Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 73


__ADS_3

“Lama nih,“ ujar Jasmine.


“Ya lama lah, namanya begitu,“ kata Kintoko. “Lalu bagaimana lagi?“


“Aku jenuh. Ingin masuk dulu,“ ujar Jasmine terus saja mengeluh. Dia tak nyaman berada di tempat terbuka begitu. Meskipun cuaca memang masih terasa bersahabat. Dan langit begitu cerah, tapi sekeliling juga menjadi penghalang. Bagaimana serangga malam ikut mengganggu. Nyamuk, lalat, semua seakan tak terhalang untuk menyentuh tubuh mereka. Apalagi nyamuk-nyamuk nakal, seakan tak terusik oleh kegundahan hati mereka yang tengah bimbang untuk mencari kebenaran akan nasib rekan-rekan mereka yang kini sudah banyak yang tak bernyawa. Tergantung dalam kesuraman.

__ADS_1


“Payah lu.“


Jasmine masuk ke rumah. Tetap. Dia sudah tak tahan. Mesti sejenak bergerak, agar tak selalu merasa jenuh berada di luar yang tak terhalang serta terlindungi apapun. Biasanya menggunakan obat oleh akan bisa mengurangi datangnya serangga. Misalnya anti nyamuk oles, atau justru obat alami yang biasa di pakai oleh orang-orang pedalaman yang cenderung primitif, dengan memborehkan tumbuhan tertentu supaya nyamuk tak suka menempel di tubuh, dengan di barengi tak mandi seharian. Karena kalau sudah di bersihkan oleh air penyegar, maka bakalan hilang obat yang di borehkan itu, dan nyamuk langsung akan datang mendekat dengan suka hati.


Kintoko sendirian, terus memperhatikan langit. Rasanya tak enak. Sendirian begitu. Tanpa ada yang menemani. Tapi bagaimana lagi. Toh segalanya sudah terbiasa. Dia di rumah sendiri, di sini juga sendiri. Mestinya tak perlu di persoalkan. Namun buat kali ini yang mana banyak tragedi yang tengah menyelubungi sekitar mereka, sesuatu yang biasa itu jadi suatu permasalahan. Dimana mesti perlu berbagai ara, agar menghilangkan kejenuhan. Mesti ada teman. Agar bisa saling berbagi. Tapi kali ini seakan tak mungkin. Akan kesulitan. Belum tentu mereka di sana memahami apa yang tengah dia pikirkan. Bakalan jadi sesuatu yang parah kalau memaksa. Dimana pikiran dan rasa mereka juga beraneka rupa. Sejumlah jiwa mereka yang kini masih ada.

__ADS_1


Nampak si Bela datang mendekat. Awalnya tentu saja dia heran. Mengapa ada orang tua begitu rela menanti dalam alam terbuka. Mestinya terkumpul di dalam sini untuk saling merenung. Kira-kira ada apa dan bagaimana sehingga banyak tragedi yang terus menghantui. Barangkali aja ada pemikiran yang sama dari antara banyak orang di situ yang benar-benar merujuk ke peristiwa sebenarnya yang tengah terjadi. Sehingga apa dan mengapa misteri itu terjadi bisa langsung di pahami serta di cari solusi penyelesaian, setidaknya untuk mereka yang kini masih ada. Dan dicari pencegahan agar korban tak berlanjut. Atau mungkin pergi dari situ adalah jalan paling baik. Membiarkan apapun yang bergulir di dekat mereka.. termasuk tuduhan yang barangkali ada hanya karena meninggalkan suatu persoalan tanpa kejelasan. Namun akan ngeri juga jika di pikirkan. Apalagi kalau bukan yang berbuat, tapi langsung kena tuduhan dan membiarkan kekeliruan menyertai nya. Ini yang akhirnya menjadi tak baik sementara si jahat akan terus berkeliaran dengan leluasa. Dan yang kena getahnya justru yang tak tahu apa-apa. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Siapa yang menabur gas akan merasakan bau. Barangkali itu yang bakalan terjadi jika kasus ini tak di selesaikan dengan tuntas.


“Nyari pulung gantung,“ jawab Kintoko. “Tapi lama.“


“Ya sudah, ku temenin.“

__ADS_1


Bela duduk di dekat Kintoko.


Berdua menatap ke angkasa. Tak hanya satu titik. Sejauh mata mereka bisa menatap angkasa, itu yang selalu mereka tatap.


__ADS_2