Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 38


__ADS_3

“Bentar. Kita makan yuk,” kata Kintoko kelaparan.


”Oke.”


Mereka mampir ke warung makan. Yang banyak menu nya dengan kaca yang di plester isolasi. Depan nya. Disini ada daging-dagingan, ada telor juga cincang.


“Pesan apa lu?“


“Pakai telor saja,“ kata Kintoko tak ingin yang aneh-aneh.


“Gue cincang.“

__ADS_1


“Wah mantap.“


Segera di bawa ke meja makan. Disitu ada beberapa tempat duduk. Ada yang berhadapan, ada juga yang menghadap dinding. Dipilihnya yang menghadap dinding dengan pemandangan photo luar pulau yang di tempel pakai banner. Hampir memenuhi satu sisi ruang itu. Menjadi pemandangan dinding yang indah.


Setelah makan.


”Nah, lu bawa.”


”Ya bukan. Lu ngontrak di rumah gue. Paling mirip doang.” Lagian sudah biasa kalau tetangga lagi tak ada kerjaan di suruh membantu pemilik rumah. Itu akan meringankan pekerjaan serta bisa menjadi kegiatan tersendiri buat si menganggur. Terlebih lagi, nanti kalau ada untung juga bakalan kebagian, tidak ketang uma sedikit tentu akan di kasih juga. Soalnya sudah memberikan tenaga untuk kesemua nya itu.


”Kok gua bawa banyakan belanja buah-buah lu ini,” ujar Kintoko komplain. Dia keberatan kayaknya. Belum apa-apa sudah keringatan. Nasi sebakul tadi kayaknya sudah langsung habis saja. Demikian menyiksa kegiatan demikian. Tapi bagaimana lagi.

__ADS_1


”Ya nggak papa to.” Masa dia yang banyakan. Kan cewek. Nggak ada tenaga. Bakalan lebih cepat lapar nanti. Kalau cuma lapar, tapi sampai, mendingan. Kalau tak sampai lokasi itu yang bakalan membuat pemikiran mengerikan akan kelanjutan usaha mereka yang sudah di rancang sedemikian rupa, sehingga tak menjadi untung nanti nya. Itulah sebab nya yang mesti membawa bantuan sendiri agar semua nya berjalan lancar.


”Gede lagi.”


”Ya...” Namanya mau di jual lagi mesti pilih yang besar-besar. Nanti kan dipotong potong menjadi banyak bagian untuk kemudian mendapatkan untung tersendiri. Kalau kecil, selain rasanya kurang mantap, juga ada kemungkinan cara membaginya yang kesulitan. Kalau di jual utuh belum tentu bisa mendatangkan untung. Sebab waktu laku juga tak pasti. Jika cepat tentu akan segera mencari kembali barang yang di pakai buat persediaan. Namun kalau laku nya lama juga butuh pengganti nya sulit. Serta bisa jadi akan semakin membusuk benda yang semestinya harus di fungsi kan kala itu juga.


”Mana berat ini.”


”Tahan bentar,” ujar Nyonya Santi dengan santuy nya seakan sudah biasa kalau ke pasar itu ya banyak bawa barang. Kalau uma satu dua kan bisa ke warung sebelah atau mini market yang banyak bertebaran di pinggir jalan. Itu tak beresiko dengan transportasi yang di keluarkan. Namun jika banyak, maka kebutuhan yang di luar sana lebih murah tentu akan sebanding dengan ongkos angkot yang juga tak seberapa nanti nya.


”Huh...” Kalau nggak berat tentu akan di lakukan sendiri. Mana kuat ibu begitu ngangkat banyak barang. Makanya membawa tenaga orang luar. Biasanya tukang becak atau ojek bisa tuh dimintai bantuan. Sekalian nyampe rumah. Tapi kali ini daripada ada yang tak baik di rumah kondisi nya bukankah lebih baik buat mengantar. Jadi nanti bakalan ada kerja serta tak melulu menganggur yang hingga saat bayaran bulan depan akan kebingungan buat membayar nya lagi. Itu yang patut di hindari.

__ADS_1


__ADS_2