Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 103


__ADS_3

“Terus...“


“Ini ruang lainnya. Banyak lukisan juga.“


“Apa mahal.“


“Entahlah. Indah-indah tapi...“


“Wih. Masih ada lukisan,“ tanya Jasmine melihat si Kintoko beralih ke ruangan lain yang banyak di penuhi karya seni.


“Ada, banyak nih. Salah satunya gambar jengger ayam.“

__ADS_1


“O“


“Masa jengger saja di lukis,“ ujarnya. Heran dia. Kan banyak yang lain yang mestinya akan menarik kalau menjadi lukisan. Begini siapa yang mau beli. Tapi lukisan tak tergantung dari apa yang dilukisnya membuat sesuatu itu mahal. Walau ada yang sangat abstrak, tetapi sangat mahal harganya. Dan bagi banyak orang akan kesulitan untuk mengetahui bagaimana lukisan itu bisa demikian berarti bagi satu atau dua orang yang bisa memahami makna dari suatu seni yang sangat indah. Bahkan ada yang hanya melukis riak-riak air, serta tak jelas kalau itu adalah hal demikian. Walau dalam melukis sangat cermat. Dengan berhari hari di suatu telaga dan yang dihasilkan hanya riak air, tapi itulah proses. Dimana menghasilkan suatu yang berharga. Yang tentunya sanggup menutup segala jerih payah dalam mencari ide. Atau hayalan yang terlampau melambung. Sehingga tak mungkin akan melihat suatu galaksi. Nyatanya saat berhasil memperoleh gambar yang aneh, ternyata sangat mirip dengan gambar malam dari sekumpulan galaksi jauh yang tak nampak oleh mata. Sehingga banyak yang menduga kalau hal itu suatu gambaran tentang dunia jauh yang tak nampak, namun sudah bisa di lukis melalui seni yang ada dalam pemikiran seorang jenius. Atau lukisan tentang kanak-kanak, namun sebenarnya dia dewasa, dan menggambarkan suatu keindahan khusus bagi si pengagum. Inilah uniknya sebuah kesukaan. Dimana akan berbeda dari yang lain nya. Dan yang lainnya itu tak habis pikir kenapa kesukaan seseorang demikian aneh.


“Merahnya bagaimana?“


“Merah darah ini, merah yang kehitaman begini. Kayak bibir cewek. Hehe... atau darah ya?“ ujar Kintoko serta melihat-lihat bagaimana indahnya lukisan begini. Namun sejauh yang dia lihat, tak begitu pun menyentuh sisi otak terdalamnya. Biasa saja dan bukan suatu apa-apa. Yang bisa dia lihat hanya merah begitu saja. Bahkan baginya lebih indah bibir cewek, daripada keperkasaan ayam yang mampu mengalahkan musuh kala berada dalam pertarungan hidup mati di suatu kalangan. Sehingga, barangkali saja dengan menunjukkan indahnya merah jengger begitu, akan menunjukkan suatu kejantanan sebagai pemenang dalam kehidupan. Yang berikutnya bakalan memicu orang lain untuk mengikuti langkahnya yang menjadi pejantan tangguh serta mamu mengalahkan kehidupan yang keras ini dengan penuh keberanian dan kejantanan layaknya ayam jago yang tak takut apa dan siapa pun.


“Ya kali.“


“Lalu.“

__ADS_1


“Entahlah.“


“Ini ruang mereka, kali tempat pesta, juga banyak hiasan.“ Ruangan itu demikian luas. Hanya terdiri dari meja dan bangku yang demikian saja. Walau ukurannya sama dengan ruangan sebelum nya. “Tapi mereka pada tergolek. Banyak botol, banyak makanan juga.“


“O“


“Gue ambil ah,“ kata Kintoko yang sepertinya ingin.


“Eh jangan, ikut mabuk lu,“ ujar Jasmine.


“Hehe...” Kintoko hanya mengekeh.

__ADS_1


__ADS_2