
Kemudian mereka makan buah yang di kupas oleh Kintoko yang sangat canggih mengupas buah dan membentuknya dalam suatu bentukan indah dengan mengatur dengan pisau yang sangat tajam.
“Wah enak nih.“ Sembari mengambil buah merah dengan kulit hijau yang sudah di kupas dan di potong kecil-kecil. Kemudian mengambilnya dalam suatu lepek kecil yang dipenuhi potongan buah merah itu. “Semongko.“
“Indah kan kupasan nya,“ kata Kintoko yang terus saja memegang pisau sembari memotong-motong buah besar menjadi kecil-kecil dan mudah menelan nya nanti. Dia sendiri memenuhi mulutnya dengan buah-buah yang ada setelah tadi makan malam sehabis mandi sore yang penuh kesegaran itu.
“Iya, calon penjual,“ kata Jasmine menerangkan. Siapa tahu esok lusa ada yang bakalan membutuhkan nya untuk membutuhkan buah yang tengah di jual. Baik di tempat maupun kala tengah melakukan suatu resepsi kan bisa mengundang nya.
“Jangan cerita di sini dong,“ ujar Kintoko.
“Ini masih, buah pir nya.“
__ADS_1
“Aku yang bawa itu,“ ujar Dela, sangat senang jika buah yang tadi di beli di pinggir jalan karena para petani sekitar lagi panen dan biasa di jajakan demikian saja pada tepian jalan dalam suatu kios sederhana yang menyediakan berbagai buah. Walau itu bukan asli situ, namun sudah banyak yang menjajakan nya pada sebuah kios buah. Entah menanamnya dimana. Tak jarang para petani memang sanggup mem-budi dayakan nya walau bukan tempat asli namun dengan suhu dan ketinggian lokasi untuk tumbuh pohon nya membuat dia bisa tumbuh dan kali ini bisa dinikmati bersama itu.
“Ya lah.“
“Jeruk tak di kupas sekalian?“ ujar Dodo Nono. Kayaknya enak kalau langsung makan yang sudah siap telan.
“Itu sih tinggal sendiri yang mengupas. Nanti kalau kelupaan aku makan sendiri kan repot,“ jelas Kintoko yang enggan juga untuk mengupas buah yang jelas-jelas sangat mudah kalau mau. Serta bisa langsung telan jika sudah di dapat.
Mereka terus bercakap sembari memakan apa yang ada. Baik makan senja sama bakar-bakaran apa yang ada. Baik itu sate kelinci, maupun landak. Enak rasanya.
“Dah tidur.“ Meskipun masih sore, namun di situ sudah terasa sepi. Kalau siang kebanyakan warganya pada bekerja. Jadi langsung sepi di kala jam masih sore begini.
__ADS_1
“Bareng?“
“Enak aja. Seneng dong,“ ujar Jasmine.
“Hehe,“ Si Dodo Nono hanya mengekeh.
Dia nampak senang dengan pertemuan kali ini dimana teman - teman kecil nya sudah saling kumpul. Kalau tidak begini bagaimana akan bisa melakukan pertemuan sementara semua sudah sibuk-sibuk dengan urusan nya sendiri sendiri. Itu yang membuat mereka sangat sulit untuk bisa pertemuan lagi. Kalau telah pisah entah kapan bisa melakukan nya lagi. Sedangkan kebutuhan terus menuntut di setiap hatinya bagi para manusia, tentunya tak hanya mereka karena yang lain juga demikian, akan terpentok butuh. Bahkan tak jarang saat setelah usah pendidikan demikian pada tak ada yang saling bertemu kembali sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Bahkan terkadang mereka juga tak mengenal kalau pernah bareng dalam satu angkatan. Baru setelah mengenal ulang akan paham jika itu merupakan teman. Tentunya setelah berbagi kisah. Tapi disini mereka bareng diantara puluhan kelas, hanya mereka yang masih bisa berkumpul.
Dia sembari main balon yang di pakai untuk pesta sebagian sudah terpasang pada tiap sisi-sisi ruang dan di gantung pada bagian yang di hias.
Sebuah gambaran yang menarik dari dekorasi ruang yang sering mereka lakukan dahulu kala di sekolah dalam menjadi panitia serta membantu guru melakukan nya tiap ada kegiatan yang mesti di lakukan pada hari besar tiap saat. Jadi dalam setahun itu bisa berkali-kali mereka mengadakan kegiatan dalam suasana yang berbeda tentunya.
__ADS_1