
“Turun sini,“ ujar Santi sama si abang nya. Sekian jauh angkot itu melaju dari mereka naik setelah keluar tadi. Tentunya seperti biasa. Selain taksi, mungkin busway dalam kota bisa di naik i, namun tetap akan turun agak jauh dari halte nya. Serta mesti naik angkot lagi yang membutuhkan dana ulang. Makanya mending naik itu, meskipun lama menunggu datang nya terutama jalur yang melintas di rumah nya. Karena rumah nya sedikit masuk. Itu mendingan jika cuaca terang. Kalau hujan, maka depan rumah di jalanan itu bisa banjir. Sebab aliran air terhambat serta sedikit berada di daerah rendah. Maka air bakalan menggenang untuk butuh waktu agak panjang guna menembus got di tepi jalan yang terkadang sudah di penuhi sampah membuat laju air semakin tersendat. Itulah makanya, air akan menyibak kala ada 2 angkot lewat, serta masuk ke pekarangan orang. Bahkan sampai depan pintu.
“Wah, masih jauh ini,“ kata Kintoko. Dia sudah mulai hafal dengan lokasi-lokasi di seputar kontrakan nya. Ini terasa masih jauh dari rumah Santi. Bagaimana nanti kalau dia mesti panggul lagi karung itu. Bakalan repot dia. Mana tenaga sudah terkuras habis. Tentu tak bakalan sampai. Sampai juga sangat lelah. Belum tentu juga langsung ada kopi. Kan gawat nanti nya. Demikian jauh tentu akan butuh tenaga tambahan yang di dapat dari makanan yang belum tentu akan di belikan lagi sama si pemilik barang. Angkot saja sudah di perhitungkan. Mana ada dana nanti untuk kebutuhan tambahkan yang mesti di kenakan ulang. Walau ini sangat perlu untuk mengganti demikian saja yang sirna. Tapi entar kalau sudah sampai baru akan ada asupan tambahan dengan makanan yang masih tersisa dari memasak pagi tadi tentu nya.
__ADS_1
“Aku ada keperluan lain.“ Santi tetap hendak turun. Apalagi mobil juga telah berhenti. Penumpang lain diam saja. Mungkin sudah biasa. Kalau ada yang sedikit keperluan begitu, mereka sedikit mengalah dengan tak terlampau banyak komentar serta mengeluh dengan apa yang terjadi dalam angkot panas tanpa ada alat pendingin begitu. Pendingin nya biasanya Cuma dari kaca jendela terbuka yang memang sulit di tutup itu, dengan angin yang terus meniup kala kendaraan melaju. Makanya tak jarang jika kendaraan berhenti langsung terasa panas nya suasana. Dan semakin mengeluh saja kalau berhenti menunggu penumpang dalam waktu yang sangat lama. “Beli lagi.“
“Berat lo ini.“
__ADS_1
“Ya namanya berat,“ ujar Kintoko yang tak mau terlampau di salahkan. Nanti juga bakalan mengangkat lagi setelah sampai di depan rumah. Namun kali ini dia sedikit keliru, karena hanya sebentar dia berhenti. Jadi tak perlu menggotong gotong barang yang sangat berat begitu.
Hanya sebentar. Setelah membeli sesuatu, Santi langsung kembali.
__ADS_1
Mobil pun jalan. Kembali.