
Malam harinya.
“Asik malam-malam gini main di teras,“ ujar Kintoko sembari duduk di teras membaca koran dan hanya memakai sarung.
“Ngapain lu?“
“Ini duduk sambil ngerokok,“ jawab nya dengan santai. Mau apa-apa sulit. Mau pergi juga sudah malam. Makanya duduk duduk saja di tempat begitu sembari memandang jalanan yang sangat ramai. Walau tertutup pagar depan yang lumayan tinggi. Serta beberapa kios orang yang memfungsikan untuk berbagai kegiatan.
Santi ikutan duduk. “Daripada bengong, lebih baik kita main catur yuk.“
“Oke,“ ujar Kintoko. Dia tak segan-segan melawan musuh. Apalagi cewek. Jarang ada yang beginian jago main. Terutama untuk daerah. Kebanyakan yang melakukan adalah lelaki. Walau di beberapa daerah ada juga yang pandai. Bahkan tak sedikit yang jadi jagoan dunia. Namun untuk di hitung persentase jumlah pemain, apalagi jika memperhatikan yang sekedar main di rumah, maka akan jarang terlihat orang tersebut yang melakukan nya. Mereka akan lebih suka melakukan olah raga lain yang sekiranya sesuai dengan kemampuan serta banyak pengikut sehingga kalaupun nanti ada pertandingan banyak yang mengikuti nya.
“Bisa nggak lu.“
“Sembarangan. Di kampung, gua juaranya tahu,“ ujar Kintoko yang sedikit membual. Apalagi di kampung kan penduduk nya sedikit. Sudah itu kebanyakan pada senang dengan kegiatan di ladang sebagai pekerjaan sehari-hari. Jadi tak ada waktu untuk main-main. Pantas saja hanya dia yang suka main catur.
“Wah...“
“Jangankan lawan kamu, main catur sama catur, juga menang kok.“
“Masa main catur sama catur, kan nggak ada.“
“Ya ada lah.“
Tetap saja dia tak yakin. Soalnya nggak ada itu.
“Ayo kita coba.“
“Ya sana beli papan nya.“ Dia enggan kalau suruh beli. Mengeluarkan biaya. Kalau yang punya rumah kan untuk besok atau kapan-kapan masih bisa di pergunakan lagi. Sehingga masih tak terlampau merepotkan jika memiliki yang tak demikian perlu untuk kehidupan itu.
“Ngapain beli. Pinjam sama tetangga kos kan bisa,“ ujar Santi. Memang alat permainan tersebut tergolong murah. Bahkan ada yang murah sekali. Namun begitu, kalau yang sesuai dengan standar permainan tingkat tinggi tentu juga ada yang mahal. Apalagi yang hanya untuk di pamerkan, maka akan sangat mahal, karena bisa saja di buat dari bahan khusus yang sengaja di pajang doang untuk bisa menjadi perhatian publik, bahwa di lokasi tertentu mempunyai suatu alat yang sangat hebat dengan bahan pembuatan yang mahal juga.
“Sama Nona SN....”
“Ya bukan lah.”
“Oke. Tapi bikinin kopi juga ya.“
Segera pergi ke kontrakan yang lain. Untuk meminjam papan catur yang gede. Dan membuat minuman. Agar mata bisa melek lama, sekaligus bisa lancar dalam menjalankan buah sembari terus berpikir keras bagaimana permainan nya bisa mengasikkan. Sebab olah raga demikian membutuhkan pemikiran yang sangat komplek dan mesti teliti. Sehingga lawan tak main-main dalam menjajal kelebihan nya itu.
“Bisa menata nya nggak luh,“ ujar Santi sembari menghamparkan alat pinjaman itu di meja. Nampak tak seberapa memang di banding ukuran meja yang terlampau lebar. Namun lumayan bisa saling berhadapan dengan jarak yang tak begitu jauh. Sehingga untuk menjalankan bahkan menjangkau ujung papan di posisi lawan, tangan bisa dengan mudah meraihnya. Sebab nanti di akhir permainan juga mesti bisa menjelajah seluruh daerah setelah beberapa bagian buah itu sudah mulai menipis di papan.
__ADS_1
“Alah tinggal nata doang.“
Kintoko segera menyusun buah catur itu dengan baik.
“Kan ngawur,“ ujar Santi yang melihat posisi raja sama patih nya keliru. Dengan raja putih di kotak putih. Makanya segera di betulkan, agar yang salah tidak terlampau berkepanjangan serta selanjutnya menjadi benar dalam mempermainkan keadaan. Hingga untuk berikutnya juga akan lancar-lancar saja.
“Masa...“
“Dibilangin juga. Nih begini nih.” Santi membetulkan. “Dah jalan duluan.“ Setelah posisi benar.
“Kamu dulu, kan bisa.“
“Itu, putih punya lu.“ Biasa putih kan jalan duluan. Itu sudah jadi kebiasaan dalam bermain. Walau menang sut, tetap saja bidak itu yang mesti melangkah, sudah jadi kesepakatan bersama.
“Oke...“ Kintoko menurut. Sembari menyeruput kopi. Pokok nya sekali langkah dia minum dulu. Makanya minuman itu cepat habis.
Sambil mengangkat buah dia menyanyi.
“Mana mungkin satu pondok ada dua cinta…”
“Pondok, ini kontrakan ya.”
“Ya lain.”
Lalu kata Kintoko sebelum memajukan buah catur nya, “Ini semua ada filosofi-nya ini.“ Seraya meletakkan kembali pion ke tempat asal. Tak jadi bergerak.
“Masa...“
“Pion. Harus jalan lurus dan terus. Nggak boleh mundur. Sebagai pekerja harus maju, tak boleh kehilangan semangat dan mundur selagi nyawa masih ada. “
“Begitu.”
“Kalau ada Armageddon, dia ini, kan sudah gundul, dia bisa melindungi raja.”
“Mana bisa.”
“Yah kan sebagai prajurit harus melindungi raja dari kiamat sudah dekat. Ngga boleh meleng sedikitpun. Dan tak usah mundur. Terus maju, sampai di ujung nanti dia bakalan berubah menjadi jagoan pilih tanding.”
“Begitu.“
“Ya gitu. “
__ADS_1
“Patih. Ini bisa memakan apa saja. Termasuk raja musuh. Jadi dia akan bisa mengalahkan siapa saja selama permainan dan dalam jangkauan nya. Dia paling perkasa. Hanya saja kalau terlanjur kena musuh orang, maka akan berasa sangat sedih, dan menjadi kekuatan yang hilang dari pihak musuh. “
“Menteri ini jalan nya lurus.“
“Tapi miring.“
“Meskipun begitu, lurus sepanjang papan bisa di telusur. Ini artinya supaya kalau menunaikan tugasnya di seluruh bidang wilayah kekuasaan mesti lurus di jalan nya. “
“Beteng berbalikan dengan menteri. Dia juga bisa memakan apa saja sejauh jalan lurus sepanjang papan kekuasaan nya. Dan bisa membentengi raja agar pertahanan sangat kuat. “
“Kuda itu sangat kuat. Dia bisa makan apa saja. Cuma dalam posisi L. Sehingga dia akan bisa mengalahkan siapapun tapi dalam batas yang sudah ditentukan. Jadi tak semuanya bisa dia langgar. “
“Juga papan hitam putih.“
“Apa itu?“
“Sebagai penanda di setiap langkahnya agar jelas dimana kita berpijak. Bayangkan bila hitam semua, atau putih semua, maka tak akan jelas mana batas-batas yang bisa di lalui dan mana yang tak bisa di jalankan. “
“Cepat jalan ah, bicara mulu. Bisa kagak sih.“
“Gimana, ya bisa lah.“
“Mana mungkin.“
“Pondok lagi.“
“Minum ah.. menyehatkan ini.“ Sembari menyeruput sisa kopi nya.
“Bukan asem kunir juga. “
Setelah tiga kali main. Sekali saja Kintoko menang. Itu juga menghabiskan sekitar tiga jam lamanya. Kebanyakan mikir sama jalan yang nggak jadi-jadi.
“Huh... Salah lawan gua. Dah ah besok kita dagang.“
“Eh besok kita main lagi yah...“
“Ogah. Capek. Lu nggak jagoan.“
“Eh, besok lain. Dah latihan gua. “
“Ah.“
__ADS_1