Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 61


__ADS_3

“Dingin?“ tanya Jasmine saat mereka telah usai mandi di sungai yang demikian bersih serta menyegarkan kala tengah capek melakukan perjalanan jauh kemudian tersentuh dengan air gunung yang begitu dingin.


“Enggak.“


“Mana dingin. Orang cuma pakai gayung doang, tidak berenang, kalau berenang barangkali bisa menggigil tuh, namanya di pegunungan,“ ujar Kintoko sembari membawa handuk dan perlengkapan mandi lain dalam gayung yang di tenteng itu. Dengan demikian tak banyak yang memperhatikan. Nanti setelahnya akan diteruskan rekan-rekan serta yang belum mandi. Kalau sudah dan enggan juga tak masalah. Karena mereka disitu cuma sementara. Selagi sewa rumah usai, serta mesti melakukan tugas sesuai keseharian mereka. Ada yang sudah bekerja, ada yang melanjutkan kuliah serta ikut beasiswa dari sebuah yayasan terkenal yang bersedia membiayai mereka karena kepandaian yang di miliki untuk melanjutkan ke universitas terkenal baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun kali ini yang ada masih di dalam saja. Makanya mereka bisa kumpul. Kalau terlampau jauh kebanyakan punya berbagai alasan untuk tak bersedia datang. Baik alasan betul maupun uma sekedar alasan akibat berbagai kesibukan yang jika di tinggal akan menumpuk atau bahkan akan terlewat yang berakibat buruk pada hasil studi nanti yang mesti mengulang untuk waktu yang tak jelas. Bahkan bisa saja tak lulus-lulus sampai batas waktu maksimum sebelum di haruskan pindah ke tempat lain untuk menyelesaikan nya akibat tak mampu memenuhi kriteria ketuntasan minimum yang sudah di atur pada awal pembelajaran itu. Ini tentunya akan menjadi masa-masa sulit yang demikian memusingkan buat mereka yang kelewatan itu.


“Ayo, ayo, di habiskan.“


“Iya, esok belum tentu ada.“ Dela mengambil ikan bakar madu yang begitu istimewa. Maklum jarang makan demikian. Ini makanan dari luar. Yang tak selamanya bisa di temukan di rumah nya. Juga ikan bakar dengan tiga sambal berbeda yang di kemas dalam bungkus indah namun sangat mudah dibuka serta di pegang sebagai pegangan kala menyantapnya yang tak harus di meja sesuai lokasi dimana dia membeli kala itu. Jadi tak terlampau repot kala menyantapnya. Memang sangat nikmat makan di lokasi yang bagus. Hanya tak selamanya orang berada di situ. Makanya yang praktis sangat di butuhkan. “Jangan-jangan kita harus berburu makan nanti.“

__ADS_1


“Mana ada hewan buruan di sini.“


“Itulah sulitnya.“


Setelah selesai dan ganti pakaian mereka duduk bersama dalam ruang makan


“Ayo makan.“


“Ih, kok kotor sendok nya.“

__ADS_1


“Oke aku ganti“ kata Ringgo.


“Nah begitu dong jadi yang melihat juga tak jijik.“


“Ya.“


Mereka mengambil makanan yang ada.


Sebagian sudah ada, sebagian lain akibat bawaan dari mereka. Semacam ayam panggang dan bebek goreng sudah ada. Sedangkan lauk yang seperti ikan bakar madu, dan sate belut akibat di bawa dari rumah masing-masing. Jadi di situ tinggal makan atau cukup memanaskan saja.

__ADS_1


Untuk kemudian duduk duduk di ruang tengah. Sembari makan buah-buahan yang sangat banyak. Ada yang memang asli daerah situ, seperti pisang dan papaya. Namun ada juga buah mewah yang di bawa dari luar tempat tersebut karena memang mobil mereka kuat untuk di bawa di dalam nya kalau hanya sekedar oleh-oleh.


Selain buah mereka membawa juga kue-kue dan roti mahal yang banyak terdapat di kota. Namun pada tak suka memakan nya. Barangkali karena sudah sering akibat banyak dan menjamurnya pedagang demikian kalau di perkotaan.


__ADS_2