Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 23


__ADS_3

Setelah turun dari tuyul langsung jalan-jalan.


Melihat suasana kota. Gedungnya tinggi-tinggi pencakar langit. Beberapa lantai menjulang. Katanya karena lahan tak ada maka pembangunan ke atas. Membuat tanah di lantainya dipadatkan, sehingga tak mampu menyerap air.


Toko-toko yang ramai. Ada penjual batik, juga ada yang jualan kaset.


Musik-musik nyaring terdengar. Beradu diantara para penjual yang satu dengan yang lain. Hingar bingar. Tak perduli dengan para pelewat. Sehingga jika jalan di satu tempat ke tempat lain, berbeda toko, sudah beda nuansanya. Karena ada yang suka mellow juga ada yang demen cadas. Jadi telinga seakan dimanja untuk berbagai kebutuhan. Sudah itu rasanya bising kalau tak suka.

__ADS_1


Sudah banyak pembeli. Pada lalu lalang. Ada yang main tawar, ada yang langsung pergi. Karena tak seperti di toko besar yang sesuai bandrol. Jika diskon maka akan ditulis itu. Disini masih bisa main tawar. Makanya tak jarang harga jual awal bakalan tinggi sekali, karena sudah kebiasaan bakalan di tawar oleh para pembeli yang menginginkan harga murah. Kalau pandai dan kebetulan, maka akan dapat barang murah dengan kualitas bagus. Tapi jika tak baik, maka hanya akan mendapat barang sesuai nilainya walau katanya sudah diskon sampai separuhnya. Padahal harganya memang segitu. Disini penjual juga sudah berpengalaman untuk bisa mendapat untuk semaksimal mungkin. Misalkan sepatu bekas yang sudah di potong atasnya namu di bersihkan, di jahit kembali dan disemir mengkilap, bakalan terlihat indah saat berada di etalase pemajangan barang bekas. Disitu penjual bakalan main harga. Dan pembeli berhak memilih serta menawar sesuai kualitas barang buangan tersebut.


Juga banyak yang tidak beli. Hanya jalan-jalan saja. Maklum lagi banyak duit. Yang dibutuhkan untuk kepentingan lain. Kalau tak punya duit biasanya mending di rumah. Ada duit makanya jalan-jalan. Buat bayar taksi yang membanggakan, atau Cuma bayar ongkos ojek. Karena jika jalan terus tentunya capek. Kecuali di lokasi. Karena pada lokasi jika hanya naik kendaraan kurang puas. Masih banyak yang mesti di perhatikan. Siapa tahu ada kebutuhan mendesak yang kebetulan ada serta harganya lebih miring dari biasanya, maka bakalan langsung membeli.


Ada yang jual obat juga. Obat itu hanya seperti jamur. Yang ditaruh pada toples. Lalu dibiarkan hidup. Beberapa hari kemudian akan berkembang biak. Lama-lama jadi banyak. Dan airnya menggunakan the tawar. Maka akan menjadi asam rasanya. Itu katanya bisa menyembuhkan banyak penyakit. Dan jika sudah beberapa hari akan diambil beberapa diantaranya, untuk di kembangkan di lain tempat. Sebab kalau hanya pada satu titik saja sudah itu bakalan kacau di pembiakannya. Makanya di posisi lain, maka akan jadi banyak serta menyehatkan.


Terus ada yang jualan koin kuno. Kalau beli hanya senilai harga pada koin tersebut, tapi jika di jual bisa berlipat ganda harganya. Tergantung bagaimana menawar.

__ADS_1


Haus juga rasanya. Walau cuma jalan, namun mengeluarkan banyak keringat. Dan tenaga yang terkuras. Mata yang lelah sedikit cuci mata.


“Air es.”


Pada tepi jalan ada penjual air. Dalam kotak kaca transparan. Jadi warna air terlihat nyata. Membuat orang langsung tergiur untuk mengisi tenggorokannya serta menyiram nya agar dingin.


Di situ Kintoko beli.

__ADS_1


Murah tiga ribu doang. Dibungkus plastik. Sama sedotan warna merah.


Dibawanya ke tepi jalan. Duduk di trotoar.


__ADS_2