Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 108


__ADS_3

Lalu dia meneruskan kata-katanya, “tahu lukisan itu?“


Semua memandang ke lukisan aneh yang menggambarkan wanita dalam kobaran api. Dan terbingkai dalam sebuah pigura yang sangat manis. Walau dengan warna serat yang seakan mirip darah juga sedikit kemerahan yang mengikuti serat kayu.


“Dia adalah perempuan yang di bakar.“ Semua tahu akan hal itu. Sebab nampak demikian. Nyala api yang berkobar-kobar. Sehingga menggambarkan suatu kesetiaan yang tak akan habis walau di makan api sekalipun.


“Dan merah warna itu darahnya.“

__ADS_1


Baru kali ini semuanya terkejut, tak mengira kalau merah itu darah betulan. Yang digambarkan sebagai api. Kobaran tersebut sangat nyata. Sebuah api yang melingkari wanita untuk menggambarkan sebagai seorang sakti atau sebuah kesetiaan yang besar, sebesar kobaran nyala api tersebut.


“Yang terawetkan, dan masih berwarna menyeramkan,“ ujarnya lagi dengan pasti dia mengungkapkan demikian. Karena dari sebelumnya, akan wanita yang hilang, dan kegemarannya akan lukisan, hal itu sekan menunjuk ke suatu yang aneh dan menuju ke menguaknya kasus tentang orang-orang hilang itu.


“Begitu.“ Kintoko juga semakin paham saja akan masalah ini. Namun ada sebagian yang rasanya belum terang. Karena masih tersembunyi dalam suatu rahasia yang sangat tersembunyi. Ibarat suatu benda tersembunyi yang terkurung dalam kamar rahasia, sehingga kalau tak segera membuka nya dengan kunci khusus, maka segalanya tak akan terbuka dan terus terkurung dalam ruang aneh tersebut.


“Bagaimana bisa, kan akan hitam seperti pagar di depan itu.“ Kintoko penuh tanda tanya. Karena darah pada waktu yang tak terlampau lama akan berubah warna. Tak lagi berwarna merah.

__ADS_1


“Ih menyeramkan. Lukisan berlumur darah dong kalau begitu,“ ujar Kintoko. Orang-orang di situ hanya saling tatap. Bagaimana tidak menyeramkan jika itu suatu darah yang betulan namun di buat menjadi gambaran darah yang tampak begitu. Yang sebelumnya mengira kalau darah itu hanya imajinasi dari si pelukis dalam menggambarkan kobaran api semangat sebagai simbol suatu kesetiaan yang nyatanya suatu pengkhianatan.


“Ya begitulah. “


Dia istri yang berkhianat. Saat mengetahui perbuatan tak baik itu. Maka dia marah. Namun kala mengetahui wajahnya yang bersedia datang ke rumah tersebut di suatu masa, dan bercakap saling berhadapan muka, membuat hati Doni luluh. Serta tak jadi melampiaskan dendam. Biarlah yang sudah berlalu biar berlalu. Semua kejadian ya sudah.


Dia hanya minta supaya si wanita tersebut tak mengulangi perbuatannya. Yang membuat hati luka.

__ADS_1


Lalu diajaknya minum. Tanpa disadari minuman memabukkan itu terkadang tak baik buat seorang yang tak biasa minum. Ada sebuah penyakit dalam yang tak bisa tercampur dengan at yang terkandung dalam minuman keras itu. Sehingga menjadi suatu penyakit yang sangat berat. Terjadi kala itu juga. Dan terus mengembang. Sampai tak tertahankan.


Sehingga si wanita jatuh. Dia tak tertolong. Walau doni melakukan sekuat tenaga. Tapi dia juga kondisi mabuk yang tak bisa menolong secara sempurna.


__ADS_2