
Satu mobil mendekat
“Hei.“
“Ih, kau sudah sembuh?“
“Mendingan. Mau kemana kau?“
“Biasa menunggu nyonya Santuy yang hendak kerja,“ jelas Kintoko. Dia sudah nampak rapi. Penuh semangat dia dalam menghadapi hidup serta akan selalu menghadapi kesehariannya dengan penuh senyuman yang menantang tersebut. Yang jelas dia sangat senang bisa melakukan hal terbaik di kehidupannya yang tak seberapa panjang itu. Ibarat kata hidup sekedar menumpang minum. Maka di lakukan sebaik mungkin supaya yang sebentar itu bisa bermanfaat bagi diri, lingkungan serta segalanya. Namun yang jelas dia juga bisa memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus menjadi benalu buat sesamanya. Serta akan selalu merasa bangga bahwa dia bisa melakukan semuanya dengan tangan sendiri dan kemampuan yang dimilikinya dengan penuh rasa bangga tadi, juga sebagai bagian dari sebuah tujuan yang sudah ada semenjak awal sebagai kewajiban dari seorang lelaki yang mesti menari nafkah. Seberapapun yang di dapat, baik besar maupun kecil, dia sudah menunaikan kewajiban dasar nya.
__ADS_1
“Jualan buah lagi?“
“Tak. Kali ini kita mau kerja serabutan“
“Lo sudah ganti“
“Wah ganti gitu?“ ujar Jasmine. Tak mengira demikian cepat berganti pekerjaan. Padahal belum lama. Sudah memutar haluan. Tapi ya seperti itu kalau bukan suatu hal yang di tekuni semenjak awal. Misalkan punya ijazah yang sesuai dengan minat nya sehingga seberapapun lama dalam menempuh bakalan di lalui, serta akan terus menekuni kerja yang sama tersebut walau belum tentu akan mendapat keuntungan yang besar. Tetapi semua sudah jadi pilihannya. Karena kalau tidak di situ mana akan di mana lagi. Itulah yang selalu di pikirkan untuk terus bisa melanjutkan usaha yang sudah jelas-jelas dia tekuni serta mampu sesuai dengan kemampuan yang memang telah terbukti. Daripada berganti-ganti yang tidak jelas serta belum tentu akan jadi hal yang baik bagi kehidupannya. Tetapi kalau memang belum maan serta asal dapat, bisa juga mencoba cara lain agar banyak pengalaman serta memilih mana yang terbaik guna memperoleh apa yang benar-benar tepat bagi perjalanan hidupnya. Sebab pekerjaan juga merupakan suatu kebutuhan. Dimana kalau tak menyukai, maka akan menjadi beban tersendiri. Dan jika itu selalu di paksakan, bisa saja akan jadi penyakit yang sulit di obati.
“Iyalah biar banyak pengalaman.“
__ADS_1
“Oke. Aku pergi dulu.“ Jasmine pamit.
“Ya...“
Mobil itupun bergerak menjauh.
“Ngapain dia? Mengajak pergi lagi?“ ujar Santi curiga dengan perempuan tersebut.
“Enggak, dia belum sembuh. Namun sudah bisa nyetir,“ jelas Kintoko. Memang sudah resiko untuk satu pekerjaan demikian. Terkadang hanya menyukai saja. Dan merasa bangga kalau sudah berhasil menguak suatu kasus. Apalagi jika misterinya demikian berat. Maka semangatnya akan semakin besar. Walau itu suatu nyawa taruhannya. Serta menjadi berbahaya buat dirinya maupun buat orang di sekitarnya yang sangat dia sayangi. Tapi sekali lagi, itu sudah menjadi pilihannya. Yang akan sulit dia tolak jika suatu waktu menemukan hal serupa. Tentunya akan dengan sukarela membantu dengan segala resiko yang sudah dia pahami semenjak awal. Dan merasa bangga untuk bisa membantu. Serta merasa puas yang didapat dibanding mendapatkan hal lain yang bukan menjadi apa yang di punyai serta mampu dilakukannya.
__ADS_1