
Beberapa kali putaran terjadi. Sampai akhirnya terhenti dengan sendiri nya.
“Pintar matamu sobek. Pusing gua. Sama jatuhnya nggak mengenakkan. Meskipun di es. Haduh....“ ujar Kintoko mengeluh sembari mengelus-elus pantat akibat berbenturan dengan alas es yang sangat keras melebihi es batu yang di serut.
“Kirain...“ Santi hanya diam saja.
Mereka akhirnya sudah. Setelah ada tragedi tak mengenakkan itu.
__ADS_1
Mereka keluar dari situ. Kemudian jalan-jalan meneruskan langkah pada tiap lantai di perbelanjaan tersebut. Tentunya masih banyak sekali hiburan yang disajikan buat orang-orang kota. Terutama yang menghuni pemukiman tinggi di dekat toko tersebut. Karena selain sebagai langganan juga sudah pasti demi kebutuhan yang lumayan banyak akan menari di daerah terdekat. Dan disitu letaknya. Daripada kalau mesti ke lokasi lain yang membutuhkan waktu.
“Main lagi.“
“Main apa?“
“Itu juga anak-anak yang banyak. “ Karena memang arena itu di tujukan bagi mereka yang masih gemar bermain. Anak-anak yang memiliki sifat demikian. Maka tak heran akan di sesuaikan dengan keinginan pengunjung. Dan anak-anak tak perlu jauh-jauh main dari rumah. Karena yang terdekat juga ada. Meskipun akhirnya anak yang dari jauh yang juga main ke situ. Karena selain permainan nya canggih-canggih di dekat lokasi merek belum tentu ada. Itu yang kemudian membuat anak-anak jauh malah main ke tempat yang tidak dekat dengan rumah. Hanya buat anak-anak dekat situ yang berikutnya senang sekali ada di lokasi yang berdekatan.
__ADS_1
“Apa main basket saja tuh. Banyak-banyakan memasukkan bola ke jaring.“
“Ya ampun... itu mainan kuno,“ ujar Kintoko. Di dekat rumah juga banyak kalau game ini mah. Karena sudah menjamur. Bahkan hampir di tiap pusat perbelanjaan di kampung sudah ada mainan seperti itu. Walaupun kuno, tapi penggemarnya banyak. Makanya setiap ada tempat permainan anak di toko serba ada mainan, maka akan selalu memasang alat peraga itu. Selain anak-anak orang tua juga tak malu kalau ikutan yang seperti itu. Karena menganggap sebagai olahraga biasa. Bahkan terkadang di rumah juga di pasang jaring itu pada suatu taman yang tak membutuhkan banyak lahan. Kecuali kalau memang di butuhkan lapangan dengan ukuran yang sesungguhnya untuk lokasi permainan. Ini tidak. Serta kadang bisa dilakukan sendiri saja. Sebagai alternatif latihan yang sewaktu waktu bisa di fungsikan kalau ada turnamen sungguhan.
“Ya yang modern belum tentu bisa,“ ujar Santi yang tak yakin kalau game modern yang banyak di situ akan bisa di mainkan oleh orang yang baru melihat. Apalagi untuk mesin tertentu, yang tentunya butuh beberapa kali main agar bisa mengikuti aturan permainan supaya bisa mendapat tiket yang banyak nanti di akhir game yang tengah dimainkan itu. Semisal pertarungan dengan zombie yang mesti memakai alat semacam kaca mata yang di tempel di muka. Walau hanya dengan satu kaca saja serta senjata mainan yang demikian canggih di tangan. Tentu akan sulit kalau tidak sering menggunakan nya. Paling yang hampir sama dengan di kampung hanya game dance yang suaranya nyaman dengan berbagai variasi yang beragam namun membutuhkan ketelitian melangkah sembari mesti berpakaian modis agar jika lagi main, para orang lewat juga senang melihat selain permainan nya juga pakaian nya yang demikian menyita perhatian orang-orang kecil.
Lalu keluar.
__ADS_1