Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 107


__ADS_3

“Jangan bergerak!“ ujar Kintoko mendahului masuk sembari menyepak-i para menggelosor akibat mabuk supaya segera bangun. Di ikuti Jasmine. Mereka akan menuntaskan segala urusan kali ini. Makanya mesti memberanikan diri. Walau jumlah mereka lebih banyak. Tapi semua bisa diatasi. Karena masih dalam suasana tak nyaman begitu.


“Gue mah mana bergerak, mabuk gini,“ ujar Tur Guntur sembari sempoyongan. Mau bangun seakan tak ingin. Dan inginnya rebahan saja. Maklum lemas banget suasananya. Seakan merupakan barang yang tanpa gapetan. Dan inginnya rebahan melulu. Ini yang paling asik. Semestinya kalau bergerak tadi sebelum minum. Atau minum kopi bakalan melotot terus, itu mata bercampur lambung yang bergolak akibat zat kontra tersebut. Tapi ini sudah terlanjur minum minuman keras dalam botol yang sangat mahal dan begitu melegenda sehingga benda tersebut beredar luas meskipun di sana sini sudah banyak cegatan dan aturan larangan namun tetap saja masih ada benda mengerikan tersebut.


“Diem lu!“ Bentak Kintoko. Mangkel banget dia. Kalau tak di buat demikian bakalan ngelunjak dia. Sudah berulangkali, pasti anak ini yang bikin ulah.


“Oke oke,“ ujar Guntur yang sudah diam terpaksa lebih diam lagi. Bagaimana lagi di suruh. Seakan menjadi serba salah. Mau tidur tak boleh, minum apalagi. Padahal masih ada beberapa tetes tuh dalam botol. Jika di ijinkan pasti masih kuat beberapa sloki lagi supaya mencapai rekor terbaru. Tapi jangankan minum, airnya juga sudah tak ada. Ih sebel deh.

__ADS_1


“Siapa lu?“ tanya Doni. Melihat orang tak dikenal sudah berada dalam rumahnya. Atau barangkali dia yang berada di rumah oorang. Maklum mabuk jadi tak paham kanan-kiri. Tapi perasaan dia tak pernah pergi-pergi. Itu yang dirasa semenjak awal. Sebab kalau pergi pasti punya karcis. Dan ini tak. Berarti semuanya berjalan seperti biasanya. Dia berada dalam suatu ruangan yang tak bergerak. Hanya bumi ini saja yang seakan berputar terus.


“Nanya lagi. Gue ini tamu,“ jelas Kintoko.


“Kan tamu,“ sudah mulai jelas semua. Ternyata benar. Ini ruangan yang biasa dia pakai guna melakukan berbagai kegiatan. Tak pergi. Tak kemana-mana. Hanya kepalanya saja yang berputar. Dan ruangan itu masih merupakan tempat terindah baginya dimana bisa melayang jauh menembus awan setiap saatnya. Ik...


“Ya sudah, tunggu gue ambil minum,“ ujar Guntur hendak bangun namun tenaganya seakan habis. Mau bangun saja sempoyongan hendak jatuh melulu. Rebahan sembari duduk. Itu yang dia bisa. Tak ada keinginan lain. Selain itu kali ini banyak sekali musuh yang sudah mengepungnya. Makanya lebih baik diam dan kalau perlu nanti akan segera pergi ke ruangan lain yang tak ada pengganggu.

__ADS_1


“Ketahuan kan, lu mau pergi kan?“ ujar Kintoko mangkel sama Guntur. Dalam kodisi gawat begini masih sempat-sempatnya hendak kabur. Tentu ini menjadi barang bukti tak terbantahkan jika dia hendak menghindari dari masalah yang penuh masalah tersebut.


“Baik sekarang dengarkan,“ kata Jasmine.


“Tuh dengerin,“ ujar Kintoko sembari menyepak Guntur.


“Gue dengar.“ Guntur diam saja.

__ADS_1


“Sebenarnya, yang lain tidak suka minum-minum, namun sama si Doni di buat agar semuanya seolah tukang mabuk-mabukan supaya bisa dimanfaatkan oleh dia.“


“Kan apa gue bilang. Gue bukan pemabuk. Ik..” Tur berkilah. Merasa tidak minum-minum. Apalagi mabuk-mabukan. Jelas tidak.


__ADS_2