Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 116


__ADS_3

”Ih...”


”Tapi lukamu,” Kintoko panik. Dia terus saja merembes darah yang sedikit menetes dari genggaman tangan yang berusaha menutup itu. Bagaimana tidak deras kalau terus saja mengalir dan belum ada perban untuk menutupnya.


”Ah sakit,” rintih jasmine. Tangannya benar-benar menekan sekuat tenaga supaya darah dari luka tersebut tak terus mengalir serta bisa mengurangi rasa yang semakin lama semakin parah. Sebab kalau di biarkan, maka sudah jelas, yang mengucur itu akan semakin deras saja. Serta bakalan membuat semakin parah saja nanti dengan kehabisan darah yang ada di tubuh serta bisa saja menjadikan mata berkunang-kunang, muka memuat serta kejadian aneh lain yang diakibatkan oleh satu hal yang memang sangat di takuti tersebut. Itulah salah satu usaha supaya sedikit bisa mengurangi keluarnya. Walau tidak bisa menutup sama sekali, karena tekanan dari dalam lebih besar serta pompaan jantung terus saj kuat, bahkan semakin kencang. Yang dapat membuat terus deras mengalir, serta sangat parah di buatnya. Itulah yang mesti di hindari serta harus melakukan pengobatan selanjutnya, bahkan kalau perlu menjahit dengan kuat seperti mengobras baju. Sehingga luka cepat tertutup dan darah bisa berhenti untuk terus mengalir dalam sirkulasi tubuh, dan tidak melulu keluar sehingga akan terkuras habis. Sehingga membutuhkan masukan darah segar lain dari luar yang dipakai buat mengganti apa yang hilang.

__ADS_1


”Wah bagaimana ini.” Bagaimana tidak sakit, kena senjata mahal begitu. Kena sentil sedikit saja sudah merasakan yang demikian. Atau kena tempeleng, maka akan menjerit. Ini lebih lebih. Jauh dari keinginan untuk kena. Apalagi kali ini jela mengalaminya. Namun bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Yang mesti dilakukan adalah mengurangi rasa sakit. Sebab kalau hilang sama sekali juga tak bisa. Walau itu pingsan tetap merasa. Dan yang mesti dilakukan segera adalah melanjutkan ke penyembuhan. Semua sudah terjadi. Sakit sudah ada. Sehingga untuk menghilangkannya mesti membuang rasa aneh itu. Dengan berbagai cara yang dapat dilakukan demi kesembuhan tadi.


Kintoko langsung saja merobek kain dan berusaha membantu menutup luka tersebut dengan robekan kain. Sebelum sampai pihak medis yang akan mengobati. Sebenarnya mesti kain yang steril. Sehingga kuman dan penyakit dari luar yang ada di kain kotor tak serta merta menelusup pada luka sehingga akan membuat luka baru di atas luka lama. Sebab kain tersebut bukan hal yang benar bersih. Mesti ada yang tersangkut di dirinya. Walau itu sedikit. Karena demikian kecil serta sangat mudahnya membuat mereka membiak, maka akan semakin banyak nantinya. Juga semakin cepatnya perkembangan biakan itu membuat yang tak kelihatan tersebut bisa berbahaya. Tetapi bagaimana lagi. Adanya itu. Ini sangat berbahaya. Sehingga dengan seadanya mesti di pergunakan supaya hal yang lebih parah bakalan bisa di kurangi serta mampu untuk menutup luka yang semakin lama semakin banyak saja yang keluar dari lubang menganga tersebut.


“Jangan mendekat.“

__ADS_1


“Gue bantu.“


“Kagak.“


Si Guntur hanya memberikan kira-kira apa saja yang di butuhkan untuk menutup keluarnya darah. Bagaimanapun dia tak tega kalau mesti melihat orang tersebut tewas di tempat itu. Makanya dia ingin terus berusaha supaya bisa membantunya. Walau tentu saja semua ada curiga dengan semua itu. Jangan-jangan malahan akan membuat kacau. Itulah makanya sedikit di larang.

__ADS_1


__ADS_2