Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 92


__ADS_3

Perjalanan itu sangat sunyi. Keduanya hampir tak bicara apapun. Kintoko sendiri larut dalam pikirannya. Dia masih teringat kemarin. Saat mahluk bercahaya itu meluncur dan menghilang. Andai itu mahluk, mungkin tak akan ada pertanyaan apapun. Karena hubungan dengan mistis itu bisa saja terjadi dengan segala keunikan nya yang membuat dia muncul dimana saja dan kapan saja. Suatu hal yang justru menjadi misteri adalah kenapa ketika itu langsung hilang. Sehingga dalam pikiran, langsung terbersit, bahwa itu benar-benar mahluk. Walau kenyataan nya memang, jika benda langit itu kebanyakan justru memang tak pernah mencapai bumi. Karena akan langsung hangus terbakar jadi debu oleh panasnya atmosfer pelindung bumi. Dan yang berhasil lolos serta menghujam bumi hanya satu dua saja, itu karena benda pembentuk nya memang padat, atau karena besarnya bebatuan yang menghantam bumi tersebut. Makanya menjadi sangat seram ketika menumbuk permukaan bumi, dan membentuk suatu kawah besar yang mengerikan.


Mereka terus berjalan lewat kembali ke tempat semula, dimana perjalanan ke arah situ, mereka mampir di rumah makan biru itu.


“Yuk kita makan dulu,“ ajak Jasmine.

__ADS_1


“Huh...“


Si Kintoko hanya melengos kan muka. Dia masih ingat kelakuan perempuan itu yang seakan tak menganggap dirinya sebagai orang tua dan memperlakukan nya hanya sebagai saksi karena dianggap lugu dan tak tahu apa-apa. Sebel banget jadinya. Lain Kali tentu saja nggak bakalan mau. Apalagi berhadapan dengan para korban dengan bentuk muka yang sangat menyeramkan. Dan bisa saja dalam mimpi nanti datang untuk main cekik, atau hanya memperlihatkan mata melototnya. Kan akan jadi suatu hal yang mengerikan untuk langsung terjaga dengan keringat dingin juga tak akan bisa langsung lelap lagi.


Mereka turun untuk memakan apa yang ada. Tapi seakan hanya sekilas saja. Tak saling pandang dan terus melahap sampai habis. Dan kembali ke kendaraan.

__ADS_1


Sama pada suatu tempat di belakang stasiun. Di tempat luas. Yang banyak pedagang asongan nya itu. Dan beli ketoprak. Disini juga pada diam-diaman. Yang satu duduk di ujung meja sebelah sana, yang lain nya pada sisi lain dari meja, dengan arah hadap yang sama.


“Kita makan lagi.“


“Huh....“

__ADS_1


Ketoprak tersaji di muka mereka. Si penjual menyajikan dengan tersenyum, mencoba ramah. Tapi sedikit heran dengan kedua orang yang beli ini. Nampak seperti keluarga yang tengah retak, atau menjelang perceraian yang tinggal ketok palu. Karena suasananya Nampak asing sekali. Sehingga dia saja yang tak kenal sedemikian jauh rasanya. Padahal biasanya pembeli kana da yang ramah. Untuk saling mengobrol atau berbincang ceria. Ini enggak. Jadi setelah melemparkan piring di depan mereka dia juga langsung duduk di kursi dengan posisi agak jauh. Agar tak membuat si pembeli risih kala memakan jualan nya. Dan baru dating kembali ketika ada yang datang untuk memesan makanan yang nikmat dan penuh selera serta sangat murah itu. Langsung main santap. Kerupuk juga di makan dengan tergesa-gesa. Dan langsung minum air putih segelas penuh. Benar-benar makan cepat. Sudah itu langsung menuju ke kendaraan.


Seakan semua cuma kisah lalu saja. Sampai rumah langsung tidur. Mencoba membuat lalu semua kenangan.


__ADS_2