
“Jangan-Jangan orang yang di luaran itu yang melakukan pembunuhan,“ ujar Kintoko sembari mencari tempat yang bagus untuk melempar umpan. Selain tempat, biasanya kalau ingin mendapat ikan mesti mendapat waktu yang indah. Karena waktu yang sedikit itu dimana para ikan memerlukan sesuatu untuk mengisi perut nya. Itulah masa yang bagus untuk mendapat banyak hasil. Bagaimanapun sebagai binatang yang masih memerlukan naluri alami, menyeret mereka untuk mengisi perut sesuai dengan daur hidupnya yang mengisi di saat itu. Meskipun kenyataan nya makan di setiap waktu juga tak ada salahnya. Namun kalau alami mereka yang berjalan maka di saat tertentu itulah rasa menjadi bagian dari kondisi terbaik nya.
Di sungai itu ada sebuah genangan air yang terletak diantara bebatuan sungai yang besar. Pada bagian atasnya seakan tersekat oleh jajaran bebatuan, dan di bawah seakan mengalir pada celahnya suatu aliran yang berasal dari genangan air tersebut. Tidak dalam nampaknya, namun bagian dasarnya tak nampak. Bisa jadi karena aliran itu yang terus menerus berjalan, sehingga riaknya seakan menutupi apa yang ada di dalamnya. Memang seakan menjadi sebuah misteri, yang akan selalu tertutup oleh sesuatu yang menimpa di atas peristiwa yang tengah terjadi. Sehingga satu kisah belum usai sudah harus ada banyak cerita lain yang terus mengalir. Itu yang membuat akhir dari misteri seakan mengambang.
“Bisa iya, bisa tidak. “
“Lo.“
__ADS_1
“Karena, kita juga tak paham, apa dan bagaimana semua itu bisa terjadi.“
“Iya.“
“Yang kita lihat kini, hanya ada yang tergantung demikian.“
“Itulah masalahnya. Kenapa semua mesti tergantung.“
__ADS_1
“Kasus juga banyak yang menggantung. Nggak jelas.“
Keduanya hanya diam. Memikirkan hal yang aneh.
Sehingga apa-apa seakan tertutup.
Kintoko terus asik menatap ujung kail nya.
__ADS_1
Yang gelisah tentu saja yang menemani. Main pancing sebenarnya tak suka. Tapi harus tetap di suatu menunggu kalau hanya menunggu pasti bakalan merasa jenuh. Tak apa-apa hanya berteman dengan gigitan serangga ganas. Dan juga hawa yang terkadang sedikit beda dengan apa yang ada di sekitar rumah nya. Itulah yang membuat dia gelisah, sesekali pergi lalu ke situ lagi. Termenung seraya menatap kail. Dan pergi lagi, sampai tak merasa jika umpan sudah lenyap. Tanpa hasil.