
Tatapan prihatin itu lansung menghunus sesosok wanita yang tadinya ingin menutup pintu kamarnya tapi dengan cepat Alfin masuk hingga tangis tertahannya hanya bisa diredam dipinggir ranjang sana.
"Bunda!"
Natalia hanya diam menoleh kearah lain dengan wajah sengaja ditutupi rambut panjang yang menyembunyikan luka didalam sana.
Kesesakan itu berusaha Natalia tahan agar tak keluar. ia berusaha membendung segalanya dan tak ingin membuat siapapun tahu soal apa yang sekarang ia rasakan. bahkan, bernafas saja ia tak senormal biasanya karna mengingat Mamanya yang sudah tiada tapi mereka masih menghinanya.
"Bunda!"
"K..kau pergilah. kekamarmu."
Tolak Natalia lembut membuat Alfin diam membisu. ia tak tega meninggalkan wanita ini sendirian tapi ia juga tak bisa menenagkan Natalia yang tengah terpuruk.
"Bunda. obati luka di.."
"Alfin. p..pergilah kekamarmu, hm?"
Natalia mengusap babu Alfin yang seketika tak mampu untuk berkata banyak selain mengangguk berbalik dengan langkah pelan keluar kamar. sesekali ia berbalik menatap Natalia yang masih enggan bersuara kecuali diam menunduk.
Diluar kamar. Alfin bertemu Sam yang menangkap raut sedih dari wajah arogan putranya. ia tahu kalau bocah ini ikut merasa apa yang dirasakan Natalia barusan.
"Obati lukanya!"
"Hm. pergilah kekamar mu!"
Alfin melangkah pergi hingga tinggalah Sam yang menghentikan langkahnya didepan pintu kamar yang terbuka kecil. ia melihat Natalia mulai terisak pilu menekuk kedua kakinya diatas ranjang dingin sana.
"M..Mama hiks!"
Isakan tertahan Natalia tak mampu membendungnya lagi. ia memang tak pernah tahan jika Wanita yang telah tiada itu malah ikut diungkit dalam kisah pahit hidupnya.
"M..Mama. m..maafkan L..Lia hiks!"
Sam yang tak tahan mendengar itu semua langsung menarik langkah masuk dengan perlahan mendekati Natalia yang masih tak mengetahui keberadaannya.
"M..Mama hiks. Mama!"
"Hm."
Natalia tersigap saat suara familyar itu terdengar ditelinganya. kepala Natalia terangkat bersitatap dengan netra elang yang masih menatapnya datar ambigu. dengan jelas Sam melihat netra sembab merah berair dengan bibir mungil memucat tersimbah air matanya.
"P..Pergilah!"
Sam hanya membatu mengulur tangannya ingin menyingkirkan rambut yang menutupi pipi wanita ini tapi Natalia mengelak menepis tangan Sam pelan tak ingin disentuh.
"K..Keluar!"
Lirih Natalia bergetar dengan nafas tersendat dan serak. ia juga memutus kontak mata dari Sam yang tak berkedip melihat wajahnya.
"A..Aku ..aku yang pergi!"
Natalia berdiri melangkahkan kakinya untuk keluar namun, dengan saat yang bersamaan Sam lansung menarik pinggang Natalia cepat hingga tubuh wanita itu membentur dadanya.
"Lepas!!!!!"
"Diam!"
__ADS_1
"Lepas!!! lepaskan aku hiks!!"
Teriak Natalia memberontak memukul lengan kekar Sam yang tak gentar bahkan semangkin mengeratkan belitannya begitu kokoh.
"Lepas!! hiks, lepaskan aku..aku mohon!!"
Isak Natalia dengan makna yang berbeda. ia ingin lepas dari belenggu pernikahan ini dan tak mau kesini lagi, ia ingin pergi ketempat dimana tak ada satu orang pun yang menghina Mamanya.
"Diamlah!"
"Aku mau kau ceraikan aku!!!"
Brugh..
Sam melempar Natalia keatas ranjang karna sudah cukup sabar dengan pemberontakan ini. ia tak terima dengan kata cerai yang selalu terucap dimulut Natalia sedari tadi.
"K..Kau .."
Wajah Natalia memucat kekurangan pasokan keberanian melihat wajah tampan Sam yang sudah mengeras bahkan membekukan tulangnya. guratan amarah itu terlihat jelas membuat Natalia yang terkapar diatas ranjang ini gemetar.
"K..Kau.."
"Cerai?!"
Intonasi yang meremangkan kulit Natalia untuk yang kesekian kalinya. tubuh Natalia membeku saat Sam sudah naik keatas ranjang dengan mata seakan menyihirnya agar tetap diam ditempat dan itu memang adanya.
"C..Cerai! k..kau .kau terpaksakan? i..itu.. ka..kau tak menginginkan a..apa-apa dari.."
Ucapan Natalia terhenti dengan cekatan leher yang menekan nafasnya saat Tubuh kekar Sam sudah mengungkungnya rapat bahkan dada bidang pria ini sudah menekan dada sekang Natalia yang menahan nafas.
Tegukan ludah itu mengalir kuat di kerongkongan Natalia saat nafas maskulin ini berbenturan dengan nafasnya bahkan mata Natalia melihat jelas pahatan sempurna ini benar-benar menggoda tapi menyeramkan.
"K..Kau .."
Suara penuh penekanan yang membawa geram dan amarah. netra Sam seakan menelan habis nyali Natalia yang sulit untuk bicara tapi ia tak mau lagi bertahan disini.
"A..aku..aku mau b..berce.."
Cup..
Mata Natalia lansung membulat bahkan kedua tangannya sudah terangkat ingin menampar Sam tapi dengan cepat ditahan tangan kekar Sam yang sudah menekan bibirnya kuat sampai Natalia merasakan hisapan yang mengkebaskan bibirnya.
"Ehmm!!!"
Natalia memberontak tapi Sam mengunci kedua tangannya keatas kepala dengan bibir yang mencoba mendecap rasa asin dari darah yang ada di bibir wanita ini. bibir Natalia sangat hangat dan lembut membuat Sam yang tadi ingin mengkasarinya pun tak tega hingga hanya mengigit gemas menarik sengatan aneh yang menjalar ditubuh keduanya.
"L..Lepasmm!"
Sam masih enggan hingga saat merasakan Natalia mulai kehabisan nafas barulah ia menarik hisapan kuatnya tapi jarak wajah masih tetap seperti semula.
"K..kau ...kau ..m..mesum!!!"
Natalia terengah-engah dengan terbatuk kecil mengisi kembali rongga dadanya. wajahnya yang tadi memucat tampak merah padam dengan bibir bengkak yang kembali segar. luka disudut bibirnya masih menjadi objek perhatian Sam yang hanya ingin memutus kata-kata Cerai itu.
"Jangan pernah BERMIMPI."
Tekan Sam membuat Natalia tersentak. mata Natalia kembali mengembun dengan raut wajah penuh luka dan tak mampu untuk menahannya.
__ADS_1
"K..Kenapa? k..kau..kau marah kan?"
Sam hanya diam dengan wajah semangkin kelam.
"Kau tak menginginkan Pernikahan ini.. dan..dan kenapa kau tak mau menceriakan ku???"
"Aku.."
"A..aku..aku mohon. hiks! aku .aku akan mengganti uang itu dan..dan aku berjanji t..tak akan mengganggumu lagi dan.."
Sam lansung memeluk Natalia yang juga mendekapnya erat meluapkan semua rasa sakitnya. ia tak ingin seperti ini lagi dianggap perusak rumah tangga orang padahal ia tak tahu apapun.
"C ...Ceraikan aku hiks. aku .aku mohon. Tuan!"
"Sudahlah. berceraipun masalah juga akan tetap mengincarmu."
Sam menggunakan alasan itu padahal ia sendiri sudah merasa tak rela jika Natalia pergi dari sini. memang ia belum pasti dengan perasaannya tapi ia yakin Alfin tak akan mampu melepas Natalia.
"T..tapi aku harus apa? aku tak pernah ingin menggodamu dan merusak kehidupan kalian. aku bersumpah tak pernah memikirkan itu."
Sam merenung sejenak. apa ia salah menganggap Natalia sebagai wanita yang serakah? sejauh ini Natalia terlihat sangat tulus dan begitu polos dalam melakukan banyak hal
"Tuan!"
"Hm."
"S..sebaiknya aku..aku pergi dan.."
"Cukup. aku tak ingin membahasnya."
Sam lansung menyibak rambut Natalia kebelakang hingga ia menarik tubuh keduanya untuk duduk dengan wajah Natalia masih menunduk seperti biasa.
"Angkat kepalamu!"
"Ha?"
"Kepala!"
Natalia perlahan mengangkat kepalanya hingga Sam mengusap bibir bengkak dan luka dipipi ini dengan jarinya. kacamata tebal yang masih tertengger berantakan ini membuat pandangan semua orang mengecil.
"Kau yang menentukan nasibmu sendiri! aku hanya bisa menyiapkan wadah."
Dahi Natalia mengkerut dengan Sam yang meraih tempat obat didekat laci dengan raut wajah datar. Natalia sebenarnya masih aneh dengan ciuman tadi tapi ia tak tahu apapun makna itu semua.
"Maksudnya?"
"Malam ini berlatihlah di Perusahaan. mulai sekarang tentukan nasibmu sendiri karna Mamamu tak akan sudi punya anak yang hanya bisa menangis sebesar ini."
Bibir Natalia lansung mengerucut membiarkan Sam mengoleskan salep ke pipi dan sudut bibirnya dengan teliti dan lembut.
"Tuan!"
"Hm?"
"Kenapa kau menciumku?"
Glek ...
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang .