
Perjalanan di lanjut.
Belum lama sudah berhenti.
Perasaan.
Soalnya karena kekenyangan membuat Kintoko setengah tertidur.
__ADS_1
Jadi melewati beberapa kota serta daerah ramai, seakan tak merasakan nya. Tahu-tahu sudah berhenti saja.
“Sini. Kita mampir lagi.“ Kendaraan menepi pada sebuah tanah lapang di depan areal sebuah rumah makan sederhana yang lumayan besar. Kesitu keduanya melangkah dan menghampiri penjual.
“Boleh.“
“Makanan lah.“ Walau sudah tak terlampau mengejutkan, karena memang butuh itu. Bahkan sehari bisa tiga kali. Belum diantara sela itu. Mesti ada cemilan supaya perut giling terus. Dan ada tambahan di kala menjelang istirahat malam sebagai pengisi supaya nyaman kala istirahat panjang. Sebab kalau tidak, yang ada pada pikiran hanya menanti pergantian hari supaya bisa mengisi nya lagi. Karena kondisi alat pencernaan tiap orang juga berbeda. Ada yang mudah lapar, ada yang sangat kuat sampai badan kering kerontang juga tak merasakan hal itu. Tentunya di sebagian orang. Bahkan lebih dari satu. Namun kebanyakan semua akan mengikuti siklus waktu yang mesti di lakoni. Akibat nya demikian diperlukan untuk masalah ringan itu. Dan menjadi berat karena kebutuhan yang sudah pasti tersebut bakalan menjadi suatu keharusan dengan berbagai persyaratan yang mesti terpenuhi. Karena jika tidak akan ada sesuatu yang kurang. Tentunya beda dengan jaman dahulu. Karena masa tersebut keberadaan bahan juga mesti diusahakan oleh segelintir orang. Maka penikmat nya juga tak harus membiarkan untuk tidak ikut mengeluarkan tenaga. Disitulah terkadang ada istilah tak kerja maka tak makan. Beda waktu pula. Karena sekarang walau tak kerja namun bisa menghasilkan, maka dia bisa makan sejauh mempunyai dana untuk mengadakan nya itu. Tentunya dalam pengertian kerja yang mesti mengeluarkan tenaga dan keringat. Karena walau tak berkeringat nyatanya banyak yang sudah punya dana. Dan bisa makan tentu nya.
__ADS_1
“Tahu yang besar.“ Walau sebenarnya banyak yang lain juga jenis makanan di kota itu. Karena sekarang untuk makanan banyak yang serupa. Tapi tak sama tentunya. Karena yang membuat akan meramu sedemikian rupa, sehingga rasa masakan nya juga sesuai dengan lidah para pembuat nya. Sehingga kalau banyak yang cocok dianggap sebagai suatu yang khas bagi mereka. Serta laku tidak nya itu yang kemudian membuat kepopuleran nya juga semakin nyata. Hanya untuk beberapa lokasi memang akan di buat suatu jenis masakan tertentu yang memang hanya orang situ yang paham. Karena akan di sesuaikan selera. Sehingga menjadi suatu yang kemudian populer andai banyak yang menyukainya untuk kemudian di adakan di lokasi lain. Kalau sesuatu itu juga di sukai orang lain, maka menjadi menyebar, untuk kemudian hilang dari mana lokasi tepat makanan itu berasal. Karena semua akhirnya ikut merasakan serta ikut membuat serta menjualnya. Jadi untuk kemudian menjadi milik bersama juga.
“Asli sini kah.“
“Ya. Barangkali. Karena memang disini banyak lokasi untuk menghasilkan yang kita idamkan itu.“ pada suatu rumah besar dengan logo berwarna biru dan di bagian depan nya banyak sekali penjual makanan. Salah satunya yang mereka inginkan itu juga yang membuat mereka berhenti untuk kembali memakan makanan yang dibutuhkan tubuh itu. Selain itu, bisa sebagai bekal untuk kemudian nanti yang lumayan panjang akan mereka tempuh di lokasi tujuan.
“Ya sudah, ayo mampir.“
__ADS_1
Mereka makan sembari memakan makanan khas di situ.