
Langkah cepat dan tergesa-gesa dengan nafas tercekat. Ia baru saja turun dari Mobil Anggota Sam yang tadi menyetop paksa Taksi yang ia tumpangi. Jantung Natalia tak berhenti berdebar disela langkah cepatnya menerobos keramaian diluar Club karna khawatir akan apa yang dikatakan Anggota Sam.
"Kesini. Nona!"
Hendry mengiring Natalia memecah keramaian para Media yang tak bisa masuk. Pengawalan sangatlah ketat tapi mereka terus memberontak membuat malam ini semakin riuh.
"Biarkan kami masuk!!!"
"Yah!! apa yang terjadi didalam hingga semua pengunjung di Keluarkan?"
Mereka meneriaki para anggota Sam yang hanya diam terus menjaga tempat ini. Natalia menyalip disela keramaian dengan wajah khawatir tak terbendung.
Brakkk...
"Tuan!!! Berhenti!!"
Suara Fagan yang terdengar jelas oleh Natalia yang sudah masuk separuh jalan dan berlari menyongsong suara kehancuran barang-barang serta serpihan botol-botol kaca
yang memenuhi lantai Club. Tak cukup disitu saja, mata Natalia membulat melihat kursi-kursi tempat ini patah berantakan dengan keadaan tak layak ditempati.
"Sialan!!!"
"Tuan!!"
Gumam Natalia kembali sadar saat mendengar suara bentakan Sam. ia berlari menuju para anggota yang terlihat berkerumun didekat tangga Club yang sudah roboh.
"J..J..Jal..Jlangg!!"
Lagi-lagi terdengar suara hantaman memecah kekosongan Club yang sudah setengah hancur. perkelahian itu membuat Maneger dan Staf tempat ini gemetar bahkan bersembunyi disudut sana.
"Mati kau!!!"
"Tuan!!!"
Teriak Natalia langsung menahan lengan Sam yang tengah menginjak punggung Lien yang sudah berlumuran darah bahkan wajah pria itu sudah bonyok dengan kesadaran yang diambang-ambang. Tangan Sam memeggang serpihan kaca tajam yang ingin mengoyak leher pria itu
Deru nafas Sam memburu bahkan wajah tampan mengerikannya sudah merah mengigil dengan tangan penuh darah. Kemejanya sudah dibasahi cairan amis merah kental dengan aroma yang menyengat.
"Tuan. Sudah!"
Ucap Natalia sangat terkejut dan memucat melihat keadaan Lien. dipastikan pria ini tak akan bangun selama beberapa bulan dalam keadaan yang seperti biasa.
"J..a..l.."
"Kauu!!"
Sam kembali ingin menancapkan kaca ditangannya tapi Natalia dengan cepat menyela diantara keduanya merentangkan tangan menghalangi kemarahan pria itu.
"MENYINGKIR!!!"
"T..Tuan.. jangan..jangan lakukan ini."
Rahang Sam mengeras mendengar Natalia malah membela pria ini. ia sangat muak mendengar lidah dan mulut kotor itu terus mengucapkan kata cabul tentang Natalia. Ia belum puas membuat Lien berhenti bernafas.
"Kau membelanya!!!"
"Tidak. tapi...tapi lihat dia, dia sudah tak.."
"Menyingkir!!! dari hadapa..."
Cup...
Mereka terkejut saat Natalia berhambur meraup bibir Sam yang refleks memeggang pinggang wanita itu agar tak jatuh. Bibir Natalia benar-benar membungkam Sam dengan erat tapi perlahan semuanya melembut mengalirkan ketenagan.
Tangan Natalia perlahan meraih botol yang ada digenggaman Sam. mengelus tangan kekar pria itu lembut seakan mencoba masuk dalam lubuk kemarahan yang tengah membara didalam hati sang suami.
Mereka semua diam. memalingkan wajah yang kembali terasa hidup.
Bibir lembut dan sangat manis. Cumbuan berirama dan tak bisa dibiarkan membuat rasa damai itu mengalir dengan sendirinya. Belaian tangan Natalia kekepala Sam membuat amarah pria itu meredup bahkan serpihan botol yang setengah hancur itu terlepas sudah digenggamannya membuat para pengawal Lien memanfaatkan keadaan itu untuk membawa Tuannya pergi.
Tentu mata Sam melihat itu hingga ia ingin kembali menyembur tapi Natalia dengan cepat menangkup pipinya lembut.
"Hey!"
"Sialan!!! berikan dia padaku!!!"
"Suttt. Sam! sudahlah."
Ucap Natalia lembut dan begitu penuh kasih. Ia mengelus kepala keangkuhan ini untuk mencapai jiwa kegagahan yang tengah lepas tak lagi mengontrol diri. Perlahan dan hanyut, Sam memejamkan matanya untuk mengambil kendali lalu menatap Natalia.
Sorot mata Sam yang tadinya menajam dan mengerikan berubah total menjadi ringan dan biasa. Wajahnya kembali rileks dengan aura semua tenang.
__ADS_1
"Sudah. hm?"
"Hm."
Natalia menghadiahkan satu kecupan kilas ke bibir Sam yang menghela nafas halus menatap tempat yang sudah hancur karnanya. Ceceran darah Lien menjiprat kemana-mana membuat ia puas. Setidaknya bajingan itu menerima petaka dari mulut sialannya.
"Lihat. kau juga terluka." Natalia melihat tangan Sam.
"Pulang!"
"Tapi. itu ..tanganmu."
Sam hanya diam melangkah menuju pintu samping yang dijaga anggotanya. Lengan kekar dipenuhi bercak darah itu masih membelit pinggang ramping Natalia menghindari keramaian didepan sana. Para Media masih meliput membuat Natalia sungguh khawatir akan ada berita macam-macam nantinya.
"Urus mereka!"
"Baik!"
Hendry siap siaga mengawal tempat ini dengan Fagan yang sudah membuka pintu Mobil dijalan samping menunduk membiarkan Sam masuk bersama Natalia.
Suara kericuhan itu masih menggelegar membuat malam ini terasa kacau. Suara Mobil polisi juga terdengar menaik Natalia menatap panik kebelakang.
"Polisi!"
Sam hanya diam. ia membuka Kemejanya lalu melempar kebelakang membuat tubuh kekar nan Atletis itu terlihat nyata. Pesona Sam memang tak terbantahkan bahkan, saat rambut dan pakaiannya tak lagi rapi menawarkan pemandangan sexsi dan brutal.
"Tuan!"
"Hm."
"Itu Mobil Polisi! aku takut dia menangkapmu."
Polos Natalia masih gelisah ditempatnya. Fagan yang tengah melajukan Mobil meninggalkan area Club-pun hanya menyunggingkan senyum singkat. Polisi bukanlah hal yang besar, tapi satu yang akan berpengaruh yaitu Topik utama yang akan membuat situasi semakin rumit.
"Tuan!"
"Hm."
Natalia menatap kesal Sam yang dengan enteng memainkan ponselnya. luka dipunggung tangan pria itu terlihat masih basah dan kening Sam terkena jipratan darah. Tak mau menunggu lagi, Natalia dengan cepat menyambar Ponsel Sam yang terkejut.
"Kauu .."
"Lukamu masih berdarah. berhentilah bermain ponsel."
Tekan Sam melotot tapi Natalia enggan. Wanita itu dengan cepat memasukan ponsel itu kedalam Beranya saat Sam ingin mengambilnya.
"Kau apa-apa'an? ha!!"
"Suttt!!! diam."
Sarkas Natalia menarik tangan Sam kepangkuannya. Ia mencari kotak obat yang biasa ada didekat kursi Mobil hingga benda kotak itu ia temukan.
"Untuk apa berkelahi seperti itu? tak ada gunanya."
"Kau tak tahu apapun."
Geram Sam ingin menyentak tangannya tapi Natalia menggenggamnya erat. bahkan Natalia tak membiarkan Sam bergerak sama sekali.
"Duduk, perhatikan dan tenang."
"Kenapa kau menghentikanku? seharusnya dia sudah tinggal nama sekarang."
Sam terlihat panas mengingat kalimat cabul itu mengalun bebas. Istrinya bukanlah bahan lulucon apalagi taruhan liar seperti itu.
Melihat Sam yang begitu tersulut emosi. Natalia jadi terhenyak. Tak biasanya kau semarah ini? bahkan saat Papamu menyuruh menikahiku kau tak mengamuk begini. sebenarnya apa yang terjadi?
Batin Natalia bertanya tapi ia masih membersihkan luka dipunggung tangan Sam. sepertinya pria ini tadi meninju dinding.
"Kenapa kau semarah itu?"
"Apa aku harus diam saat dia ingin mengambilmu?? apa aku hanya diam ketika mulut bajingan itu melecehkanmu???"
Natalia terkejut seakan masih tak percaya. Mata indahnya menatap dalam netra elang Sam yang terlihat tersulut emosi. Benarkah? kau semarah ini hanya karna aku?
"Bahkan aku ingin menggorok lehernya!"
"Benarkah?"
Tanya Natalia dengan wajah senang dan haru. Tangan kekar Sam digenggamnya hangat menyalurkan binaran kasih yang tengah mekar dihatinya. Ia tak bisa menyangka Sam akan menjadi Garda terdepan melindunginya.
"Lupakan saja."
__ADS_1
"Terimakasih!"
Ucap Natalia tulus, sangat hangat. ia belum pernah diperjuangkan seperti itu bahkan diperebutkan saja itu masih tabu. Sam seakan menjadi Ayah sekaligus Suami yang begitu perduli padanya.
"Cih. kau menangis lagi."
Umpat Sam menghapus lelehan bening yang jatuh dipipi Natalia dengan jempolnya. kedua mata Natalia berkaca-kaca merasa sangat bahagia sekaligus terenyuh.
"T..Terimakasih."
"Hm."
Natalia berhambur kembali memeluk erat Sam yang dengan ringan membawa tubuh molek istrinya keatas paha. wajah Natalia terbenam ke belahan dada bidang berotot Sam. seraya satu tangan masih saling menggenggam.
"Sudahlah. aku yang berkelahi tapi kau yang menangis."
"P..Papa tak pernah seperti itu. S..Sam !"
Sam terdiam sejenak mendengar suara bergetar Natalia yang mengelus keningnya. jari lentik itu merapikan rambutnya dengan halus dan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu aku Papamu. aku bisa jadi apapun yang kau mau."
"Aaaa!!! aku jadi ingin menangis terus."
Rengek Natalia kembali membenamkan wajahnya ke dada bidang Sam yang menyunggingkan senyum samar mengecup lama puncak kepala wanita ini. Hanya Natalia yang mampu memporak-porandakan hidupnya dan jiwa didalam tubuhnya.
"Dadaku basah. Kuman! simpan stok air matamu untuk nanti."
"Kapan?"
Tanya Natalia menggesekan hidung mancungnya ke dada Sam yang menggeleng. wanita ini lagi-lagi mengelap ingus dengan tubuhnya.
"Kapan?" tanyanya lagi.
"Nanti. saat melahirkan!"
Dahi Natalia mengkerut beralih memandang keperut berkotak Sam yang menggiurkan. Ia tak tahan untuk tak menyentuhnya hingga tangan lentik itu sudah menempel disana.
"Apa kau bisa melahirkan?"
"Kauu!!!"
Geram Sam naik darah tapi Natalia hanya mencengir menunjukan gigi rapi dan ginsul manisnya membuat Sam tak tega membentaknya lagi.
"Aku tak pernah belajar soal melahirkan. jadi, seharusnya dimaklumi. Tuan!"
"Terserah padamu."
Acuh Sam memilih memejamkan matanya bersandar kekursi mobil menikmati belaian lembut jari lentik Natalia diwajahnya. Sangat pelan dan begitu hati-hati jemari Natalia menyusuri alis tebal yang tajam pindah ke hidung mancung sesuai porsi hingga berlabuh ke bibir sensual Sam yang selalu membuatnya merindu.
" Apa dulu Nyonya Maria berdo'a sepanjang malam hingga mendapatkan Dewa sepertimu."
Lirih Natalia ciut tak mau didengar Sam yang menyunggingkan senyum kilas. Ia mendengarnya bahkan sangat jelas. Belitannya mengerat dengan kawalan posesif yang nyata. Tak ia biarkan angin menembus jarak dari tubuh mereka.
"Tuan!"
"Hm."
Lama Natalia menatap bibir Sam tapi segera ia menggeleng menghilangkan rasa itu. ia tak boleh membayangkan yang tidak-tidak, Sam tak mungkin memaafkannya jika mengungkit soal Qyara.
"Ada apa?"
"A.. itu .... Papa mau Operasi. jadi aku tak bisa sering pulang."
Mata Sam langsung terbuka menatap datar Natalia yang kikuk. ia ingin mengatakan ini agar Sam tak marah padanya.
"Aku akan mengirim semua Dokter yang dibutuhkan."
"Tapi, aku tak mungkin meninggalkan Papa disaat seperti itu."
Sam terdiam sesat. perasaan egoisnya muncul untuk memiliki wanita ini seutuhnya tapi Natalia memiliki keluarga. Baik atau tidaknya tak mungkin ia melarangnya.
"Baiklah. tapi ingat, aku tak terima jika kau berdekatan dengan laki-laki lain."
"Disana semuanya tua, aku tak akan terperangkap." polos Natalia berbinar.
"Tua atau muda. selagi terus bertemu apa gunanya."
Jawab Sam apa adanya. Ia tak semudah itu melepas Natalia. jujur Sam tahu kalau yang merawat Pria tua itu adalah Dokter Sialan masa lalu istrinya. Tapi Sam masih menahan, ia akan lihat sejauh mana Natalia menjaga dirinya dan membohonginya.
"Kau pikir aku bodoh? sudah jelas kau membohongiku."
__ADS_1
.......
Vote and Like Sayang..