Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 41


__ADS_3

Setelah pertunjukan film habis. Mereka jalan-jalan agi memutari tiap lantai nya supaya semua bisa di lihat tanpa ada yang terlewat. Tentu saja Cuma tempat parkir yang ogah. Panas.


“Eh kita main es.“


“Dingin dong.“


“Supaya, nanti kalau kita pergi ke luar negeri yang banyak salju jadi tak kebingungan, karena pernah merasakan yang seperti ini.“ Di sana kan sangat banyak salju demikian.


“Mana pernah ke luar negeri. Mahal tahu.“


“Siapa tahu kan?“


Kalau di kampung. Demikian banyak es, biasanya di buat es serut atau es campur. Ini malah dihamparkan begitu saja. Benar-benar kaya toko ini.


“Tuh menyewa pakaian.“

__ADS_1


“Mana ada penyewaan.“


“Sekaligus sepatunya dong.“


“Boleh di bawa tidak?“


“Ya enggak.“


Mereka menuju ke penyewaan. Lalu mengenakan pakaian khusus tersebut. Supaya tak kedinginan, dan bila jatuh tidak sakit. Paling hanya malu. Namun di situ karena jatuh sudah biasa, maka tak akan malu. Jangankan jatuh di tempat begituan, jatuh ketiban tangga juga biasa.


“Nggak papa, tuh banyak yang belum bisa dan pada jatuh.“


“Iya, mereka anak-anak.“ Memang sangat ramai. Begitu laris. Maklum hiburan yang jarang ada. Di sini tak perduli mahal. Yang penting terhibur saja. Serta sebagian untuk mengenang di negeri mereka yang terkadang sangat jauh. Sehingga suasana dingin nya masih terasa dan akan sulit di dapatkan di negeri tropis begini, dengan cuaca kota yang sangat menyengat pada tengah hari nya.


“Jadi teringat di kampung. Pada pusat perbelanjaan yang luas itu, pernah ada yang main beginian. Namun bukan nya es yang memenuhi ruang, hanya tempat pada suatu ruangan yang di buat licin, supaya bisa meluncur bebas dengan naik es skating yang mantap serta begitu lancar.“ Cuma pakai lokasi saja yang bawah nya licin. Tak ada salju, apalagi sangat banyak, sebab mesti mengatur ruangan agar tetap stabil. Dan bisa mendinginkan ruang, serta mendinginkan hati. Sehingga air es itu tak mencair.

__ADS_1


“Mana ada, dimana itu? “


“Ya ada lah,“ ujar Kintoko yang terus mencoba berdiri di atas sepatu yang menghebohkan itu. Sangat sulit. Apalagi kalau di jalanan berbatu atau tepi trotoar. Pasti sangat menyiksa hanya memakai begitu saja. Serta jika jalan di tanah lembek, bakalan lebih berat dari mengangkat beban se karung. Itu gambaran betapa beratnya kehidupan ini yang kaki nya mesti di beri beban supaya Nampak berat kala menghadapi kehidupan di dunia yang penuh cobaan dan tantangan. Yang tak hanya mengeluh karena kendaraan yang rusak oleh orang-orang di ladang parkir. Namun mesti paham juga, bahwa tiap langkah kehidupan juga penuh bahaya dan tantangan.


“Sudah, meluncur saja.“ Santi menyuruh supaya Kintoko jangan hanya berusaha berdiri saja, lalu diam dan tak melakukan apapun. Namun bergerak, agar ada kegiatan yang tak terlampau kedinginan nantinya. Kalau bergerak kan tubuh jadi panas dengan sendiri nya.


“Eh eh… pegangin dong.“


“Malas amat sih lo. Gini saja pakai pegangan.“ Kan belum lancar. Nanti kalau sudah bisa, bakalan di tinggalin loh. Nanti akan main sendiri ke tempat beginian.


Di lepaskan Kintoko. Yang ternyata bisa meluncur cepat. Lalu berputar-putar di atas sepatu alas runcing nya.


Melihat hal itu semua pada kagum.


“Wah, pandai kali. Bisa muter…”

__ADS_1


__ADS_2