Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 53


__ADS_3

“Wih indah nye.”


Sembari mengagumi pemandangan yang nampak dan sangat luas dari atas ketinggian begitu. Alam benar-benar tengah memanjakan mata. Kala itu. Jadi tak sia-sia demikian tinggi mendaki untuk menjangkau sesuatu yang melelahkan, tapi akhirnya mendapat apa yang diinginkan dengan begitu senang nya.


“Apalagi ada pulau di tengah kawah.“


“Mana ada pulau.“


“Ya ada lah. Kan ada telaga nya.“

__ADS_1


“Kawah apa telaga.“


“Itu air.“


“Ada pulau kalau ada dayung.“


“Jadi terlampaui begitu.“


Pulau itu hanya semacam daratan yang menyembul dari genangan air yang luas. Jadi membentuk pemandangan yang nampak seperti tanah yang seperti mereka pijak itu. Sedangkan sesungguhnya kalau di simak, maka banyak daratan yang melingkari air di dalam suatu wadah besar yang mengitarinya. Sehingga daerah itu seperti mangkuk saja yang tentu saja tidak sama di setiap sisi nya seperi piring betulan. Tapi kalau di pandang dari kejauhan bentukan seperti itu yang nampak jelas tergambar sebagai anugerah alam dalam membedakan antara yang satu dengan yang lain nya dan sebagai sebuah pemandangan indah yang pantas untuk di kagumi pada akhir nya. Sehingga begitu banyak orang yang tertarik mengunjunginya. Selain mereka, tentu saja ada yang dari luar daerah, luar kabupaten, bahkan dari luar wilayah yang kelihatan nya sangat jauh serta akan sulit di jangkau kalau hanya naik motor sendiri. Makanya perlu kendaraan yang canggih supaya perjalanan jauh menuju ke tempat indah demikian berjalan lancar serta rasanya sangat nikmat untuk selanjutnya ingin kembali ke sana lagi setelah melewat kan nya pada waktu yang berbeda.

__ADS_1


“Bangunan juga ada.“


“Mana?“


“Itu.“


“Mana ada bangunan di tengah kawah.“ Tentu kalau bangunan alami. Sebab semua itu mesti ada yang membangun, agar bisa terwujud. Jika bentukan alam, pasti Cuma semacam gundukan tanah, atau cekungan yang berikutnya menampung air dan apa yang nampak menonjol itu bagian dari sesuatu yang demikian saja tak terurai oleh cuaca ekstrim yang datang terus menerus dalam waktu yang tak pasti.


“La itu apa. Kalau tak percaya ayo kita dekati,“ kata Kintoko meyakinkan diri jika itu benar-benar bukan fatamorgana yang sangat indah namun menipu mata. Itu nyata. Dan bisa di datangi, walau lumayan sulit kalau memang hendak memaksakan diri ke sana.

__ADS_1


“Ogah. Sangat jauh. Tak bisa langsung turun ke arah sana. Mesti jalan memutar dan meniti tangga alam yang mestinya tak tertata secara rapi. Namun hanya sekedarnya saja asal bisa menuju ke arah tersebut. “ Makanya sangat heran juga bagaimana membawa bahan bangunan itu ke tempat tersebut. Dimana lokasi yang nampak demikian tak mendukung. Kalau dipanggul tentu akan kesulitan. Kalau menggunakan kendaraan pasti selain sulit juga perlu akses jalan yang mendukung agar bisa menempatkannya ke lokasi tersebut. Dan jika memang semuanya di buat di lokasi, pasti mesti ada peralatan pendukungnya juga serta mesti banyak waktu luang guna menyelesaikan suatu pekerjaan berat yang meti dikenakan padanya agar semuanya berjalan sesuai keinginan serta menjadi suatu hasil maksimal yang nampak seperti apa yang terlihat di kejauhan sana. Demikian besar nya kawah itu, sehingga apa yang di dalam nya sana, namak sebagai suatu yang kecil saja kalau dari titik ini. Sementara pada kenyataan nya di dalam sana bisa menampung beberapa orang yang tengah melakukan kegiatan, pasti nya.


__ADS_2