
“Jadi ini rumah siapa?“ tanya Kintoko. Ingin sekali dia ikut mengetahui misteri yang tengah diselidiki ini. Masa ikut tetapi selalu saja tak paham kalau apa yang tengah mereka intai benar-benar tak dipahami. Semestinya itu juga sudah di pahami semenjak awal sehingga untuk langkah selanjutnya juga sangat tahu apa yang akan di lanjutkan berikutnya.
“Ya pemiliknya,“ jelas Jasmine. Rumah ini pemiliknya memang orang yang tengah dia selidiki, karena menurut laporan banyak sekali berita miring tentang rumah tersebut yang mempunyai misteri tak terpecahkan. Sehingga dia sangat penasaran dengan kebenaran yang akan dia temukan dengan sedikit penyelidikan yang membuahkan hasil maksimal di nanti nya.
__ADS_1
“Gua tahu.“ Kintoko nampaknya mengerti sekarang akan pemilik rumah yang tengah mereka datangi itu. Paham dia. Seperti sebelumnya yang dia segera paham akan kinerja menyelidiki suatu kasus mengerikan seperti yang tengah dia hadapi kali ini. Itu sebuah kemajuan semestinya kalau-kalau bisa membantu menyelesaikan kasus dengan cepat sehingga nanti akan langsung kembali lagi untuk kerja dengan nyonya di rumah kontrakan nanti. Sehingga bisa nyari uang lagi.
“Siapa?“ tanya Jasmine. Dia senang, rupanya rekannya ini sudah banyak kemajuan. Terutama akan apa yang dia selidiki juga. Sehingga akan menjadi suatu hal yang bermanfaat untuk perkembangan kasus selanjutnya. Dalam artian kalau sudah paham akan semuanya itu nanti hanya akan melanjutkan kerja selanjutnya yang bisa mencapai titik akhir tanpa perlu perjuangan selanjutnya yang membutuhkan kerja lanjutan.
__ADS_1
“Bukan. Ini Doni,“ ujar Jasmine. Tentu saja berbeda dengan yang sudah-sudah. Kalau sama, bukan nya tak perlu diselidiki lagi. Sebab hal itu sudah sama, serta untuk selanjutnya tinggal menarik kesimpulan seperti yang sudah-sudah, dan itu bakalan menjadi sebuah hal yang tak perlu di pikirkan lagi.
“Kirain sama.“ Kintoko sedikit kecewa. Tebakannya sangat keliru. Namun begitulah. Namanya perbincangan. Mesti ada hal yang bisa membuat mereka saling berkata. Supaya timbul suatu percakapan yang saling silang sehingga bakalan menjadi suatu dialog yang saling berkaitan. Sehingga untuk selebihnya jadi hal yang bisa di tarik garis benarnya. Jika hanya diam, maka selama itu tetap tak ada pembenaran diri. Dan hanya kata atasan itu yang selalu jadi patokan untuk selanjutnya mesti berjalan dengan tanpa perlu pembenaran lagi. Jika ini yang terjadi, maka seakan segalanya berjalan dengan hampa. Diam itu hampa. Jadi ada benarnya kalau suatu perbincangan untuk berikutnya diambil keputusan yang saling menguntungkan, baik saat itu juga maupun demi ke selanjut nya yang baik sebagai percontohan juga untuk di laksanakan lanjutan nya.
__ADS_1
“Ya beda lah,“ jelas Jasmine lagi. Tentu beda, masa sama kan nggak mungkin untuk dua peristiwa beda, tentunya bakalan ada dua hal yang berbeda juga. Makanya tak mungkin sama. Seperti kali ini suatu hal yang lain sekali.