Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 24


__ADS_3

Saat tengah asik-asik nya duduk sambil ngenyot es plastik itulah, ada mobil datang mendekat.


“Heh, duda miskin.“


“Sembarangan. Kok tahu aku miskin,“ kata Kintoko yang tak enak rasanya di bilang begituan di depan orang-orang yang tak memperhatikan mereka. Di lingkungan tersebut banyak orang. Namun seakan tengah mengurusi diri sendiri dengan berbagai kepentingan nya yang memang heterogen itu.


“Itu. Minum begituan.“ Memang aneh. Namun minuman begitu sangat banyak di jual pada daerah yang banyak kerumunan orang. Dan pasti laku. Karena memang jika tak laku maka tak akan ada yang menjual lagi. Karena laku itulah banyak orang yang berjualan demikian hanya untuk keseharian nya biar lancar. Daripada jual yang aneh-aneh namun tak laku, sehingga hanya membuang uang saja rasa nya.


“Sembarangan. Ini bayar tahu! Mentang-mentang gua duda di bilang miskin.“

__ADS_1


“Ya iyalah, orang gua kaya, ya lu miskin,“ ujar cewek dengan mobil mewah tersebut. Ada miskin tentu ada kaya. Makanya di bilang miskin soalnya yang mengatakan si kaya. Padahal kaya dan miskin sama saja di mata orang... anjay.


“Huh... siapa lu?“ tanya Kintoko ingin kenalan. Dia tak nyaman kalau belum kenal. Mana ini kota besar. Banyak orang. Sebanyak itu pikiran mereka. Ada yang jahat. Banyak juga yang sangat baik. Sebab walau banyak orang yang ketahuan bersikap begitu, namun yang baik hati juga demikian bejibun. Sehingga kota banyak berisi orang baik. Sebut saja kalau daerah butuh membangun gedung, misal nya, maka banyak dana yang digelontorkan, dan itu sebagian besar dari orang-orang kota yang dikumpulkan oleh para perduli kemanusiaan dengan tenaga yang tersisa untuk kemudian memanfaatkannya bagi kepentingan orang-orang udik yang membutuhkan tersebut. Sehingga untuk beberapa waktu berikutnya sudah menjadi suatu bentuk nyata dari apa yang tengah mereka impikan itu. Juga kalau banyak orang terpinggirkan yang membutuhkan bahan makanan misalkan, walau di desa banyak yang punya beras dan padi karena asal mereka, tapi untuk lauk dan lain sebagainya di buat di pabrik, dan yang mampu beli duit dari kota. Makanya saat terjadi musibah, mereka ini yang dibantu dengan bahan-bahan pabrik yang awet itu.


“Gue Jasmine.“


“Pakai nama cowok.“


“Masa gitu. Di tempatku nama cowok itu.“

__ADS_1


“Masya.“


Kintoko melihat-lihat mobil yang dinaiki cewek Jasmine itu. Mobil sekarang bagus-bagus. Jelek sedikit saja langsung masuk ke laut. Karena tiap tahun para pengusaha kendaraan tersebut juga main inovasi sehingga selalu berbeda bentuk nya dari yang satu dengan yang lain pada setiap periode masa nya. Sehingga kalau pun sudah memiliki kendaraan tersebut berasa paling mewah, nyatanya beberapa waktu berikutnya sudah keluar lagi. Sehingga para peminat bakalan berpikir ulang untuk segera mengganti nya. Dan itu bukan dari perusahaan beda. Makanya di museum perusahaan tersebut bakalan banyak terparkir kendaraan mewah, sangat mewah dan mewah kali. Makanya enak yang punya mobil klasik. Tak tergiur dengan yang macam-macam begitu. Hanya satu saja dari tahun ke tahun.


“Ih, mobilnya bagus.“


“Apa? Mau ikut?“


“Boleh. “

__ADS_1


Langsung saja si Kintoko naik ke mobil yang aneh itu.


__ADS_2