Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 50


__ADS_3

“Kita ke kawah dulu.“


“Ngapain?“


“Wisata sambil melihat-lihat suasana indah,“ ujar Jasmine yang langsung mengarahkan kendaraan nya ke arah tempat wisata alam yang begitu digandrungi orang. Sehingga lumayan banyak yang datang pada setiap harinya. Bahkan sampai malam terkadang masih saja ada yang berkunjung. Seakan tak takut kalau tiba-tiba bagian pusat kawah itu membengkak lalu meletus. Karena sudah beberapa kali terjadi hal seperti itu. Dimana lokasi sekitar menjadi teramat mengerikan. Dengan dampak yang di timbulkan juga menyeramkan. Langit seakan mendung, sepanjang hari. Gelap pekat serta kemudian timbul hujan abu yang sangat aneh. Lain dari yang lain. Dan nyata nya itu akibat dari bagian dalam dari kawah yang materialnya terangkat ke atas untuk memburai setelah mengalami beberapa perubahan suhu. Sehingga menjadi butiran-butiran halus sebuah abu yang di mata tidak lembut. Namun sangat menyakitkan pandangan kalau sampai tertembus. Bahkan bisa merusak paru-aru juga jika tanpa tersaring langsung terhisap dan masuk ke dalam alat vital itu.

__ADS_1


“Jauh tapi.“


“Memang. Tapi sekarang tak ada kata jauh. Soalnya ada alat transportasi buat ke sana,“ jelas Jasmine. Yang dulu memang boleh di kata demikian, sekarang hanya sekejap mata. Yang dahulu bahkan di tempuh sampai empat puluh tahunan, kali ini paling Cuma dalam hitungan jam sudah sampai. Itu berkat canggihnya teknologi. Jadi kalau tak bisa lewat darat, maka ada alat yang melalui jalan udara. Dan itu seakan menebus ruang dan waktu. Walau kenyataannya semua bisa di jelaskan secara ilmiah. Itu kalau jarak antar negara. Apalagi ini yang Cuma terpisah oleh pegunungan dan lembah, seakan jarak yang Cuma ratusan kilo hanya bisa di lewati beberapa jam saja. Jalanan benar-benar lebar dan halus. Serta mudah mengebut secara stabil.


“Terserah kamu saja. Kamu kan yang punya setir.“

__ADS_1


“Memang mau kemana kita?“


“Ke daerah.“


“Bh.. Aku itu orang kampung. Ke kota mau mencari kerja. Malah kau bawa ke kampung pula,“ ujar Kintoko yang merasa orang kampung tapi sejauh ini ingin sekali berpetualang di kota yang ramai. Tentu saja yang berbeda dengan suasana sunyi perkampungan. Karena hal itu sangat terbiasa. Beda dengan orang kota ini, pastinya sedikit keheranan dengan suasana asing dalam lokasi sunyi. Dan itu membuat seakan ada rasa rindu untuk kembali ke lokasi sunyi yang sejuk dengan alam yang segar serta pemandangan yang demikian memanjakan mata. Atau kalau perlu ke hutan sekalian supaya bisa beradaptasi dengan alam yang sudah punah kalau kembali ke kota yang sudah menggantikan rimba menjadi bangunan bangunan megah dan modern. Dengan tumbuhan yang sama sekali hampir tak ada, tentu nya jika di banding desa yang memang masih memungkinkan untuk menanam berbagai pohon besar sebagai salah satu penghasil oksigen yang mampu mencuci bumi dari polusi, walau mungkin tak sebanyak yang dihasilkan lautan, setidaknya itu yang bisa di harap dari pemandangan yang hijau serta apa yang bisa ditangkap langsung oleh nafas manusia.

__ADS_1


“Yo ndak papa to. Orang nemenin aku yang nggak pernah ke kampung. Entar lu yang kasih tahu. Aku kan tak paham,“ kata Jasmine sedikit memaksa supaya dia juga mendapat pengalaman serta berada di lokasi asing itu ada yang mengarahkan, jadi tak terlampau canggung nanti nya.


“Oke. “


__ADS_2