datar didepan sana. tatapan menajamnya tertuju pada anak disamping Alfin yang memucat.
"Selamat, yah!
Mereka memberikan ucapan selamat pada Alfin dan turun kebawah menemui Sam yang hanya menjawab seadanya selalui sikap formalnya. ia tak berexspresi apapun selain tetap diam menatap kearah panggung.
"Baiklah. kita rayakan acara ini dengan Pesta makan yang besar!!!"
Alfin beralih turun karna ia tak mau ikut dalam acara membosankam ini. ia mendekati Natalia yang sudah merentangkan tangannya menariknya dalam dekapan hangat yang membuat para Media diam-diam memotretnya.
"Selamat. Sayang! kau luar biasa."
"Ini untuk. Bunda!"
Alfin melepaskan mendali emasnya dan memakaikan benda itu ke leher Natalia tapi ia menyeringit saat melihat bahu wanita ini ada bekas tanah.
"Bunda!"
"Iya. Sayang?"
"Itu..."
Natalia dengan cepat menutupi bahunya lalu membawa Alfin kepangkuannya. semua itu benar-benar aneh tapi Sam hanya diam tak bersuara dan meninjukan wajah dinginnya.
"Alfin. lapar?"
"Iya. Bunda!"
"Kalau begitu pergilah duluan dengan. Papa!"
Dahi Alfin menyeringit tak mengerti. terlihat jelas ada yang disembunyikan wanita ini darinya.
"Memangnya Bunda mau kemana?"
"Bunda..."
Natalia berfikir keras. ia tak mungkin menunjukan lukanya pada Alfin yang pasti akan merasa bersalah.
"Bu..Bunda mau ke Toilet. Sayang! pergilah duluan."
"Tapi..."
"Ayo. Tuan!"
Natalia memberikan Alfin pada Sam yang menatapnya lama lalu berdiri beralih melempar pandangan pada para pengawalnya yang mengangguk.
"A...aku...aku ke Toilet dulu! kau .kau bawa Alfin keluar."
Natalia dengan cepat melangkah kearah samping dengan pandangan Sam yang menajam dan dingin.
"Tuan!"
Fagan mendekat lalu menunduk.
"Bawa Alfin pulang!"
"Baik!"
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..